ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Bab 33


__ADS_3

Tiupan angin menerpa rambut Raisa, membuat rambut panjang tergerai nya berterbangan di bawa angin dan mengeluarkan suara desauan yang lumayan mengganggu pendengaran, tapi hal itu jauh lebih menenangkan bagi Raisa di bandingkan ia harus tetap tinggal di rumah sang suami, tinggal satu atap dengan kedua orang tua sang suami yang tak menyukainya itu rasanya sungguh menyakitkan.


''Itu tadi rumah siapa Raisa?'' setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Imam bersuara. Tatapan matanya fokus ke depan, melihat jalanan yang akan ia lalui. Ia membawa motor dengan Raisa duduk di belakang nya.


''Itu ... Rumah Tuan Hendrick, Mas.'' Raisa menjawab jujur. Kedua tangannya berpegangan pada ujung baju yang di pakai Imam, Raisa takut terjatuh dari atas motor karena kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


''Kamu beberapa hari ini tinggal sama dia?'' tanya Imam lagi dengan nada suara yang begitu lembut.


''Em iya, aku bekerja di sana, tapi sekarang aku memilih keluar dari rumahnya, karena aku ingin kembali ke kontrakan dan supaya aku bisa lebih leluasa untuk mengunjungi makam Yumna,'' jawab Raisa lagi. Ia masih menyembunyikan tentang hubungan nya dengan Hendrick yang sebenarnya.


''Apa Hendrick tidak marah kamu keluar dari rumahnya?''

__ADS_1


''Tidak,''


''Ya sudah, kamu sebaiknya memang harus tinggal di kontrakan Raisa, supaya aku dan Mama bisa memperhatikan kamu. Untuk soal makan dan biaya hidup mu, kamu tidak usah memikirkan itu, karena aku berjanji, aku yang akan memenuhi kebutuhan sehari-hari kamu.''


''Mas Imam enggak usah repot-repot, aku masih ada uang pegangan kok Mas. Terimakasih ya Mas, karena Mas sudah mau menjemput aku.'' Ucap Raisa lagi. Raisa masih memegang black card milik Hendrick, jadi untuk urusan kebutuhan nya sehari-hari ia tidak perlu khawatir. Bahkan Raisa sudah punya rencana untuk pulang kampung, ia ingin merebut kembali rumah orangtuanya yang di ambil oleh sang tante.


''Mas tidak merasa direpotkan Raisa, Mas senang bisa melakukan sesuatu untukmu. Jadi kamu jangan merasa tidak enakan. Iya, sama-sama Raisa.''


''Iya. Kita mampir dulu di warung depan, ya, kita makan siang di sana,'' tawar Imam. Tadi saat Raisa akan menaiki motornya, ia melihat wajah Raisa sedikit lemas dan pucat, makanya Imam menawarkan Raisa untuk makan, agar tubuh Raisa kembali cerah dan bertenaga. Imam telah berpikir yang tidak-tidak, Imam menduga kalau Raisa tidak di perlukan dengan baik selama tinggal di rumah Hendrick, dan ia tidak akan membiarkan Raisa kembali ke rumah Hendrick lagi.


''Iya, Mas.''

__ADS_1


Setelah tiba di depan sebuah warung yang menjual berbagai macam aneka makanan, Imam menghentikan laju motornya, ia memarkirkan motornya di depan warung, setelah itu mereka berjalan berdampingan memasuki warung. Begitu masuk ke dalam warung, Raisa merasa sedikit mual mencium aroma masakan yang berbahan dasar daging. Ia lalu berjalan ke sudut ruangan, mencari tempat duduk yang jauh dari makanan. Imam pun mengikuti nya.


''Kamu mau pesan apa?'' tanya Imam, mereka sudah duduk di kursi. Dia dan Raisa membaca buku menu.


''Aku mau pesan seblak kuah saja Mas, aku pengen yang level pedes banget, kalau minumnya aku pengen jus jeruk saja,'' jawab Raisa lancar, entahlah rasanya ia ingin menyantap makanan yang berkuah, pedas dan asam. Mendengar itu, membuat Imam menyipitkan matanya, lalu ia berkata lagi.


''Kamu yakin dengan pesanan mu?''


''Yakin Mas.''


''Apa kamu tidak takut sakit perut?''

__ADS_1


''Tidak.'' Jawab Raisa singkat dan yakin. Setelah itu Imam berjalan ke depan untuk menyampaikan kepada pemilik warung tentang makanan yang di pesan olehnya dan Raisa.


__ADS_2