
Raisa membaringkan tubuhnya di atas kasur berukuran sedang, kasur yang jauh lebih kecil dari kasur di kamar Hendrick. Lalu setelah itu ia menangis sepuasnya, menumpahkan segala rasa sedih nya karena teringat akan Yumna dan juga karena hatinya merasa sakit saat melihat sang suami berpelukan sama wanita lain. Ia menangis terisak di bawah selimut, air matanya mengucur deras membasahi pipi begitu juga dengan ingusnya yang keluar perlahan dari hidung nya.
Sementara Raisa sedang menangis seorang diri di dalam kamar, pelayan lain sibuk berkutat di dapur, mereka memasak berbagai macam menu untuk hidangan makan malam. Mama Hendrick yang meminta mereka untuk memasak.
''Kamu kok terlihat sedikit kucel Sayang? Emang kamu dari mana saja?'' tanya Sonya, Mama nya Hendrick. Sekarang mereka masih duduk di ruang keluarga dengan segelas teh hangat yang menemani. Anggia bergelayut manja di lengan kekar Hendrick, hingga membuat Hendrick merasa sedikit risih.
''Tadi aku habis dari bantu-bantu pemakaman teman aku Ma,'' jawab Hendrick.
''What? Tumben sekali kamu turun langsung untuk bantu-bantu proses pemakaman, apa teman mu itu merupakan teman dekat mu Hendrick?'' kini sang papa yang bersuara, karena tidak biasanya Hendrick mau ikut membantu proses pemakaman.
''Iya, Pa.'' Jawab Hendrick singkat dan tak semangat. Karena dirinya dari tadi terus teringat akan sang istri.
''Siapa sih Sayang yang meninggal?'' tanya Anggia.
''Ada, kamu tidak mengenalinya,''
__ADS_1
''Hmm,''
''Apa makan malam nya sudah siap Tante? Soalnya setelah ini aku harus pulang, Mama terus saja menghubungi aku,'' ucap Anggia lagi seraya menunjukkan layar ponselnya yang terus menyala.
''Belum Sayang. Sepertinya sebentar lagi akan siap. Kamu bersabar lah sebentar,''
''Okey deh.''
Dan benar saja, tidak lama setelah itu Jasmine datang memberitahukan kalau makanan sudah siap, sudah di hidangkan di meja makan dan sudah siap untuk di santap.
''Kamu kenapa tak bersemangat begitu makan nya Sayang?'' tanya Sonya yang dari tadi terus menatap ke arah Hendrick.
''Aku tadi udah makan Ma, di rumah temen aku,''
''Oh, makan sedikit saja kalau begitu.''
__ADS_1
''Iya Ma,''
''Sayang, besok kamu temani aku jalan-jalan ya, soalnya aku udah lama banget tidak keliling Jakarta,'' ujar Anggia.
''Besok Mas harus kerja Honey,''
''Besok pekerjaan di kantor kamu serahkan dulu sama asisten pribadi kamu, aku rindu kamu Honey, aku ingin menghabiskan waktu seharian untuk jalan-jalan sama kamu,'' ucap Anggia lagi dengan ekspresi memelas.
''Benar Hendrick, kamu turuti apa yang diinginkan Anggia. Lagian kalian kan emang sudah lama tidak jalan berdua,'' kali ini Hendra yang bersuara, Hendra adalah nama Papa Hendrick. Hendra memang sangat menyayangi calon menantunya itu.
''Tauk nih Mas Hendrick,'' Anggia merenggut.
''Baiklah Honey,'' akhirnya Hendrick menuruti apa yang di inginkan Anggia.
''Nah begitu dong.'' Ujar Anggia lagi tersenyum sumringah.
__ADS_1
Bersambung.