
Langit menepuk-nepuk bahu Zie dengan pelan, sebisa mungkin memberi kenyamanan pada wanita yang sekarang menjadi istrinya itu.
Mendapat perlakuan yang lembut dari suaminya, membuat Zie semakin kencang tangisannya. Ia sedih sekaligus bersyukur, karena suaminya ini juga bisa bersikap lembut pada kondisi yang tepat.
Zie menangis di dekapan Langit hingga ia merasa lelah kemudian tertidur di dekapan Langit. Langit yang merasa tidak ada suara isakan lagi dari Zie, ia menunduk menatap lekat wajah yang sembab itu.
"Ternyata kau begitu rapuh, tidak setegar yang kau perlihatkan selama ini saat melawanku. Aku berjanji akan membahagiakanmu selamanya, dan aku nggak akan melepaskanmu walau kau sendiri yang meminta" Batin Langit.
Ia menyibak rambut panjang Zie yang menutupi wajahnya, lalu ia selipkan ke belakang daun telinga Zie.
Saat Langit hendak mencium Zie yang sedang terlelap di pangkuannya, terdengar nada ponsel miliknya. la mendengus kesal lalu menjawab telpon dari Edwin.
"Apa" Langit mendengus kesal.
"Woi, sabar bro! Harusnya yang marah itu gue bukan elo!" kesal Edwin dari sebrang sana. Harusnya dialah yang marah bukan Langit.
__ADS_1
"Ada apa? Aku nggak punya banyak waktu!"
"Tunggu! Dari nada bicara lo, apa gue ganggu acara asyik-asyik lo?" tebakan Edwin sedikit meleset.
"Ada apa, buruan?" Langit ingin segera mematikan sambungan telepon mereka.
"Kalau lo lupa, siapa kemarin yang telpon gue ngajak untuk ketemuan? Gue nunggu di sini dah jamuran, tau!" ujar Edwin terdengar kesal.
"Gue lupa. Gini aja, lo buang surat perjanjian yang kemarin dan lo buat lagi yang baru isinya Zie tidak akan bisa minta cerai dan akan selamanya terikat sama gue. Masalah tandatangan nya nanti gue yang akan buat tanda tangan sendiri"
"Dasar, udah bucin lo!" umpat Edwin dari seberang sana. Tentu saja tidak terdengar oleh Langit karena dia sudah mematikan sambungan telpon mereka.
Setelah sampai apartemen, Langit menggendong Zie masuk ke dalam apartemen karena dia masih tertidur dengan pulas dan Langit tidak tega untuk membangunkannya.
Langit tidak membawa Zie ke kamar Zie sendiri, melainkan membawa Zie ke kamarnya. Ia rebahkan dengan pelan tubuh Zie ke ranjang super empuk miliknya.
__ADS_1
la melepas sepatu serta jaket yang di pakai Zie dengan pelan, karena tidak mau si empunya terbangun. Langit membelai wajah cantik Zie yang alami meskipun sembab.
"Aku nggak akan membiarkanmu menangis lagi, ini terakhir kalinya kau menangis dan jangan berharap aku akan melepasmu setelah ini. Tunggu aku menyelesaikan masalahku dengan Winda, baru kita akan pindah ke mansion ku. Kau begitu cepat membuatku melupakan Winda dan hanya mampu memusatkan pikiranku padamu seorang, kau harus bertanggung jawab akan hal ini istriku" bisik Langit dengan suara yang lirih.
Lalu ia mengecup dengan lembut bibir Zie tanpa membuatnya terbangun.
Langit merebahkan tubuhnya di samping Zie, sebelumnya ia telah membersihkan badannya terlebih dulu. Kini ia hanya menggunakan celana boxer dan bertelanjang dada, inilah kebiasaan saat Langit tidur.
Langit masuk ke dalam selimut yang sama dengan Zie, lalu menarik tubuh Zie ke dalam dekapannya. Wajahnya ia serukan ke ceruk leher Zie, menghirup puas aroma wangi alami tubuh istrinya itu.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
...Jangan lupa like dan vote...
__ADS_1