ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 16


__ADS_3

''Wanita yang mana? Apa kau sudah mengetahui kalau Mas sudah bertunangan Sayang?'' tanya Hendrick mengangkat kepalanya dari dada Raisa, lalu ia mendongak melihat wajah cantik Raisa.


''Iya,'' jawab Raisa singkat. Ia takut Hendrick marah kepadanya karena ia yang telah lancang melihat foto di dalam lemari pakaian Hendrick, selain itu ia juga telah lancang menguping pembicaraan Hendrick saat Hendrick sedang berbicara dengan seseorang di balkon.


''Hah, sudahlah, lupakan saja itu Sayang. Itu semua biar menjadi urusan Mas kedepannya, sekarang hanya kamu seorang istri Mas. Dan sekarang mari kita bersenang-senang,'' Hendrick tersenyum nakal menatap wajah Raisa.


''Tapi hati-hati ya,'' pinta Raisa, Raisa nyeri kemarin malam masih bisa ia rasa, tapi selain rasa nyeri yang ia rasa, ia juga merasakan sensasi aneh yang terasa begitu nikmat yang membuat nya tak bisa menolak saat sang suami meminta.


''Okey Sayang.''

__ADS_1


Setelah itu tak ada yang bersuara lagi. Raisa dan Hendrick terhanyut dalam permainan yang mereka lakukan, permainan yang panas dan bercucuran keringat. Hendrick merasa tubuh Raisa sudah menjadi candu tersendiri baginya. Ia begitu menikmati setiap sentuhan dan kecupan yang ia darat kan pada tubuh sang istri, serta suara lenguhan dan des*h*n yang keluar dari mulut sang istri seakan semakin memacu semangat nya dan menambah geloranya menjadi semakin berkobar.


***


Keesokan harinya, setelah sarapan pagi, Hendrick pamit kepada Raisa untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Raisa meminta izin kepada sang suami untuk menemui Yumna di rumah sakit. Tadi malam suster yang menjaga Yumna mengabari kalau Yumna sempat sesak dan kesulitan untuk bernafas. Tubuhnya yang tak sadarkan diri tiba-tiba mengejang hebat, tapi kejadian itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, setelah itu kondisi Yumna kembali normal, sehingga Raisa tidak perlu ke rumah sakit pada waktu dini hari, selain itu karena tadi malam Raisa merasa tubuhnya begitu lemas setelah sang suami bermain-main dengannya sebanyak tiga ronde. Ia merasa tak sanggup ke rumah sakit dengan tubuh yang begitu lemas.


Setelah tiba di dalam kamar, Raisa membaringkan tubuhnya sejenak, ''Ah, aku akan berbaring sebentar,'' ucap Raisa lagi. Raisa yang niatnya ingin berbaring sebentar, tanpa ia sadari tidak lama setelah itu ia telah tidur dengan begitu lelap. Suara dengkuran nya terdengar memenuhi kamar. Entahlah, biasanya ia selalu bisa menahan kantuk, tapi kali ini tidak.


***

__ADS_1


Di tempat berbeda, di rumah sakit di dalam ruangan VIP 1, seorang suster yang memakai pakaian serba putih terlihat begitu panik dengan ponsel berada di telinga nya. Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan berharap orang yang hubungi akan segera mengangkat panggilan dari nya. Tapi setelah mencoba beberapa kali, tetap saja orang yang ia hubungi tak kunjung mengangkat panggilan nya.


''Bagaimana, Sus?''


''Tidak di angkat, Dok,''


''Ya sudah, kalau begitu biar saya hubungi Tuan Hendrick saja,'' ucap Dokter dengan wajahnya yang sedih.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2