
Semua keluarga yang melihat mereka tersenyum lega. Para mempelai itu menerima pernikahan ini dengan tulus, itu yang ada di pikiran mereka.
Perasaan aneh pun muncul dalam diri mereka masing-masing, bagi Zie meski ia sudah lama menjalin kasih namun Zie tetap bisa menjaga kemurnian dirinya. Gio juga tidak pernah menuntut Zie yang mereka lakukan hanya sebatas bergandengan tangan.
"Sudah, di lanjut nanti malam. Sekarang segera tandatangani surat pernikahan kalian" goda Mama Farah pada pengantin baru itu.
Sontak wajah kedua pengantin itu bersemu merah, Langit berusaha menampilkan sikap yang tenang. Berbeda dengan Zie, ia menjadi salah tingkah.
"Apa kamu sudah nggak tahan Lang?" bisik Papa Dion di telinga Langit.
"Seperti yang Papa pikirkan" jawab Langit se enaknya. Membuat Papa Dion tersenyum mendengar jawaban Langit.
Resepsi diadakan pada malam hari, Zie terlihat begitu bersinar di atas pelaminan. Hari barunya akan di mulai dari sini, ia benar-benar menjadi Nyonya Muda Bagaskara. Mereka tidak hentinya menyalami tamu yang hadir membuat Zie merasa pegal di kakinya. Langit yang peka pun akhirnya menyuruh Zie untuk duduk.
"Kenapa? Capek?" tanya Langit khawatir melihat Zie tidak terlihat nyaman.
"Sedikit Mas, kakiku berasa pegel" jawab Zie tanpa sadar memanggil suaminya dengan sebutan Mas.
__ADS_1
Deg!
Detak jantung Langit berdetak tidak seperti biasa mendengar Zie memanggil dirinya dengan sebutan Mas membuat Langit sedikit salah tingkah. Sebutan yang sebenarnya sangat sederhana, namun mampu tergiang terus di telinga Langit.
"Sini aku lihat" Langit menjongkok di depan Zie, ia tidak memperdulikan para tamu mereka yang memandang kearah mereka.
Zie menolak saat Langit ingin memijat kakinya, namun Langit tidak menghiraukannya karena merasa walau bagaimanapun Zie sekarang adalah tanggung jawab nya.
"Jadi ini yang kamu maksud sibuk dan tidak bisa bertemu denganku?" terdengar suara yang berat di dekat mereka.
Zie mengangkat wajahnya, ia terperanjat kaget. Karena suara itu berasal dari orang yang sangat ia kenal, Zie tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Ia hanya mampu berucap dengan kepala menunduk.
"Apa yang kurang dariku sayang? Aku selama ini menjaga dirimu dengan benar tapi kau malah menggoreskan luka yang sangat dalam!" Gio tidak mampu menahan emosinya, ia berkata sambil menunjuk-nunjuk kearah Zie.
Langit yang mengerti akan situasi seperti itu, ia langsung menjentikkan jarinya keatas dan dengan segera para bodyguard nya datang mendekat dan membawa Gio pergi dari sana sebelum menghancurkan acara resepsi pernikahan ini.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Langit sedikit berbisik di dekat telinga Zie, Zie hanya mengangguk.
__ADS_1
"Boleh aku pergi ke kamar duluan?" Zie merasa sangat capek, di tambah dengan kedatangan Gio di pernikahan nya.
"Kita bareng saja, kamu pasti membutuhkan aku" ucap Langit lalu berpamitan pada orang tua mereka.
Di saat Langit akan memasuki kamar pengantin, Zie menarik tangan Langit dan membimbingnya menuju kamar lain.
"Itu kamarnya Clara, kita ke kamarku saja. Aku juga punya kamar sendiri kok!" Zie mengajak Langit untuk masuk ke kamarnya sendiri.
Langit memandangi seisi kamar tersebut, kamar dengan dinding bercat hijau muda dan krem yang terlihat segar dan rapi.
"Mas mau mandi dulu, apa aku dulu?" tanya Zie tanpa merasa malu.
"Kamu dulu"
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote...