ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 10


__ADS_3

Aku terbangun dari tidur ku dengan mata masih terasa berat, aku mengucek-ngucek mataku beberapa kali dengan pelan agar aku bisa melihat lebih jelas. Saat aku sudah bisa melihat dengan sempurna, aku sedikit kaget begitu menyadari kini diriku tengah berada di dalam dekapan seorang pria tampan. Aku berbaring di atas dada bidangnya, lalu aku memandang wajahnya yang masih terlelap dengan perasaan tak menentu. Mengingat kejadian tadi malam membuat ku merasa malu dan aku juga senyum-senyum sendiri bila mengingat hal itu. Aku menyingkirkan tangan kekar Mas Hendrick dengan hati-hati dari tubuh ku, aku harus segera membersihkan diri di kamar mandi.


Aku masuk ke kamar mandi dengan langkah kaki gontai, bagaimana tidak, aku merasa ada yang perih di bagian tubuh ku.


Cahaya pagi yang menyilaukan masuk menembus pentilasi.


***


''Non, biar kami saja,'' Bik Sumi berkata sungkan saat aku ikut bergabung bersama mereka di dapur. Aku akan membantu mereka untuk memasak menu sarapan pagi hari ini, aku merasa bosan kalau harus berada di dalam kamar terus, apalagi suami ku masih ada di dalam kamar, aku takut suamiku menerkam ku lagi.


''Tidak apa-apa Bik. Aku senang bisa membantu kalian,'' balas ku dengan senyum ramah. Aku sedang mengupas kulit bawang merah, mataku terasa sedikit perih karena nya.


''Tapi, nanti Tuan Hendrick marah sama kami Non.'' Bik Sumi berkata lagi dengan nada takut-takut. Beberapa orang pelayan yang berada di dekat kami mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Bik Sumi.

__ADS_1


''Tidak apa-apa. Nanti biar aku yang menjelaskan sama dia kalau dia marah sama kalian.'' Ucapku lagi. Dan setelah itu tak ada yang bersuara lagi, kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing.


''Non, apa Tuan Hendrick sudah bangun?'' tiba-tiba Jasmine menyusul aku di dapur lalu melempar tanya dengan ekspresi wajah nya yang datar.


''Em, tadi sih belum Jasmine. Emang kenapa?''


''Apa bisa bantu bangun kan, Non? Soalnya Tuan Hendrick biasanya selalu bangun pagi-pagi sekali, karena ia begitu sibuk dengan pekerjaan nya di kantor, jadwalnya selalu padat. Bukan apa-apa Non, takutnya nanti Tuan Hendrick murka saat mendapati dirinya bangun kesiangan,'' jelas Jasmine dengan wajah nya yang terlihat sedikit cemas dan takut.


''Baiklah. Kalau begitu aku ke kamar dulu,'' ucapku seraya mencuci tangan ku yang bau bawang di wastafel. Setelah itu aku berlalu dari dapur, lalu aku naik ke lantai atas menuju kamar Tuan Hendrick. Iya, hanya kamar Tuan Hendrick, karena aku tinggal di rumah ini hanya untuk sementara saja, besok saat masa kontrak ku sudah habis dan saat Tuan Hendrick sudah merasa bosan dengan ku, maka aku harus angkat kaki dari rumah ini.


''Sayang, kenapa kamu repot-repot sendiri, pelayan kan banyak di rumah ini. Kamu minta saja mereka yang mencuci sprai nya,'' sebuah suara sedikit mengagetkan aku. Karena terlalu fokus dengan sprai sehingga aku tidak menyadari kalau Mas Hendrick sudah keluar dari kamar mandi. Aroma shampo dan sabun mandi menguar menusuk indra. Suamiku terlihat sangat tampan dengan handuk yang melilit pinggang nya, perutnya yang sispack dan dadanya yang bidang semakin menambah ketampanannya.


''Em, biar aku sendiri saja yang mencucinya Mas. Soalnya malu karena ada noda di atas nya,'' aku berkata seraya menunjuk ke arah bercak darah yang terdapat pada sprai. Mas Hendrick tersenyum simpul saat aku berkata seperti itu.

__ADS_1


''Tidak apa-apa Sayang. Kamu tidak boleh kerja berat-berat, karena kamu harus menyimpan tenaga mu untuk nanti malam lagi. Sayang, terimakasih untuk tadi malam. Ternyata Mas tidak salah memilih, kamu benar-benar masih ori dan masih suci, Mas merasa begitu beruntung karena Mas merupakan orang pertama yang menyentuh mu. Zaman sekarang begitu sulit mencari wanita seperti mu Sayang.''


''Kamu bukannya mau ke kantor? Aku siapkan pakaian mu dulu ya,'' aku mengalihkan topik pembicaraan.


''Baiklah istri ku,'' Mas Hendrick berkata seraya mengecup pipi sebelah kiri ku, karena dirinya sedang berdiri di sisi kiri ku. Melihat perlakuan nya yang begitu manis terhadap diri ku, membuat aku merasa kalau aku adalah istri sungguhan nya. Setelah itu aku membuka lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati, lemari yang besar dengan ukiran yang indah. Aku memilih salah satu kemeja, jas, dasi dan celana yang akan di pakai oleh suamiku.


''Mas, apa boleh nanti siang aku ke rumah sakit?'' tanyaku saat aku sedang membantu Mas Hendrick memasangkan dasi, aku sedikit berjinjit karena tubuh suamiku yang tinggi.


''Boleh. Nanti sopir pribadi akan menemanimu mu Sayang,'' Mas Hendrick berkata seraya membelai rambut ku yang di kuncir asal.


''Aku bisa sendiri,''


''Tidak, sopir akan mengantarkan mu ke rumah sakit. Istri cantik Mas tidak boleh keluar sendiri, nanti kenapa-kenapa.'' Ucap Mas Hendrick tegas. Mas Hendrick merupakan tipekal pria yang tidak suka ucapannya di bantah. Aku pun akhirnya mengangguk kecil.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2