ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 36


__ADS_3

Raisa telah sampai di kontrakan nya, begitu sampai di dalam kontrakan, ia langsung mengunci pintu dari dalam. Sebelum nya tadi ia sudah melambaikan tangan melepaskan kepergian Imam yang telah mengantarkannya ke kontrakan dengan suka rela.


Raisa langsung berkemas, ia memasukkan beberapa surat berharga dan benda berharga ke dalam tas punggung yang lumayan besar, rencananya Raisa akan kembali ke kampung halamannya, karena ia merasa dirinya tidak akan aman kalau harus tinggal di kontrakan. Sudah pasti Hendrick akan mencarinya ke kontrakan dan mengajak dirinya ikut kembali dengannya, sementara Raisa tahu, Hendrick sudah mempunyai tunangan dan Raisa tidak mau menjadi orang ketiga dengan menyakiti hati perempuan lain karena kehadiran nya.


''Biarlah. Biar aku besarkan janin yang ada di perut aku ini sendiri. Aku tidak mau merepotkan siapa-siapa lagi. Aku tidak mau merepotkan Mas Hendrick, Mas Imam dan yang lainnya. Lebih baik aku kembali ke kampung halaman ku dan aku akan hidup dengan tenang di sana, akan aku buat perhitungan dengan Tante Lita dan anak-anak, karena mereka sudah berani mengambil hak aku dan Yumna. Gara-gara Tante Lita aku bisa berada di Jakarta, dan gara-gara Tante Lita Yumna bisa meninggal di Jakarta dan gara-gara Tante Lita juga aku harus mengenal Mas Hendrick dan menikah siri dengannya.'' Ucap Raisa di dalam hati. Setelah itu ia keluar lagi dari kontaran, ia berjalan dengan langkah kaki lebar menuju makam Yumna, karena sebelum pulang kampung ia ingin mengunjungi makam Yumna terlebih dahulu. Untungnya di area kontrakan nya warga sekitar tidak ada yang melihat kepergian, sehingga Raisa tidak perlu menyiapkan jawaban kalau-kalau mereka bertanya Raisa akan pergi ke mana.


Setelah berjalan kaki cukup jauh, akhirnya Raisa tiba di makam Yumna, ia langsung duduk di depan gundukan tanah yang masih basah, lalu ia mengirimkan doa untuk sang adik, dengan air mata yang lagi-lagi begitu sulit untuk ia bendung.


''Kakak pulang dulu, Dek. Kakak janji, Kakak akan merebut kembali apa yang menjadi hak dan milik kita. Kamu yang tenang, ya, di rumah baru mu.'' Ucap Raisa lirih dengan tangan mengelus gundukan tanah. Setelah itu ia bangkit dan ia hendak berjalan lagi menuju jalan raya. Namun, saat Raisa membalikkan tubuhnya, ia merasa kaget luar biasa melihat siapa yang sudah berdiri di belakangnya.


''M-mas ....,'' Raisa berkata terbata sambil menggeleng kecil.

__ADS_1


''Sayang, kamu kenapa pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Mas? Mas sangat mengkhawatirkan kamu dan calon bayi kita,'' Hendrick berkata dengan lembut, ia berjalan perlahan menghampiri tubuh Raisa yang masih diam di tempat.


''Mas, lebih baik kamu pulang sekarang. Sudah lupakan aku! Ayo sekarang kamu jatuhkan talak mu padaku! Aku tidak mau menyakiti siapa-siapa karena kehadiran aku!'' Raisa berkata tegas dengan tubuh berguncang.


''Tidak Sayang. Sampai kapanpun Mas tidak akan menjatuhkan talak kepadamu. Cuma kamu wanita yang Mas cintai, dan cuma kamu yang pantas mendampingi Mas,'' kini, Hendrick sudah berdiri tepat di depan Raisa dengan jarak begitu dekat.


''Lalu Anggia? Dia itu sudah lebih dulu mengenali mu, dia lebih berhak menjadi pendamping mu. Dan orang tuamu juga, mereka tidak menyukaiku, karena terlalu banyak perbedaan di antara kita. Begitu banyak rintangan di dalam hubungan kita ini, Mas. Aku rasa aku tidak mungkin tetap bertahan dengan mu,''


''Tidak. Aku tidak mau pulang lagi kerumah itu. Aku mau pulang ke kampung halaman aku saja.'' Raisa menepis tangan Hendrick, lalu ia berjalan lebih dulu meninggalkan Hendrick. Hendrick mengikuti langkah nya dari belakang.


''Baiklah, kemana? Biar Mas antar dan temani?''

__ADS_1


''Aku bisa sendiri!'' tolak Raisa.


''Mas yang akan menemani kamu. Kamu jangan keras kepala Raisa. Kamu itu wanita dan tidak bagus bagi wanita muda seperti mu jalan sendirian,'' ucap Hendrick tegas. Mendengar itu, Raisa menghentikan langkahnya, lalu ia berkata lagi kepada sang suami.


''Kamu beneran ingin mengantar dan menemani aku pulang ke kampung halaman aku?'' tanya Raisa.


''Iya Sayang. Apapun akan Mas lakukan untukmu.''


''Kalau begitu aku setuju. Asalkan kamu mau membantu aku merebut kembali harta Ibu dan Ayah ku yang telah di ambil manusia-manusia rakus.''


''Apapun akan Mas lakukan untukmu, termasuk melenyapkan manusia-manusia rakus yang kamu maksud itu Sayang.'' Hendrick berucap yakin, setelah itu ia memeluk tubuh Raisa. Raisa hanya diam di peluk oleh sang suami. Entah mengapa rasanya begitu nyaman saat sang suami memeluk tubuh nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2