
"Wa'alaikum salam Zie"
"Ada apa mas?" tanya Zie dengan nada lembut.
Di tanya seperti itu membuat Langit kebingungan mau menjawab seperti apa, karena tadi dia hanya merasa khawatir dan ingin mengetahui keberadaan istri nya saja.
"Apa kamu sudah pulang Zie?" tanya Langit sembari menggaruk tengkuk leher nya yang dirasa tidak gatel karena sadar pertanyaan nya receh banget.
"Sudah mas, tadi sehabis menangani operasi aku langsung pulang karena memang aku tidak punya jadwal lagi" terang Zie.
"Eemm ... Zie...." Langit menjeda perkataan nya, ia menjadi salah tingkah sendiri di dalam mobil.
"Iya mas, ada apa?" terdengar suara Zie sedikit gelisah dari seberang sana.
Langit terdiam cukup lama, memikirkan apa yang akan ia sampaikan. Jujur, saat ini pertama kali Langit merasa dilema karena keselamatan seorang perempuan dan juga perasaan nya. la bingung mau mengucapkan kata apa dan yang terpenting saat ini ia merasa ingin memeluk dan membelai wajah istrinya yang cantik nan rupawan tersebut.
"Aku kangen sama kamu Zie, tunggu aku di rumah" kata itulah yang akhir nya terucap dari mulut Langit
__ADS_1
Perkataan Langit sukses membuat wajah Zie bersemu merah. Ia senyum-senyum sendiri menatap pantulan dirinya dari cermin karena Zie yang baru selesai mandi setelah berkutat dengan alat-alat serta bau menyengat dari obat yang terdapat di ruangan operasi.
"Ya sudah, buruan pulang Mas kalau begitu" Zie membekap mulutnya sendiri setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Di tempat lain, Langit begitu gembira mendengar ucapan Zie. Seketika hatinya merasa senang dan tenang setelah berkalut dengan rasa khawatir yang terlalu berlebihan.
"Baiklah! Tunggu aku di apartemen, jangan ke mana-mana. Kunci pintu apartemen, jangan di buka walaupun ada orang yang berkunjung" Langit memberondong perintah pada Zie.
Mendengar instruksi dari Langit membuat Zie menggeleng kepala lalu menutup sambungan telpon mereka. Zie mematut dirinya di depan cermin, sembari memikirkan apa yang di ucapkan oleh Langit barusan.
"Ada apa dengan Mas Langit malam ini? Tidak seperti biasanya, aneh banget Gumam Zie.
Tidak berselang lama, Langit pun datang. la langsung menuju lantai dua dan melangkah menuju kamar Zie, bukan kamar nya yang berada di sebelah kamar Zie.
Ya, memang selama ini mereka menempati kamar yang berbeda. Belum ada niatan untuk berbagi kamar dan berbagi tempat tidur, tapi entah sampai kapan mereka akan tetap seperti ini? Aku juga heran dengan jalan pikiran mereka. Mereka sudah sah menjadi suami istri, kenapa juga harus pisah kamar? Toh sudah halal jika mau ngapa-ngapain.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Langit langsung memutar knop pintu. Langit melihat suasana kamar Zie hanya di terangi oleh sinar lampu yang temaram.
__ADS_1
"Apa dia sudah tidur?" Tanya Langit dalam hati.
Lalu Langit melangkah masuk dengan pelan menuju tempat tidur Zie yang memiliki ukuran besar jika hanya untuk di tempati satu orang. Langit mendekat ke sisi ranjang lalu duduk di sisi ranjang tersebut.
Terlihat jelas oleh Langit, wajah istrinya yang tertidur pulas semakin terlihat lebih cantik meski tanpa make up yang menempel pada kulit wajah Zie.
Langit tersenyum melihat wajah Zie yang tertidur dan tanpa merasa terganggu meski ia membelai wajah istrinya itu.
"Apa kamu terlalu capek?" Gumam Langit seraya membelai hidung mancung milik Zie, Lalu berpindah ke bibir ranum yang membuat nya merasa candu akan rasa manis dari bibir itu.
Tatapan Langit kemudian turun ke bawah membenarkan selimut Zie yang hanya menutupi separuh bagian tubuh Zie.
Saat hendak mengangkat ke atas mata Langit tidak sengaja menemukan sebuah pemandangan yang indah di bawah sinar yang tidak terlalu terang.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1
...Terima kasih....