
Mas Hendrick pamit berangkat ke kantor setelah ia menghabiskan sarapan paginya. Ia makan dengan begitu lahap, karena katanya sarapan pagi kali ini merupakan sarapan pagi yang spesial, karena ia makan di meja makan tidak sendiri seperti biasa, ada aku yang menemani dan memasukkan nasi ke dalam piring nya. Sebenarnya aku masih merasa penasaran sama keluarga besar Mas Hendrick dan yang paling membuat ku merasa penasaran adalah tentang kisah asmara Tuan Hendrick. Tadi saat aku mengambil pakaian suami ku di dalam lemari, aku tidak sengaja melihat foto berukuran dua puluh r tergeletak asal di dalam lemari bagian bawah. Kalau aku tidak salah lihat, foto itu seperti foto Mas Hendrick bersama seorang wanita yang teramat cantik.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk melihat foto itu lagi, aku masuk ke dalam kamar lalu aku mulai membuka pintu lemari, untungnya pintu lemari tidak di kunci oleh Mas Hendrick. Begitu pintu lemari sudah terbuka, aku mengambil foto tanpa bingkai tersebut, aku menatap foto itu dan benar saja, foto itu benaran foto Mas Hendrick bersama seorang wanita. Tidak hanya satu, ternyata di bawah nya masih terdapat beberapa foto lainnya, aku lalu mulai melihat-lihat nya satu persatu.
''Mas Hendrick dan wanita ini sudah bertunangan? Ah ... Apa-apaan ini! Aku, tidak, aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang,'' gumamku saat aku melihat foto Mas Hendrick dan wanita cantik itu sedang bertukar cincin.
''Tapi, ini bukan salahku, aku melakukan ini semua karena adikku. Mas Hendrick sendiri yang menawarkan diriku untuk menjadi istri simpanan nya.'' Aku bergumam lagi. Lalu setelah itu aku menyimpan kembali foto-foto tersebut ke dalam lemari. Aku tidak ingin terlalu memikirkan sesuatu yang bisa membuat aku stres. Lagian pernikahan aku dan Mas Hendrick hanyalah pernikahan siri. Mas Hendrick hanya ingin bersenang-senang dengan ku, dan wanita yang ada di foto adalah wanita yang benar-benar ia cintai dan pastinya juga merupakan wanita yang akan menjadi istri sungguhan nya. Mereka nampak serasi. Dan aku yakin pasti wanita itu juga merupakan wanita dari keluarga terpandang dan pastinya juga terpelajar dan berpendidikan, ia pantas mendampingi Mas Hendrick dalam hal apapun. Tidak seperti aku. Aku hanyalah wanita kampung yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Aku tidak boleh berharap banyak pada Mas Hendrick. Aku harus sadar dengan posisi ku. Aku harus menekan perasaan ku dalam-dalam. Aku tidak boleh melibatkan perasaan dalam hubungan ini.
***
Siang harinya, aku mengunjungi Yumna di rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, kondisi Yumna masih sama seperti kemarin, masih terbaring tak sadarkan diri di atas brankar dengan tubuh yang semakin kurus.
''Siapa namamu? Kamu Kakaknya Yumna ya?'' sang suster yang menjaga Yumna menyapa ku ramah. Usianya seperti lebih tua tiga tahun dari ku.
__ADS_1
''Nama ku Raisa. Nama kamu sendiri siapa? Oh ya, terimakasih banyak ya karena kamu sudah menjaga Yumna selama dua puluh empat jam penuh,'' balas ku dengan senyum simpul.
''Perkenalkan namaku Desi. Senang bisa berkenalan dengan mu Raisa. Iya, ini sudah menjadi tugas ku. Insya Allah aku akan menjaga Yumna dengan baik.''
''Sekali lagi terimakasih banyak Desi.'' Aku berkata lagi. Setelah itu aku dan Desi mengobrol panjang lebar selayak nya teman dekat.
***
''Ini Bu, aku bayar untuk lima bulan penuh,'' ucapku seraya memberikan uang kontaran kepada sang pemilik kontrakan. Wanita yang bertubuh gemuk itu mengambil uang yang aku berikan dengan cepat di sertai senyum di wajahnya yang mengembang. Kami tengah berdiri di teras di depan kontaran yang aku huni.
''Nah begitu dong. Berarti yang dua bulan udah lunas dan ini nambah untuk lima bulan kedepannya lagi?''
''Iya. Jangan berikan kontrakan ini kepada orang lain ya, Bu,''
__ADS_1
''Iya. Pokoknya kalau udah ada pulus semuanya beres,''
''Ya udah kalau begitu aku masuk dulu,''
''Eh tunggu dulu Raisa. Ibu mau tanya, emangnya Yumna di mana dan tadi malam kamu di mana? Kenapa lampu teras tidak kamu nyalakan?''
''Aku ada kok Bu,'' jawabku berusaha menghindar dari pertanyaan selanjutnya lagi. Karena aku tahu Ibu pemilik kontrakan merupakan tipekal wanita yang kepo dan selalu ingin tahu urusan orang lain. Setelah itu ia pergi meninggalkan aku. Selepas kepergian Ibu kontrakan, aku membuka pintu dengan kunci yang aku bawa. Saat aku sedang membuka pintu, aku mendengar suara seorang pria memanggil diri ku.
''Raisa,'' ucapnya dan aku menoleh ke arah sumber suara.
''Mas Imam,'' sahutku.
Bersambung.
__ADS_1