ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 19


__ADS_3

Ponsel yang berada di genggaman terlepas begitu saja tanpa bisa aku cegah, jatuh ke lantai hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Aku pun sama, aku ikut terduduk di lantai dengan tubuh terasa lemas, tungkai ku terasa tak sanggup lagi menopang tubuh. Aku hancur, aku merasakan sakit tapi tak berdarah saat aku mendengar apa yang di katakan oleh sang suster. Tidak, adikku tak mungkin pergi begitu cepat dari dunia ini. Masih banyak cita-cita dan harapan yang ingin ia gapai, usianya masih terlalu muda. Allah. Aku beristighfar di dalam hati, jangan sampai aku menyalahkan takdir yang telah di tetapkan oleh yang maha kuasa atas apa yang terjadi. Aku sudah melakukan apapun untuk kesembuhan Yumna, tapi jika Allah berkehendak lain, apa boleh di kata. Semoga aku bisa menerima ini semua dengan lapang dada. Meskipun tak mudah, tapi aku harus tetap menjaga kewarasan ku agar aku tak gila karena ditinggalkan oleh orang yang ku kasihi, cintai dan sayangi di dunia ini. Suatu hari nanti aku akan menyusul mereka, semoga aku bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama mereka.


Saat aku masih tergugu duduk di lantai dengan perasaan teramat hancur, tiba-tiba Mas Hendrick datang, ia menyapa ku dengan suara nya yang terdengar panik, ia mengangkat tubuh ku hingga tubuh ku telah berpindah ke atas kasur king size.

__ADS_1


''Sayang, sudah. Mas tahu kamu wanita yang kuat, kamu bisa menerima dan melewati ini semua. Sekarang ayo kita ke rumah sakit, kita harus segera mengurus jenazah Yumna.'' Mas Hendrick berkata seraya mendekap tubuh ku, membelai rambut hingga punggung ku. Aku mengangguk kecil, setelah itu Mas Hendrick membimbing tubuh ku, kami berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman di depan teras.


Mas Hendrick melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi, aku tak merasa takut sama sekali saat mobil Mas Hendrick menyalip kendaraan lain yang ada di hadapan kami. Yang ada di pikiran aku hanyalah, kami akan segera sampai di rumah sakit, dan aku bisa melihat adikku. Aku ingin menatap wajah cantiknya, memeluk nya, menciumi nya untuk yang terakhir kali.

__ADS_1


''Kak, Yumna ingin sekolah hingga sampai ke perguruan tinggi, aku ingin mengambil jurusan hukum, supaya aku bisa mengambil hak kita lagi yang di ambil oleh Tante, dan supaya kita bisa tinggal di rumah kita yang berada di kampung halaman kita lagi.'' Yumna berkata beberapa bulan yang lalu pada malam hari pada saat aku dan dirinya tengah berbaring di atas kasur tipis di kontrakan. Ia berkata dengan sungguh-sungguh.


''Iya Kak. Aku berharap aku bisa mendapatkan beasiswa supaya aku tidak merepotkan Kakak. Aku tidak tega melihat Kakak yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan aku.'' Tambah nya lagi. Dan setelah itu kami saling berpelukan, saling menguatkan.

__ADS_1


Tapi kini ... Ah ... rasanya begitu sulit untuk aku jabarkan. Lagi-lagi tangis ku pecah dengan isakan yang susah payah aku tahan. Aku menunduk, menghapus dengan cepat air mata yang mengucur begitu deras. Mas Hendrick menggenggam tangan ku, ia tak berkata-kata, ia membiarkan aku menumpahkan air mataku. Setidaknya aku harus bersyukur, di saat-saat seperti ini ada suami ku yang menemani dan menguatkan aku.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2