
"Kak Adam mana jagung Sela yang belum habis barusan?" tanya Sela, karena saat ia memakan jagung tiba-tiba perutnya terasa sakit dan ia berhenti sejenak mengunyah.
"Tapi kamu bukannya mau melahirkan?" tanya Adam yang bingung.
"Sela ayo tarik napas" pinta Gita.
"Kak jagung Sela mana?" pinta Sela sambil melakukan apa yang di perintahkan Gita.
"Doronggg" kata Gita lagi.
"HUUUUUUHHHH....."
"Bagus, sedikit lagi ya" kata Gita lagi.
"Kak" kata Sela meminta Adam mengambillan jagung bakar miliknya.
"Iya" Adam memberikannya pada Sela.
"Ayo tari napas dan dorong"
"HUUUUUUUUHHHH" Sela mengejan sambil menggigit jagung yang masih ada di mulutnya.
"Sedikit lagi"
__ADS_1
"Bagus, ayo lagi!"
"Sedikit lagi"
"Sela perut kakak sakit" kata Adam sebab sedari tadi Sela memegang bagian perutnya.
"Ayo lagi"
"Oeee Oeee Oeee" terdengar suara tangis bayi dan Veli langsung mengurus bayi tersebut, sementara Gita mengurus Sela.
"Bayinya laki-laki, selamat Adam selamat Sela" kata Gita dengan tersenyum.
Adam menangis dan menghujami Sela dengan kecupan, tak ada yang bisa ia katakan selain dari kata terima kasih. Tak ada yang bisa menggambarkan kebahagiannya saat ini, selain dari keindahan sang istri yang telah membuatnya menjadi seorang Ayah.
"Selamat ya kak, kita udah jadi orang tua" Sela juga terharu saat melihat wajah putranya.
Beberapa saat kemudian, Sela sudah selesai di bersihkan dan begitu juga dengan baby boy yang sudah berbalut hangat dengan selimut bayi. Semua anggota keluarga di persilahkan masuk setelah Adam selesai mengadzani sang putra.
"Sela" Bunda Lesti menangis memeluk sang putri dengan erat.
"Maafin Sela yang selama ini nakal terus ya Bunda, sekarang Sela tahu gimana perjuangan Bunda dulu pas lahirin Sela. Sekali lagi makasih ya Bunda udah lahirin Sela" ucap Sela dengan terus memeluk bunda Lesti.
Sela membayangkan betapa banyak kesalahannya dulu pada bunda Lesti, bahkan sering kali ia membantah dan berbicara dengan nada yang tinggi pada sang Bunda. Kini setelah ia melahirkan ia tau tentang makna menjadi seorang ibu, ia tau betapa Ibu bertaruh nyawa hanya demi melahirkannya ke dunia dan sampai di mana kasih sayang yang ia berikan pada sang Bunda, belum seujung kuku pun bila di bandingkan dengan perjuangan sang Bunda yang bermandikan keringat, berselimut air mata, berteteskan darah. Hanya kata maaf yang bisa ia katakan pada sang Bunda malaikat tanpa sayap, yang selalu ada saat ia terluka yang selalu tulus mencintainya tanpa perduli orang berkata buruk tentang dirinya.
__ADS_1
"Eh ngomong apa barusan?" kata Aran menatap tajam Veli.
Veli memutar leher dan melihat Aran di sana.
"Hehehehe, becanda Mas" jawab Veli dengan takut.
Aran langsung menarik Veli dan memeluknya, sementara Edo mendekati Gita dan melihat baby boy yang di gendongan Gita tentunya.
"Ini anak lu bro?" tanya Edo.
"Iya lah" kesal Adam.
"Kasih selamat kek ke gue, dari tadi semua cuman kasih selamat ke Sela. Gue kan juga turut adil dalam pencetakannya" kata Adam dengan kesal.
"Adam!" Mama Sinta menatap kesal Adam karena berbicara tak pernah benar.
"Ampun Ma" Adam menangkup kedua tangannya karena takut mama Sinta memukulnya, apa lagi kalau sampai di depan bunda Lesti itu sangat memalukan.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
...Jangan lupa like dan vote...
__ADS_1