
"Lagian sih jiwa ingin tahumu terlalu besar. Eh kamu nggak apa-apa emang belama-lama di sini? Nggak bakalan marah tuh si perjaka tua? Apa ... Jangan-jangan sekarang sudah tidak perjaka lagi?" goda Clara pada Zie sembari menaik turunkan alisnya.
"Apa sih! Ya sudah aku mau berkunjung ke rumah mama sama papa dulu"
Zie segera pamit pada Clara karena tidak mau jika saudaranya itu melihat wajahnya yang blushing karena malu dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Clara.
Boro-boro mau melakukan itu, berada di dekat Langit saja sudah membuatnya kehilangan oksigen apalagi jika harus bergelut di atas ranjang. Bisa-bisa ia mati terkena serangan jantung mendadak.
"isshh apa sih yang aku pikirkan, nih otak kayaknya minta di laundry deh!" Zie menggeleng kepala agar pikiran kotornya segera hempas dari kepalanya.
Sebelum sampai di parkiran rumah sakit, ia sempat melihat Gio yang sedang berbincang di lorong sebelah parkiran dengan seseorang perempuan dan mereka terlihat akrab.
Ada desiran rasa sakit yang menyerang di hatinya, namun segera ia tepis rasa itu meskipun sia-sia. Tidak dapat di pungkiri, melupakan seseorang yang kita cintai itu sungguh menyakitkan dan lebih baik terkena tusukan benda tajam di tubuhnya. Meskipun luka dan sakit masih bisa di obati sedangkan bila hati yang terluka tidak akan ada penawarnya kecuali cinta yang baru.
Zie membuka pintu mobil lalu duduk di bagian kemudinya. Sebelum menyalakan mesin ia sempatkan untuk mengirim pesan pada suaminya.
__ADS_1
Zie :
Mas aku pergi kerumah papa dulu ya, soalnya semenjak menikah aku nggak pernah berkunjung ke sana. Sekalian ambil barangku yang ketinggalan.
Dan pesan itupun terkirim. Zie tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya karenamenunggu balasan dari Langit. Zie sadar kini dirinya sudah bersuami, hal yang paling wajib di lakukan saat hendak keluar adalah meminta ijin dari suaminya terlebih dulu. Dan Zie berusaha akan menerapkan itu pada dirinya karena sekarang yang bertanggung jawab atas dirinya adalah Langit.
Tidak sampai lima menit Zie menunggu, ia menerima telpon dari Langit. Dengan sigap Zie menggeser tombol warna hijau ke arah kanan.
"Hallo, Assalamu'alaikum!"
"Aku masih di rumah sakit mas. Oh ya apa boleh aku pergi mengunjungi papa sama mama?" tanya Zie dengan antusias.
Langit tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak lalu membuka suaranya.
"Kamu diam di tempatmu sekarang, aku akan menjemputmu dan kita berkunjung bersama ke rumah papa Hendra"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, langit menutup sambungan telponnya. Lalu menatap Winda yang masih memainkan perannya, posisinya sekarang sedang duduk bersimpuh di depan Langit.
Ya, kini Langit berada di sebuah restoran yang terletak di lantai dua hotel Abinaya. Tempat tinggal Winda selama ini, setelah pergi meninggalkan rumah sakit Mahardika tadi Langit mengemudikan mobilnya menuju hotel tempat Winda menginap. la ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Winda.
Dua jam yang lalu.
Langit menghubungi Wida untuk bertemu di restoran biasa tempat mereka makan siang, tentu saja Winda sangat senang dan antusias untuk bertemu Langit.
Selama satu tahun menjalin hubungan dengan Langit yang terlihat sempurna namun sebetulnya sangat polos. Membuat Winda seperti menemukan ATM berwarna Gold yang artinya ia bisa memeras berapapun yang ia mau.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
...Jangan lupa like dan vote...
__ADS_1