ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Zie 99


__ADS_3

Belum sempat langit menjawab pertanyaan dari bunda Yasmin, ponsel Langit berbunyi.


Kring.. kring..


"Ada apa?" Ucap Langit.


"Saya mendapatkan informasi mengenai nyonya Zie, jika semalam nyonya Zie menginap di rumah teman nya yang bernama Sindy"


"Kirim alamat nya dan saya akan segera kesana" perintah Langit.


Setelah mendapatkan alamat rumah Sindy, Langit langsung bergegas menuju kesana.


"Saya pamit jemput Zie ke rumah teman nya dulu yah bun" pamit Langit seraya mencium punggung tangan kedua mertua nya.


Langit melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi dan berharap Zie masih berada disana, dan sesampai nya disana Langit langsung turun dari mobil nya dan berjalan masuk ke halaman rumah Sindy.


Tok.. tok.. tok..


"Iya?" Jawab ART rumah Sindy seraya membuka pintu.


"Apa benar ini rumah Sindy? Tolong sampaikan saya sedang mencari nya!" Ucap Langit.

__ADS_1


"Baik tuan, silahkan duduk saya panggilkan nona Sindy terlebih dahulu" jawab ART Sindy.


Sindy pun turun ke bawah, ia penasaran siapa yang berkunjung ke rumah nya dan sang ART nya mengatakan yang datang adalah seorang lelaki tampan dan lelaki itu sedang mencari nya.


"Tuan" panggil Sindy dari belakang dan Langit pun menoleh ke arah nya.


"Sindy, apakah istri ku masih berada disini?" Tanya Langit dengan terus terang.


"Maksud nya Zie?" Tanya Sindy balik.


"Iya, apakah dia masih disini?" Tanya Langit lagi namun Sindy tak kunjung menjawab, Sindy malah diam saja dan melamun menatap Langit dengan intens.


"Baru pertama kali nya aku melihat Langit Bagaskara secara langsung dan ternyata dia sangat lah tampan dan seksi. Jika harus menjadi pengantin pengganti namun yang ku dapatkan model seperti ini, aku pasti sangat mau" batin Sindy.


"Eh iya maaf maaf, Zie sudah pulang dari tadi pagi tuan" jawab Sindy.


"Apa kau yakin? Zie tidak ada di rumah" tanya Langit seraya menatap tajam Sindy.


"Iya aku yakin, anda bisa mengecek nya ke kamar saya jika tidak percaya" jawab Sindy meyakinkan Langit.


"Baiklah, aku percaya. Terima kasih" ucap Langit lalu ia langsung pergi begitu saja bahkan Sindy belum menjawab ucapan nya.

__ADS_1


Langit sangat frustasi dengan keberadaan Zie yang tak kunjung di temukan, ia juga bingung harus mengatakan apa jika ayah dan bunda Zie bertanya pada nya mengenai putri nya.


"Ah sial, aku memang lelaki tak berguna" teriak Langit yang mengatai diri nya sendiri seraya memukul-mukul kepala dengan tangan nya sendiri.


"Kamu dimana sayang, ini semua salah paham. Maaf kan aku" teriak Langit lagi, dan tanpa sengaja ia meneteskan air mata. Air mata yang tak pernah keluar sejak ia sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa, namun air mata itu tak sengaja menetes ketika ia merasa sudah kehilangan istri nya itu karena kesalahan nya.


Kring.. kring.. kring...


Telepon rumah keluarga Wijaya pun berdering, bunda Yasmin pun segera mengangkat nya dan berharap itu sang putri nya.


"Halo" ucap bunda pada orang di sebrang sana.


"Halo bunda" jawab Zie dengan suara lirih karena menahan isak tangis nya, ya benar Zie lah yang menelepon sang bunda dengan telepon rumah disana.


"Zie? Sayang? Kamu dimana nak?" Tanya bunda Yasmin dan reflek bunda menangis lega karena telah mendapat kabar dari anak nya.


"Zie di rumah Oma sama Opa, jadi bunda sama ayah nggak usah khawatir ya karena Zie baik-baik aja kok. Zie masih pengen disini dulu nggak apa-apa kan?" ucap Zie.


"Iya nak nggak apa-apa, syukurlah kalau kamu disana dan baik-baik aja sayang" jawab bunda, namun tiba-tiba sambungan telepon di matikan oleh Zie secara sepihak.


"Halo.. sayang.. Zie.." panggil bunda saat telepon telah di matikan

__ADS_1


Zie mematikan sambungan telepon nya karena ia tidak kuat mendengar suara bunda nya yang ternyata sangat khawatir padanya. Ia sangat merasa bersalah akan hal ini karena ia tidak berpikir terlalu panjang sebelum bertindak.


...Rasa sayang yang begitu dalam...


__ADS_2