
Melupakan seseorang yang telah lama mengisi hari-hari yang telah kita lewati tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, dan Gio mengakui itu. Ia tetap meyakinkan dirinya sendiri kalau ia pasti bisa melupakan Zie, demi kebahagiaan yang Zie gapai.
Sementara Langit, kini hatinya berasa di penuhi dengan bunga bermekaran setelah mendengar ucapan Zie. la bertekad akan segera menyelesaikan masalah nya dengan Winda.
Langit tidak jadi masuk ke ruangan Derris dan itu membuat Gio bingung melihatnya. Langit membalikkan badan beranjak akan pergi, namun suara Gio menghentikan langkahnya sejenak.
"Kenapa nggak jadi masuk? Bukankah mau menemui Zie? " Gio merasa heran dengan sikap Langit.
"Ada urusan yang harus gue selesaikan, terima kasih ya sudah mau mengantar gue meskipun gue tahu hati lo masih terluka"
Setelah mengucapkan itu Langit langsung melangkah pergi meninggalkan Gio yang diam terpaku dengan perkataan Langit.
"Ternyata dia cukup peka juga, baguslah kalo begitu. Zie mendapatkan suami yang lebih baik dariku" Gumam Gio kemudian juga meninggalkan ruangan Derris.
Sementara di dalam ruangan itu Clara terus bercerita tentang perkembangan Derris. la terlihat sangat bahagia saat Derris bisa melalui masa kritisnya.
__ADS_1
"Kamu nggak tugas Zie?" tanya Derris melihat Zie yang masih betah di ruangan itu.
Zie kini kuliahnya mulai magang di Rumah sakit, sehingga dia kini kesehariannya mulai tugas di Rumah sakit.
"Enggak, sekarang hari libur ku di ganti setiap hari minggu. Kecuali kalo keadaan yang urgent banget baru aku tugas, kenapa? Kamu ingin mengusir ku?" tanya Zie menatap tajam ke arah Derris.
Sementara Clara hanya menggeleng kepala, kekasih dan saudaranya itu memang jarang sekali berdamai sedikit lebih lama. Selalu terjadi cek cok di antara mereka dan itu membuat Clara tersenyum bahagia melihat pemandangan seperti itu.
Namun kini di hati Clara ada rasa bersalah yang sangat besar terhadap Zie karena dirinya Zie harus pisah dengan Gio dan mengubur semua mimpinya bersama Gio.
"Sudah, mereka kesini dua hari sekali" jawab Clara.
"Dan beliau merestui hubungan kalian?"
Zie tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Clara hingga ia mendekatkan diri lagi pada Clara membuat Clara terkikik geli dengan sifat ingin tahunya Zie.
__ADS_1
"Emmm...." Clara sengaja menjeda ucapannya ingin melihat wajah kesal yang di nampakkan oleh Zie.
Dan keinginannya itupun terwujud. Lihat saja kini wajah Zie tak hanya kesal namun juga cemberut dengan membalikkan badannya menghadap ke arah Derris. Mengedip-ngedipkan matanya dengan ekspresi memelas, sontak membuat Derris tertawa terbahak-bahak.
"Aduh sayang, cepat jawab aja. Aku tidak tahan bila harus menatap wajahnya yang seperti itu, sungguh menggelikan sekali. Di usia yang bukan lagi ABG tapi memasang wajah yang sangat sok imut. Sungguh menggemaskan sekali, hingga aku ingin melakban matanya itu" Derris tidak henti hentinya menggoda Zie dan langsung mendapat cubitan di lengannya dari Zie.
Zie menatap Clara dengan bibir yang cemberut membuat Clara tidak tahan dan segera menjawab pertanyaan Zie.
"Papa dan Mama merestui hubungan kita Zie, kamu tenang aja" jawab Clara dengan mata yang berbinar bahagia.
"Syukur deh kalo gitu, tinggal jawab dari tadi aja kok ribet banget!" ucap Zie ketus karena masih kesal dengan dua sejoli yang kompak mengerjai dirinya.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote...