
Setibanya Hendrick di rumah, Anggia langsung menyambut kedatangan sang tunangan dengan memeluk tubuh tegap nya. Ia berlari cepat lalu memeluk Hendrick erat.
''Sayang, aku kangen banget tauk,'' Anggia berkata dengan nada manja, kedua tangannya masih betah melingkar pada tubuh Hendrick. Hendrick merutuk di dalam hati, rasanya ia ingin melepaskan pelukan Anggia pada tubuhnya, tapi masih ia tahan, karena papa dan mama nya tengah menatap ke arah diri nya dan Anggia. Hendrick balas memeluk tubuh langsing Anggia dengan rasa dongkol bersarang di dada.
''Kamu kok diem aja sih? Kamu enggak kangen sama aku?'' Anggia berucap lagi seraya mendongak menatap wajah tampan sang kekasih, karena Hendrick tidak membalas perkataan nya tadi.
''Mas juga kangen Anggia. Hanya saja tubuh Mas terasa pegal dan cepek banget, rasanya Mas ingin segera beristirahat,'' Hendrick memberi alasan agar dirinya bisa jauh-jauh dari Anggia. Agar Anggia segera pulang.
''Kamu mau aku pijitin?'' tawar Anggia dengan senyum mengembang.
''Tidak usah,'' tolak Hendrick.
''Ada tawaran bagus dari wanita cantik kok kamu tolak sih Hendrick,'' Sonya bersuara. Hendrick melepaskan pelukan Anggia pada tubuhnya, lalu dirinya menyalami tangan mama dan papa nya.
''Nanti Anggia ikutan capek, Ma, karena harus memijit aku,''
''Ya enggak lah Sayang. Apa sih yang tidak untuk calon suami ku yang tampan ini.'' Anggia menggandeng tangan Hendrick, ia merebahkan kepalanya pada bahu sang kekasih.
''Ya sudah ayo kita masuk. Kamu tidak bawa oleh-oleh untuk kami Hendrick?'' tanya Sonya. Sedangkan Hendra dari tadi sibuk dengan ponselnya, karena dirinya sedang berbalas pesan dengan rekan kerjanya yang ada di luar negeri.
''Maaf, Ma, aku lupa, soalnya aku sibuk benget menangani pekerjaan yang ada di sana.'' Jawab Hendrick berbohong. Mereka berempat masuk ke dalam rumah dengan berjalan saling berdampingan.
__ADS_1
''Ya sudah tidak apa-apa.''
Setibanya di dalam rumah, Hendrick, Anggia, Sonya dan Hendra duduk di kursi meja makan. Mereka akan makan malam bersama, karena Hendrick memang baru sampai di Jakarta pada malam hari.
Anggia memasukkan nasi beserta lauk kedalam piring Hendrick, melihat itu, Hendrick jadi teringat dengan sang istri simpanan. Rasanya dirinya ingin sekali menghubungi Raisa, memberi kabar kalau dirinya sudah sampai di Jakarta, tapi saat ini kondisi nya tidak mengizinkan, karena Anggia yang terus duduk di samping dirinya.
Hendrick makan dengan tak bersemangat, tapi meskipun begitu makanan di piring nya habis juga.
Setelah selesai makan, Anggia tetap belum berniat ingin pulang, ia bahkan masuk ke kamar Hendrick, ucapannya tadi tidak main-main, dirinya memang akan memijit Hendrick.
''Lepaskan baju mu, Sayang.'' Anggia memberi perintah kepada Hendrick. Hendrick yang melihat Anggia terus mengintili nya merasa risih.
''Anggia, tidak enak sama Mama dan Papa.'' Tolak Hendrick.
''Tuh, apa kata Mama mu. Kamu kok dikasih yang enak-enak malah nolak.'' Anggia menjawil hidung mancung sang kekasih.
''Baiklah.'' Akhirnya Hendrick mengalah, ia melepaskan pakaian bagian atasnya dengan berat hati, setelah itu ia berbaring menelungkup di atas kasur, dan Anggia dengan bersemangat memijit punggung nya.
Pijitan tangan Anggia lumayan enak, hingga tanpa Hendrick sadari ia terlelap.
''Mas,'' panggil Anggia sambil mengguncang kecil tubuh Hendrick.
__ADS_1
''Udah tidur dia, mungkin keenakan dianya,'' Sonya bersuara dengan senyum simpul yang terbit di wajahnya.
''Iya deh kayaknya, Tan. Tadi sok-sokan enggak boleh aku pijitin.'' Anggia tersenyum dan menggeleng kecil. Ia mengelus-elus punggung Hendrick dengan lembut, dari atas hingga ke bawah.
''Anak Tante itu memang sok jual mahal. Beruntung banget kamu dapat memiliki nya Anggia.'' Ucap Sonya membanggakan Hendrick.
''Iya, Tan.''
Saat dua wanita itu tengah mengobrol, tiba-tiba saja ponsel Hendrick yang ada di atas nakas berdering nyaring.
Anggia yang merasa penasaran siapakah gerangan yang menelpon sang tunangan pada malam hari lalu mengambil ponsel itu, begitu ponsel itu sudah berada di tangan nya, ia menatap layar ponsel dengan kening berkerut, mata menyipit.
''My wife,'' lirih Anggia berucap dengan degup di dada mendadak berdebar hebat.
''My wife siapa, Sayang?'' tanya Sonya. Sonya pun melihat layar ponsel Hendrick. Hanya tertulis nama my wife saja, Hendrick tidak memasang foto di sana.
''Ini, Tante. Kenapa nama orang yang menghubungi Mas Hendrick di tulis oleh Mas Hendrick dengan my wife?'' gemetar Anggia berucap dengan dada terasa sesak.
"Coba kamu angkat Anggia,'' perintah Sonya. Sonya pun merasa penasaran dengan sang penelepon.
''Iya, Tante.'' Dengan tangan gemetar Anggia mengangkat telepon tersebut. Begitu panggilan sudah terhubung, ia menyalakan speaker, agar Sonya juga bisa mendengar.
__ADS_1
''Hallo, Mas. Kamu sudah sampai Jakarta? Kenapa kamu tidak mengabari aku?'' Raisa berucap dengan nada suara terdengar cemas. Mendengar suara Raisa, dua orang wanita itu merasa tidak percaya. Netra Anggia berkaca-kaca, ia tidak menyangka Hendrick tega mengkhianati nya., Sedangkan Sonya merasa begitu geram, Sonya tidak tega melihat Anggia terluka. Sonya berjanji akan mencari wanita yang menjadi simpanan Hendrick, ia akan memberikan pelajaran kepada wanita itu. Sampai ke ujung dunia pun akan dia cari sang penelepon itu. Begitulah pikir nya.
Bersambung.