
"Mas lagi ngumpulin bukti kalau orang tua kamu meninggal bukan murni kecelakaan, lebih tepatnya sengaja ada yang mencelakainya"
"Siapa mas?" Yasmin memeluk Damar mengetahui ternyata orang tuanya di habisi orang lain.
"Belum ada bukti yang mengarah pada nenek dan tante kamu, tapi mas curiga mereka yang ada di balik kematian orang tua kamu"
"Mas, apa mungkin nenek tega membunuh papa? Papa kan anak nenek?" Yasmin bingung ia memang tau neneknya tidak mau perduli saat ia dan kedua adiknya susah, namun untuk menghabisi anaknya sendiri Yasmin masih ragu.
"Papa mu bukan anak kandungnya, papa anak dari almarhum kakek kamu dan kekayaan kakek kamu di wariskan lebih banyak pada papa mu. Mungkin itu penyebabnya yang, meski mas juga belum nemu bukti yang akurat"
"Terus selama ini kenapa mas nggak cerita sama Yasmin?" Yasmin kesal karena Damar merahasiakan hal sebesar ini darinya.
"Sayang, jangan ngambek. Mas nggak cerita sama istri mas yang cantik ini karena mas takut kamu terbebani, kamu kan lagi hamil anak mas sayang"
"Em, makasih ya mas" Yasmin memeluk Damar dengan kencang dan Damar merasa kesal.
Damar melepaskan pelukan Yasmin, Yasmin merasa bingung kenapa Damar menolak pelukannya. Seketika Yasmin mendongak dan menatap manik mata Damar dengan memanyunkan bibirnya.
"Sayang jangan marah, lihat yank" Damar menunjuk celana boxernya yang panjang selutut dan Yasmin mengikuti arah pandang Damar, Yasmin tersenyum teryata ada yang mengeras di bawah sana.
"Ish" Yasmin mencubit lengan Damar.
__ADS_1
"Aa" Damar mengelus lengannya berpura-pura kesakitan.
"Mas mesumnya kurangin dong"
"Sayang nggak bisa, porsinya udah begini" Damar mulai membaringkan Yasmin di sampingnya dan membantalkan tangan Damar.
"Mas ada ASI-nya" Yasmin memukul tangan Damar karena meremas sebelah gundukannya.
"Sampai kapan mas puasa yang" Damar merasa kesal dan menggaruk-garuk tengkuknya, membayangkan masih butuh beberapa puluh hari lagi untuk bisa berbuka puasa.
"Mas apa sih, udah kayak baby Zie aja" Yasmin terkekeh melihat tingkah Damar. Karena tidak bisa memegang benda favoritnya, Damar mulai menyesap bibir Yasmin dengan begitu lama Yasmin juga membalasnya dengan penuh cinta.
Pintu terbuka dan ternyata mama Sinta yang masuk tanpa mengetuk pintu, Yasmin dan Damar melepas pagutannya dan melihat ke arah pintu siapa yang masuk tanpa ijin.
"Mama nggak lihat kalian ciuman" ucap mama Sinta membalikkan tubuhnya sambil baby Zie ada dalam gendongannya.
"Ck, mama nggak lihat tapi tau" kesal Damar.
"Mas" Yasmin mencubit perut Damar, sungguh Yasmin merasa sangat malu di pergoki mama mertuanya sedang bercumbu dengan suami. Mama Sinta membalikkan badannya lalu berjalan mendekati Yasmin dan Damar yang duduk di ranjang.
"Yasmin ini baby Zie haus kamu kasih ASI, kalau udah siap mama ambil lagi"
__ADS_1
"Iya Oma" dengan tangannya yang terlihat hati-hati memegang baby Zie.
"Mama biarin Zie malam ini tidur sama Damar" pinta Damar. Karena memang semenjak Zie lahir, bayi mungil itu selalu tidur dengan mama Sinta.
"Nggak" ketus Mama Sinta.
"Satu malam aja ma" pinta Damar lagi.
"Nggak baik Zie tidur sama kalian"
"Kenapa?" Damar dibuat bingung dengan ucapan mamanya sendiri.
"Kalau suka cium-ciuman, nanti Zie lihat itu tidak bagus untuk bayi"
"Mama tadi katanya nggak lihat" seloroh Damar.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
...Jangan lupa like dan vote...
__ADS_1