ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 32


__ADS_3

''Sudah, lebih baik kamu keluar dulu Jasmine, aku pengen sendiri, aku pengen istirahat, aku harap kamu mengerti.'' Raisa mengusir Jasmine dengan sedikit kasar agar Jasmine segera keluar dari kamarnya. Bukan apa-apa, Raisa ingin sendiri, mendadak ia dilanda rasa cemas dan takut, takut kalau dirinya benar-benar mengandung anak dari Hendrick.


''Tapi, Non. Wajah Non begitu pucat, aku tidak tega meninggalkan Non sendirian, aku takut terjadi apa-apa sama Non,'' Jasmine berucap di ambang pintu kamar, ia menahan pintu kamar dengan tangannya agar Raisa tak segera menutup pintu. Untungnya Mama dan Papa Hendrick sedang tidak berada di rumah, mereka sudah berangkat ke kantor di mana Hendrick biasa memimpin, mereka ingin melihat kinerja sang putra di perusahaan.


''Aku tidak apa-apa, aku cuma masuk angin biasa,'' ucap Raisa meyakinkan, setelah itu Jasmine mengalah, ia berlalu dari depan kamar Raisa.


Setelah kepergian Jasmine, Raisa mengunci pintu kamar dari dalam. Lalu tubuh nya meluruh bersandar di dinding pintu, ia terduduk di depan pintu kamar dengan isakan nya yang terdengar begitu menyedihkan.


''Huhuhu, tidak mungkin. Kenapa aku begitu lalai, kalau sudah begini siapa yang akan menderita? Tentu aku yang akan menderita dan tentu .... janin yang ada di dalam kandungan aku yang akan menderita kedepannya. Mas Hendrick tidak akan mau bertanggung jawab, lagian dia sudah punya tunangan dan ia tidak mungkin juga membatalkan pertunangan nya dengan wanita cantik yang bernama Anggia itu, dan lebih tidak mungkin lagi Mas Hendrick membantah ucapan kedua orang tuanya, kedua orang tuanya tidak akan setuju kalau aku dan Mas Hendrick bersatu. Mas Hendrick hanya tahu enaknya saja, sedangkan aku ... Huhuhu, semenyedih inikah rasanya jadi kaum hawa, semenyedih ini kah rasa jadi yatim piatu? Aku sekarang benar-benar sudah hancur.'' Racau Raisa sambil memukul-mukul kecil perutnya, entahlah, sebagai sang pemilik tubuh, ia benar-benar yakin kalau dirinya tengah mengandung, walaupun dirinya belum melakukan tes urine.

__ADS_1


Saat tangisnya sudah sedikit reda, tiba-tiba ponselnya yang berada di atas kasur berdering, Raisa mengangkat nya cepat.


''Raisa, Mas sekarang sudah di depan,'' ternyata sang penelepon adalah Imam.


''I-iya Mas. Tunggu aku sebentar,'' Raisa berkata sedikit tergagap sambil menyeka air matanya dengan kasar. Setelah itu panggilan ia putus, ia bergegas memasukkan pakaiannya yang tidak seberapa ke dalam tas punggung. Setelah semua dirasa cukup, Raisa membuka pintu kamarnya dengan pelan, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar pelayan, untungnya pelayan lain sedang tidak berada di kamar, sepertinya mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Jasmine pun tak terlihat keberadaan nya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Raisa berjalan pelan menuju pintu belakang, setelah sampai di pintu belakang, ia berjalan mengendap-endap menuju pintu pagar. Pintu pagar bagian belakang, ia akan keluar dari pintu pagar belakang saja, kebetulan pintu belakang tidak di jaga oleh security dan tidak di gembok juga. Raisa sudah memantapkan dirinya untuk kabur dari Hendrick. Untuk soal kehamilan nya, ia akan merahasiakan dari orang-orang terlebih dahulu, termasuk dari keluarga Imam.


Di dalam kamarnya, Jasmine tengah berbicara lewat sambungan telepon dengan Hendrick, ia melaporkan kepada Hendrick terkait kondisi Raisa saat ini sesuai dengan apa yang ia saksikan tadi.


''Non Raisa muntah-muntah terus Tuan. Saya rasa dirinya tidak sedang masuk angin, tapi, sepertinya Non Raisa tengah ... Mengandung,'' ucap Jasmine menyampaikan keyakinan nya.

__ADS_1


''Ya sudah, kalau begitu saya akan segera pulang sekarang. Saya harus memastikan secara langsung kalau istri saya benar-benar lagi mengandung anak saya.'' Hendrick berucap dengan nada terdengar terkejut sekaligus bahagia.


''Tapi bukannya Tuan sedang jalan-jalan dengan Non Anggia?'' ucap Jasmine lagi.


''Urusan saya sama Anggia gampang lah. Dan kamu, tolong kamu lihat lagi istri saya di kamarnya,''


''Iya Tuan.'' Ucap Jasmine, setelah itu panggilan di akhiri oleh Hendrick, dan Jasmine menyimpan kembali ponselnya ke dalam baju, setelah itu ia berjalan dengan langkah kaki lebar menuju kamar Raisa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2