
Hari sudah cukup larut, udara pun kini lebih dingin dari sebelum nya karena hujan yang turun sejak sore tadi. Entah sudah berapa lama Alfi terpengkur seorang diri di dalam kamar nya sambil menyandar kan punggung nya di sandaran ranjang. Sejak kepulangan Leon tadi ia mengurung diri di kamar, ia hanya keluar saat ingin makan malam. Itupun ia baru keluar saat Azura mengetuk pintu kamar nya dan mengajak nya makan malam.
Sepanjang makan malam tadi, mata nya nyaris tak berhenti menatap Azura. Ia makan lebih sedikit dari biasa nya. Diam tanpa kata, seakan mereka merupakan dua orang asing yang berbeda. Alfi yakin, Azura menyadari kalau ia terus menatap nya.
Di dalam kamar nya, Alfi terus merenung. Memikirkan semua penuturan Leon tentang Azura. Dada Alfi mendadak sesak saat mengingat penuturan Leon mengenai perjuangan dan kesulitan yang Azura alami selama ini. Ya, dia akui Azura merupakan gadis yang tangguh, bahkan sangat tangguh. la membenar kan perkataan Leon, kalau perempuan lain yang mengalami hal itu belum tentu mereka sanggup melalui nya.
Lalu Alfi teringat penuturan Leon tentang fakta kalau Azura menyukai nya. Dan juga kalimat terakhir yang ia ucap kan, hanya diri nya lah yang pantas mendampingi Azura. Benarkah Azura menyukai nya? Bisa kah diri nya menjadi seseorang yang Leon harap kan?
Alfi ingin memastikan sendiri dengan hati nya, apa kah ia benar-benar bisa memberi limpahan kasih untuk istri nya itu dengan tulus. Alfi pun segera keluar dari kamar dan beranjak menuju kamar Azura. Tangan kanan nya terangkat ingin mengetuk pintu bersamaan dengan terbuka nya pintu dari dalam membuat kedua pasang mata itu saling bersirobok penuh tanya.
"Ra..."
"Pak dokter... "
Ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Kamu dulu yang bicara!" titah Alfi.
"Emmm... pak dokter mau ngapain di depan kamar saya?" tanya Azura.
"Aku... em... aku lagi suntuk. Butuh temen ngobrol"
"Tapi saya sedang nggak mau ngobrol" tolak Azura halus.
Tapi Alfi tak mengindah kan penolakan itu. Ia justru menerobos ke kamar Azura dan langsung duduk di ranjang nya sambil bersandar membuat Azura membulat kan mata nya.
"Kan aku udah bilang, aku mau ngobrol. Sini!" panggil Alfi acuh tapi Azura justru tak bergeming.
Tak menerima penolakan, Alfi kembali berdiri menutup pintu dan mengunci nya, lalu menarik tangan Azura menuju ranjang dan mendudukkan nya.
Azura yang melihat gelagat aneh Alfi pun mendadak linglung. Jantung nya berdegup dengan kencang. Apa lagi saat Alfi menarik tangan nya, tubuh nya seakan dialiri arus listrik ribuan volt. Sekujur tubuh nya sampai menegang dengan perasaan yang tak menentu.
__ADS_1
"Tapi... tapi... " Azura ingin menolak tapi ia bingung bagaimana mengatakan nya. Bibir nya terlalu kelu untuk bicara.
"Sssttt... Aku pengen cerita sesuatu sama kamu" ujar Alfi seraya meletakkan jari telunjuk nya di depan bibir Azura membuat nya makin tegang.
"Jangan tegang Ra! Relaks" bisik Alfi seraya tersenyum manis membuat Azura membeku di tempatnya.
"Aku ingat kamu pernah bertanya, mengapa Vina bisa tiba-tiba menikah dengan sahabat ku sendiri? Aku mau menjawab sekarang. Apa kah kamu masih mau mendengarkan nya?" tanya Alfi. Pelan-pelan, ia menyusup kan tangan nya di balik punggung Azura dan merangkul nya agar lebih merapat.
...🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih...
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak
__ADS_1