
''Maaf, untuk soal itu saya tidak bisa jawab Non.'' Jasmine berucap dengan wajahnya yang terlihat sungkan. Aku pun bisa memaklumi nya.
Setelah itu aku masuk ke kamar pengantin yang di atas kasur nya bertaburan kelopak bunga mawar merah. Wanginya yang semerbak membuat aku merasakan sensasi yang berbeda dari biasa, membuat aku merasa nyaman berada di kamar yang sungguh luas. Kata Jasmine, kamar ini merupakan kamar pribadi Tuan Hendrick. Aku duduk di atas kasur dengan perasaan tak menentu menunggu kedatangan pria yang sudah resmi menjadi suamiku. Aku mengambil ponsel jadul ku yang ada di atas nakas, aku ingin mengecek apakah ada telepon dari pihak rumah sakit. Dan setelah aku cek ternyata tidak ada. Mungkin kondisi Yumna masih sama seperti kemarin, tidak ada kemajuan dan juga tidak ada penurunan terkait kondisi kesehatan nya.
__ADS_1
Tidak berapa lama setelah aku berada di dalam kamar, aku mendengar derit pintu kamar di buka pelan lalu di tutup lagi. Setelah itu suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah ku. Aku menoleh ke arah asal sumber suara, Tuan Hendrick terlihat berjalan mendekati aku dengan langkah nya yang begitu berwibawa. Lengan kemeja nya ia gulung hingga ke siku, ia terlihat tampan maksimal.
''Apakah kamu sudah siap?'' tanya nya dengan senyum menyeringai saat dirinya sudah berdiri di dekat ku. Perlahan ia mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja nya, aku hanya bisa menunduk dengan menatap jari tangan saling bertautan di atas pahaku.
__ADS_1
''Maaf kalau suami mu ini lancang Sayang, kalau menunggu diri mu entah sampai kapan kau akan melepaskan gaun mu ini,'' ucap Tuan Hendrick dengan suara nya yang berat, aku merasa bibirnya telah berada di tengkukku, dan aku juga bisa mendengar nafasnya yang memburu. Aku hanya bisa pasrah dengan mata masih aku pejamkan, aku membiarkan Tuan Hendrick melakukan apapun kepadaku asalkan ia tidak berbuat kasar dan menyakiti ku. Kini aku merasa bibir Tuan Hendrick telah menjelajah di dekat daun telinga ku, aku hanya bisa menikmati sensasi aneh yang baru pertama kali ini aku rasakan. Selain itu, gaun ku juga telah melorot sebatas pinggang karena ulah Tuan Hendrick, kini tubuh bagian atas ku hampir polos seluruh nya, hanya BH saja yang menempel menutupi dua gundukan kenyal milikku. Setelah puas menciumi tengkuk dan area telinga ku, sekarang aku merasa bibir Tuan Hendrick telah turun ke punggung ku, tangannya mulai melepaskan pengait BH yang ada di punggung ku, setelah itu tangannya mulai nakal, ia mulai menyentuh dua gundukan kenyal yang selalu aku jaga dan aku sembunyikan selama ini. Suara lenguhan ku sudah tak dapat aku tahan, jujur rasanya aku ingin menolak setiap sentuhan yang Tuan Hendrick berikan pada anggota tubuh ku, tapi entah kenapa aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tuan Hendrick masih menciumi punggung ku dan tangannya juga semakin lincah bergerak pada dua gundukan kenyal milikku, bahkan ia juga mementil pucuk gundukan milikku yang bewarna merah muda, membuat ku mengaduh kecil. Inikah rasanya? Semakin lama Tuan Hendrick bermain-main pada ku maka semakin aku ingin di sentuh olehnya lebih dalam lagi. Karena Tuan Hendrick memperlakukan aku dengan begitu lembut. Aku tidak menyangka kalau aku akan berada di dalam satu kamar, satu ranjang dan saling memberi kenikmatan sama seorang CEO tampan yang begitu di kagumi banyak kaum hawa. CEO tampan yang merupakan atasan ku di tempat aku bekerja.
Bersambung.
__ADS_1