ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 34


__ADS_3

Begitu pesanan mereka datang, Raisa makan dengan begitu lahap. Ia meniup meniup seblak kuah yang masih menguar asap supaya bisa cepat di makan, dan begitu juga dengan jus jeruk, ia menyesap nya berulangkali hingga jus tinggal setengah gelas lagi. Melihat itu, membuat Imam sedikit keheranan, karena biasanya Raisa tak pernah makan dengan tergesa-gesa.


''Raisa, hati-hati makan nya, nanti kamu keselek,'' sapa Imam. Raisa hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan Imam.


''Iya, Mas.''Jawabnya nyengir, hingga barisan giginya yang rapi terlihat jelas.


''Biar Mas bantu tiup seblak nya, sepertinya kamu sangat menikmati seblak kuahnya,'' tawar Imam dengan senyuman terukir sempurna di wajah tampannya. Ia merasa senang melihat Raisa yang makan dengan begitu lahap. Apalagi wajah Raisa yang tadi nampak pucat kini telah berubah menjadi lebih segar.


''Enggak usah Mas. Ini juga udah mau habis,'' tolak Raisa halus.


''Kamu mau nambah lagi?'' tawar Imam dengan senang hati, ia menatap Raisa lekat. Mendengar tawaran yang menggiurkan itu, membuat wajah Raisa berbinar bahagia, lalu ia berkata.

__ADS_1


''Iya, aku mau nambah satu porsi lagi Mas.'' Jawabnya dengan mengangguk kepalanya cepat.


''Baiklah. Kamu tunggu di sini, ya. Biar Mas pesankan untuk mu.'' Ucap Imam dengan senyuman yang tulus. Sebelum berjalan ke meja pesanan, ia mengusap pucuk kepala Raisa lembut, entahlah rasanya Imam senang melihat Raisa yang begitu ceria. Jujur, selama ini Imam menyimpan perasaan suka terhadap Raisa. Tapi ia belum berani mengungkapkan perasaannya itu, karena untuk soal cinta, Imam merasa belum ada pengalaman. Raisa merupakan wanita pertama yang di cintainya, jadi ia masih malu-malu untuk mengungkapkan perasaan nya. Suatu hari nanti akan ada masanya aku akan menyatakan rasa cintaku kepada Raisa. Pikirnya.


Tidak lama setelah itu seblak kuah level pedas pesanan Raisa datang lagi, Raisa pun langsung melahapnya, karena seblak kuah porsi pertama sudah tandas isinya.


***


''Ya ampun, bagaimana ini. Kemana Non Raisa pergi? Aku sungguh takut Tuan Hendrick murka sama aku.'' Jasmine berkata begitu cemas. Ia duduk di bangku taman yang ada di samping rumah, lalu setelah itu ia berdiri, ia berjalan dengan langkah kaki gontai menuju pintu gerbang bagian belakang, saat sudah sampai, ia melihat pintu gerbang terbuka, tidak hanya itu, ia juga menemukan sobekan kecil, seperti sobekan baju yang di pakai oleh Raisa tadi, sobekan yang nyangkut di dekat besi yang terbuka.


''Ah tidak! Sepertinya Non Raisa telah kabur dari rumah ini.'' Ucap Jasmine lirih. Setelah itu ia mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, lalu ia mulai menghubungi Hendrick. Ia sudah tahu resiko apa yang akan di dapatkan nya karena ia yang tidak becus menjaga Raisa, tapi memang sebaiknya perihal kaburnya Raisa harus segera di laporkan kepada Hendrick, walaupun Hendrick akan marah, tapi setidaknya Hendrick sudah tahu kebenarannya, dan Ia juga bisa mencari keberadaan Raisa dengan cepat, sebelum Raisa kabur semakin jauh.

__ADS_1


''Iya, ada apa? Saya sedang mengemudi sekarang.'' Jawab Hendrick begitu panggilan tersambung.


''Tu-tuan, maaf. Non Raisa sudah tidak ada lagi di rumah Tuan. Saya sudah mencari keberadaan nya keseluruhan ruangan dan sudut rumah, tetapi tetap saja saya tidak menemukan keberadaan Non Raisa. Sepertinya Non Raisa telah kabur dari rumah Tuan.'' Lapor Jasmine dengan suara takut-takut. Mendengar itu, repleks saja Hendrick menginjak pedal rem, hingga mobil nya berhenti secara mendadak di tengah jalan. Anggia yang duduk di sebelahnya menatap nya marah.


''Mas, kamu apa-apaan sih?! Tadi katanya mau pulang karena kamu enggak enak badan. Sekarang kamu kenapa menginjak rem secara mendadak gini? Kamu membuat aku kaget dan kening ku juga terasa sakit karena terantuk dasbor.'' Protes Anggia cemberut dengan mengelus keningnya yang terasa sakit.


''Maaf Sayang. Ini ada telepon dari orang yang melaporkan berita kurang enak,'' balas Hendrick dengan wajah datar. Anggia pun tak menjawab lagi, ia hanya membuang nafas kasar, setelah itu Hendrick melajukan lagi kendaraan roda empat yang ia kemudi menuju kediaman nya.


"Apa?! Kamu kenapa tidak becus sekali bekerja Jasmine.'' Umpat Hendrick di dalam hati.


''Sayang, kamu kenapa malah kabur? Padahal Mas sudah berniat ingin membawa mu ke dokter kandungan.'' Ucap Hendrick di dalam hati dengan rasa cemasnya mengingat keberadaan sang istri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2