
*********
Dua jam kemudian.
Kini Yasmin di bawa ke rumah kosong yang terletak di sudut kota jakarta ini, ia di sana bersama Damar juga Adam tentunya. Yasmin tak tau sama sekali mengapa ia di bawa kesana, bahkan berulang kali ia bertanya tapi Damar tak menjawab ia hanya di minta untuk ikut saja.
"Mas, Yasmin takut" Yasmin menatap banyak pria bertubuh kekar di sana, ruangannya pun minim penerangan sangat membuat Yasmin berkeringat padahal cuaca cukup dingin di malam ini.
"Nggak papa, kamu tenang aja" Damar memeluk Yasmin sambil terus berjalan ke ruangan yang mereka tuju.
"Mas, kenapa mereka liatin kita terus, wajahnya serem semua lagi Yasmin kan takut" kata Yasmin semakin mempererat pelukannya sambil terus berjalan bersama Damar.
"Heh, berhenti menatap istri ku seperti itu atau saya congkel mata mu!" tutur Damar pada pria yang di maksud Yasmin.
"Yasmin, kamu nggak usah takuk mereka wajahnya memang sudah begitu" kata Adam.
"Tapi aku takut Adam" jawab Yasmin.
__ADS_1
Kini mereka sampai di ruangan di mana ada dua orang wanita yang tengah duduk di kursi dan terikat tali, wajah keduanya pun di tutup dengan kain hitam hingga tak bisa terlihat.
"Mas mereka siapa? Dan kenapa mereka di ikat begitu?" berbagai pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Yasmin.
"Buka!" Damar memerintahkan pada pengawal membuka penutup wajah keduanya, tak lupa mengguyur dengan air agar keduanya tersadar.
BYUUR.
Keduanya tersadar dan mentap Yasmin dan Damar.
"Yasmin?" Tante Tina juga tak kalah terkejut melihat Yasmin ada di hadapan mereka.
"Mas" Yasmin menatap Damar penuh tanya.
"Mereka yang mencelakai Ghaffar" jawab Damar yang mengerti istrinya kini tengah kebingungan.
"A...apa?" Yasmin melonggo mendengar penuturan Damar.
__ADS_1
"Tante kenapa tega? Apa belum cukup apa yang selama ini kalian lakukan pada kami" tanya Yasmin dengan amarah yang meninggi.
"Iya kenapa, kau tau mertua mu itu sudah membuat aku menjadi janda, mereka membuat Handoko meninggal dengan cara yang sadis. Dan kalian pun harus merasakan apa yang aku rasakan!" teriak Tante Tina tak kalah kesal.
"Tunggu Yasmin, nenek memang terlibat dalam pelenyapan papa mu tapi nenek tidak tau menau tentang masalah sekarang" kata nenek Mirna berusaha membela diri.
"Kalian berdua jahat, setelah melenyapkan Papa dan Mama sekarang kalian masih ingin melenyapkan kedua adik ku?" Yasmin tak habis pikir dengan kedua wanita tak punya jiwa kasihan itu sedikit pun.
"Kau tau Yasmin, kakek mu dulu yang tidak adil memberikan kasih sayang. Kakek mu lebih menyayangi Papa mu dari pada saya, saya juga anak kandungnya. Saya dan Papa mu memang berbeda Ibu tapi kami terlahir dengan Ayah yang sama dan kau tau? Papa mu selalu mendapatkan yang lebih" kata Tante Tina yang masih saja meneriaki Yasmin, bahkan kalau tangan Tante tina tidak terikat mungkin saja ia kini sudah melayangkan tangannya pada Yasmin.
"Tante manusia berhati iblis, wajah cantik tante tak sesuai dengan busuknya hati tante. Bertahun-tahun perusahaan Papa di bawah kendali Tante, setelah Tante lenyapkan Papa dan Mama. Dan itu pun belum membuat Tante puas? Sampai kapan dendam itu terus tertanam dalam hati Tante, sampai kapan? Tante seharusnya sadar dengan semuanya" tanya Yasmin.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
...Jangan lupa like dan vote...
__ADS_1