
''Kamu tolong awasi Raisa terus, ya. Jangan sampai dia kabur dari rumah ini, dan juga kamu temani dia selalu saat dia lagi bersedih, hibur dia.'' Hendrick memberi titah kepada Jasmine. Sekarang mereka berdua tengah berada di dekat kamar pelayan. Sebelum pergi bersama Anggia, Hendrick ingin memastikan kalau sang istri selalu aman dan selalu nyaman berada di rumah.
''Baik Tuan. Tapi Tuan, aku kasihan melihat Non Raisa, sepertinya ia begitu tertekan dengan situasi saat ini.'' Jasmine berkata sedikit takut-takut, ia mengatakan apa yang dirasakan Raisa saat ini.
''Kamu jangan ikut campur. Semua ini biar menjadi urusan saya. Tugas kamu hanya menjaga Raisa. Dan kalau Mama dan Papa berbuat yang tidak-tidak dengannya saat saya tidak ada di rumah, kamu hubungi saya segera.'' Lagi, Hendrick berkata dengan ekspresi wajahnya yang datar. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, begitulah Hendrick, kalau lagi bersama orang lain ia terlihat angkuh, tapi kalau lagi bersama Raisa, ia begitu manja dan menjadi dirinya apa adanya.
''Baik Tuan.'' Jasmine mengangguk kecil.
Setelah mendengar jawaban dari mulut Jasmine, Hendrick berlalu dari hadapan Jasmine, ia berjalan ke depan untuk menemui Anggia yang tengah menunggu diri nya di ruang tamu.
''Sayang, kita pergi pakai mobil aku saja, ya,'' Anggia berucap manja kepada Hendrick saat Hendrick sudah berada di sisinya.
''Baiklah.'' Sahut Hendrick. Setelah itu Anggia dan Hendrick pamit kepada Sonya dan Hendra, mereka akan pergi jalan-jalan sesuai dengan apa yang diinginkan Anggia.
Anggia terus saja menggandeng tangan kekar Hendrick, hingga saat tiba di teras rumah, Hendrick mencoba melepaskan pegangan tangan Anggia dari tangan kekarnya, tapi tidak bisa. Hendrick takut Raisa melihat dirinya dan Anggia yang begitu mesra, karena Hendrick bisa melihat sang istri tengah duduk di bangku taman sambil memandang ke arahnya. Sorot mata sang istri nampak sendu, hal itu membuat Hendrick merasa bersalah.
__ADS_1
''Kamu kenapa sih, Sayang? Kenapa tadi kamu menepis tangan aku?'' protes Anggia. Saat ini dirinya dan Hendrick sudah duduk di dalam mobil.
''Maaf, tadi pegangan tangan kamu terlalu erat di lengan Mas, makanya Mas merasa sedikit kesakitan terkena kuku panjang mu,'' Hendrick berkata berbohong.
''Hehe maaf deh Sayang. Aku kira kenapa tadi.'' Anggia berucap sedikit cengengesan.
''Kemana tujuan kita kali ini?'' tanya Hendrick. Pandangan nya lurus ke depan, ia fokus menyetir. Kendaraan roda empat yang ia kemudi sudah melaju di atas jalan raya.
''Kita makan-makan dulu di restoran tempat biasa kita makan, ya, setelah itu kamu temani aku jalan-jalan ke mall. Aku ingin belanja tas, pakaian dan sepatu baru. Soalnya saat di luar negeri aku tidak sempat belanja karena terlalu sibuk.'' Jawab Anggia, ia merebahkan kepalanya pada pundak Hendrick.
Setelah itu Anggia sibuk bercerita kepada Hendrick, ia bercerita tentang kesehariannya selama di luar negeri. Hendrick tak fokus mendengar apa yang di ceritakan oleh Anggia, karena fokusnya hanya kepada Raisa seorang. Pikirannya hanya tertuju kepada sang istri seorang. Ia sedang berpikir bagaimana caranya agar ia bisa hidup berdua sama sang istri tanpa ada yang mengganggu. Ketika tengah berpikir, ia mendapat ide, kalau nanti ia akan membawa sang istri ke sebuah Apartemen miliknya. Selama Mama, Papa nya dan Anggia masih berada di Indonesia, maka Hendrick akan meminta Raisa tinggal di apartemen miliknya, untuk mencari aman.
***
Di dalam kamarnya, Raisa duduk di pinggir kasur, ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, lalu setelah itu ia menghubungi seseorang.
__ADS_1
''Mas bisa jemput aku?''
''Kamu di mana sekarang Raisa? Tadi sehabis subuh Mas mampir di kontrakan kamu, tadi kontrakan kamu terlihat gelap dan seperti tidak berpenghuni.''
''Nanti aku akan kirimkan alamat nya lewat chat. Kamu jemput aku, ya.''
''Baiklah. Apa sih yang tidak untuk kamu,''
''Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu,''
''Iya.''
Setelah panggilan terputus, Raisa kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Lalu dengan cepat ia berlari ke kamar mandi, dari tadi ia merasa begitu mual di sertai kepalanya yang pusing berkunang-kunang. Raisa baru selesai menghubungi Imam.
Bersambung.
__ADS_1