
''Non Raisa yang kuat dan sabar ya, Non,'' Jasmine berusaha untuk menenangkan Raisa yang terus menangis terisak di dalam kamar mandi pelayan. Jasmine membelai punggung Raisa, gemericik air yang turun dari keran menyamarkan suara tangis Raisa, hingga tangisnya tak terdengar hingga keluar. Raisa sengaja menghidupkan keran.
''Rasanya aku ingin pergi saja dari rumah ini, Jasmine.'' Raisa berkata sambil tersedu-sedu dengan keputusasaannya.
''Jangan dulu, Non. Tuan Hendrick pasti akan memperjuangkan Non Raisa.''
''Tapi kedua orangtuanya membenci aku Jasmine. Apa orang miskin seperti aku ini tidak pantas mendampingi orang kaya raya seperti mereka.'' Raisa meracau menyampaikan unek-unek nya kepada Jasmine. Selama kenal dengan Jasmine, ia percaya kalau Jasmine adalah orang yang baik.
''Mereka belum mengenali Non Raisa sepenuhnya. Mereka baru bertemu sama Non Raisa hari ini, jadi bersabar lah, Non dan berusaha lah untuk mendapatkan hati mereka,''
''Iya, Jasmine. Terimakasih karena kamu sudah mau berteman sama aku, selama aku tinggal di sini kamu sudah memperlakukan aku dengan sangat baik,''
__ADS_1
''Karena aku tahu Non Raisa itu adalah orang baik. Dan aku juga merasa senang Tuan Hendrick menikah dengan wanita baik seperti Non. Non Raisa tidak pernah sungkan berbaur sama pelayan seperti kami. Berbeda sama Non Anggia, selama ini aku tidak pernah suka melihat dirinya, Anggi itu wanita yang angkuh dan sombong.''
''Sebelumnya Anggia sudah sering ke sini?'' tanya Raisa.
''Em iya Non. Tuan Hendrick kan udah hampir dua tahun bertunangan sama Non Anggia, tapi setahu aku Non Anggia lebih sering menghabiskan waktunya di luar negeri, ia hanya sesekali saja pulang ke Indonesia,'' Jasmine menjelaskan kepada Raisa tentang Anggia, ia menjelaskan apa yang ia tahu.
''Dia cantik ya,'' ucap Raisa, kini tangisnya sudah reda. Ia dan Jasmine berdiri dengan saling berdampingan menghadap cermin kamar mandi.
''Kamu bisa saja Jasmine.''
''Aku bicara jujur Non. Ya sudah kalau begitu ayo kita keluar, nanti Nyonya dan Tuan besar marah sama kita karena pekerjaan kita masih ada yang belum selesai,''
__ADS_1
''Em ya sudah.'' Raisa membasuh wajahnya beberapa kali menggunakan air yang keluar dari keran, setelah itu ia dan Jasmine berjalan beriringan keluar dari kamar mandi. Setibanya di luar, Jasmine yang merupakan ketua pelayan mengawasi pelayan lain yang sedang bekerja. Sedangkan Raisa berjalan keluar rumah, ia berjalan ke taman samping rumah, ia akan menyapu daun-daun kering yang sudah bertaburan di taman. Daun-daun yang berasal dari daun mangga dan daun bunga-bunga yang ada di taman.
Raisa mulai menyapu daun-daun kering dengan bersemangat, ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, karena nanti siang rencananya ia akan mengunjungi makam Yumna. Raisa menatap ke halaman depan rumah, di halaman depan ia melihat mobil sang suami masih terparkir, ''Kok Mas Hendrick belum berangkat juga ke kantor, padahal sekarang udah hampir siang.'' Raisa berkata di dalam hati. Setelah itu ia melanjutkan lagi pekerjaan nya. Keringat mulai membasahi keningnya, sesekali ia menghapus keringat dengan punggung tangan.
''Duh, taman ini lumayan luas juga,'' gumam Raisa lirih seraya menarik dan menghembuskan nafas. Ia merasa kepalanya sedikit pusing dengan pandangan berkunang-kunang. Raisa lalu memilih duduk di bangku taman untuk sementara, nanti saat tubuhnya sudah merasa mendingan baru ia akan melanjutkan menyapu lagi.
Setelah beberapa detik Raisa duduk di bangku taman, ia melihat sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di sebelah mobil sang suami, dan setelah itu, sang pemilik mobil keluar dari dalam mobil, ternyata mobil itu milik Anggia. Saat Raisa tahu kalau orang itu adalah Anggia, ia merasa begitu pilu, Anggia pasti ingin bertemu dengan Mas Hendrick. Pikirnya. Dan benar saja, beberapa saat setelah itu, ia melihat lagi Anggia dan Hendrick berjalan keluar rumah menuju mobil. Anggia menggandeng tangan Hendrick dengan begitu mesra, setelah itu mereka masuk ke dalam mobil yang sama. Melihat itu, netra Raisa mendadak berkaca-kaca dengan dada terasa sesak.
''Ternyata kamu sudah membohongi aku, Mas. Kata kamu tadi, kamu akan bekerja, tapi ... Ternyata kamu mau pergi berdua bersama Anggia. Sepertinya kamu sudah tidak menginginkan aku lagi, lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Aku akan melanjutkan hidup ku sendiri tanpa kehadiran mu. Berbahagialah dengan Anggia, aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian. Kalau aku masih berada di rumah ini, aku akan sering merasakan sakit saat melihat kamu dan Anggia yang begitu mesra, selain itu aku juga akan merasakan sakit karena perlakuan kedua orang tuamu. Aku lebih memilih tinggal di rumah sederhana tapi terasa nyaman daripada aku tinggal di rumah megah dan mewah tapi aku merasa tertekan.'' Gumam Raisa, setelah itu ia masuk ke dalam rumah, ia meninggalkan pekerjaan nya yang belum selesai begitu saja. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah Hendrick dengan cara diam-diam.
Ia tahu Hendrick sudah memberikan nya uang yang cukup banyak, tapi menurut nya semua itu setimpal dengan kesuciannya yang telah direnggut oleh Hendrick. Untuk soal surat kontrak, Raisa tak mau ambil pusing, lagian itu hanya selembar kertas. Pikirnya.
__ADS_1
Bersambung.