ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 14


__ADS_3

Tidak lama setelah itu Mas Hendrick muncul lagi di hadapan aku yang tengah duduk di pinggir kasur, aku yang mencoba menetralkan rasa di hatiku. Mas Hendrick meletakkan ponselnya di atas nakas lalu ia berkata dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa, ''Sayang, ayo lanjutkan lagi pekerjaan kamu yang belum selesai,'' ucapnya sambil memegang kancing kemejanya yang tinggal beberapa lagi yang harus di lepas. Aku memaksa senyum menatap ke arahnya, aku mencoba mengusir semua rasa sakit hatiku dan mencoba membesarkan hati ku bahwa aku hanyalah seorang istri simpanan dan tidak boleh berharap lebih, serta tak punya hak juga untuk protes apa lagi merasa sakit hati terhadap apa yang Mas Hendrick lakukan di belakang aku. Aku bisa berada satu kamar dengan Mas Hendrick hanya karena uang, iya, karena aku butuh uang untuk pengobatan Yumna. Dan aku tidak boleh memakai perasaan dalam hubungan yang penuh kepura-puraan ini. Ingat, suatu waktu kalau Mas Hendrick sudah tidak membutuhkan aku lagi, aku harus siap pergi dari hidup nya dan melanjutkan hidup ku sendiri.


Perlahan aku mulai membuka kancing kemeja Mas Hendrick lagi, aku hanya diam, entahlah rasanya mulutku seakan kelu untuk berkata-kata. Setelah selesai, Mas Hendrick mengucapkan terimakasih kepada ku, ia juga mengecup pucuk kepala ku, pipi kanan, pipi kiri serta kening ku. Ia memperlakukan aku dengan sangat lembut. Hal itulah yang membuat aku merasa di perlakukan sebagai wanita spesial, hal itulah yang membuat aku merasa di cintai, dan hal itulah yang membuat aku terlena dan merasa tak rela saat ia mengucapkan kata-kata mesra kepada wanita manapun selain aku.


***


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, aku dan Mas Hendrick turun ke lantai bawah, kami berjalan dengan saling berdampingan dan Mas Hendrick selalu merangkul mesra pinggang ku.

__ADS_1


Kami duduk di kursi meja makan, semua hidangan makan malam sudah terhidang sempurna di atas meja, aku memasukkan nasi dan lauk ke dalam piring suamiku.


''Sudah Mas?'' tanyaku saat aku sudah selesai memasukkan dua macam lauk ke dalam piring Mas Hendrick.


''Sudah cukup Sayang. Sekarang kamu masukkan nasi untuk kamu lagi ya,'' Mas Hendrick berkata dengan sangat lembut. Aku mengangguk kecil.


''Ternyata senikmat ini ya rasanya kalau punya istri, tidur di temani, makan di temani dan apa-apa di layani, Mas merasa sangat bahagia. Ternyata selama ini Mas telah membuang banyak waktu dengan hidup sendirian berselimut kesepian yang begitu menyebalkan,'' Mas Hendrick berkata seraya memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Ia juga terkekeh kecil.

__ADS_1


''Para pelayan adalah orang-orang yang bekerja untuk Mas, dan balasan untuk mereka adalah gaji mereka yang selalu Mas bayar setiap bulan nya. Yang Mas butuhkan selama ini adalah teman. Teman hidup, teman bercerita dan teman dalam berbagi suka duka. Dan Mas rasa Mas sudah menemukan itu dari diri mu Sayang,'' ucapnya lagi menatap ku lekat.


''Apa bedanya aku sama mereka Mas. Aku bisa berada di sini juga karena uang, karena kamu membayar aku dan aku juga bukan merupakan teman hidup mu, aku hanyalah wanita yang kau bayar dan suatu hari nanti aku akan pergi dari hidup mu saat kau sudah merasa tak membutuhkan aku lagi, saat teman hidup mu yang sesungguhnya kembali dan aku selalu berdoa agar kamu selalu bahagia sepanjang menjalani hidup di dunia ini dengan wanita pilihan mu,'' aku mengucapkan kata-kata itu dengan begitu lancar, tanpa aku sangka-sangka setelah aku mengatakan kata-kata itu, Mas Hendrick beraksi di luar dugaan ku. Ia membanting sendok nya keatas piring dengan cukup keras hingga mengeluarkan bunyi yang bising dan mengundang beberapa pelayan datang ke arah kami. Termasuk Jasmine. Wajah Mas Hendrick memerah, aku menatapnya heran, aku merasa heran kata-kata mana yang keluar dari mulut ku yang berhasil memancing emosinya.


Tanpa kata-kata, Mas Hendrick meninggalkan aku sendiri di meja makan, ia mendorong kursi nya kasar, lalu ia berjalan dengan langkah kaki lebar menuju kamar atas. Aku menggeleng melihat tingkahnya yang aneh, selain itu dada ku juga merasa sesak, karena belum pernah sebelumnya Mas Hendrick bersikap aneh kepada ku.


''Kenapa Non? Apa yang terjadi?'' tanya Jasmine.

__ADS_1


''Entahlah Jasmine. Aku juga tidak tahu,'' ucapku sambil memegang pelipis. Setelah itu aku melanjutkan makan lagi.


Bersambung.


__ADS_2