
Sepertinya begitu juga dengan saat ini, pria tua berdarah dingin itu akan kembali memberikan sedikit arahan dan juga pelajaran pada Handoko yang sudah berani bermain-main dengannya.
"Handoko bagaimana peluru yang menembus kedua kakimu, apa kau ingin aku mengambilnya?" Tanya papa Hardy dengan senyum sinis.
Masih ingatkah kalian dengan malam kemarin, malam kemarin papa Hardy melepaskan peluru panas pada kedua kaki Handoko dan sampai saat ini peluru itu masih setia bersarang di sana dengan baik. Bahkan papa Hardy sama sekali tidak berpikir untuk melepaskan Handoko dari dua peluru itu. Saat ini Handoko tengah berkelai lemah dihadapan papa Hardy dan juga Adam, di sana tidak ada Damar sebab Papa Hardy tidak mengijinkan Damar untuk ikut juga karena Yasmin yang sedang hamil.
Damar sangat ingin memberikan tanda bekas tangannya pada tubuh Handoko untuk menjadi kenangan kalau ia pernah menyakiti anak dan mamanya. Namun Papa Hardi melarang keras karena Papa Hardy memiliki keyakinan dari dulu untuk tidak membunuh ataupun menyakiti seseorang saat sang istri tengah hamil mengandung.
"Hati ini sakit sekali" Handoko merasakan betapa sakitnya peluru itu selama satu malam ia tersiksa.
"Aku bisa mengambilnya kalau kau mau?" Papa Hardy memberi penawaran dengan senyum penuh misteri.
"Apa kau yang mengambilnya?" Handoko tampaknya sok dengan jawaban papa Hardy yang enteng. Papa Hardy mengambil peluru itu apakah mungkin, Handoko sepertinya sangat merasa takut dengan tawaran papa Hardy.
__ADS_1
"Ya" papa Hardy tersenyum bahagia melihat penderitaan Handoko, ia sudah lama tidak merasakan manisnya cairan berwarna merah itu.
"Hardy tolong aku sudah tidak sanggup" teriak Handoko yang terlihat frustasi karena rasanya ia lebih memilih langsung mati daripada dibiarkan mati perlahan.
"Baiklah karena aku masih bermurah hati, maka aku akan memerintahkan anakku Adam yang mengambilnya" ucap Papa Hardy dengan tangannya memberikan benda tajam pada Adam.
Ada menerima dan berjongkok, ia langsung membelah kaki Handoko untuk mengambil ke dua peluru itu.
"Sakit!" Teriak Handoko.
"Cengeng sekali, biar aku obati lagi. Lihatlah betapa baiknya aku, kau orang pertama yang ku obati" ada memberikan perasan jeruk sayur pada luka Handoko dengan sangat banyak.
"Aaaaaaa, perih sekali aku sudah tidak sanggup" Handoko berteriak sekencang nya merasakan perih, sungguh Adam tidak memiliki hati nurani sedikitpun.
__ADS_1
Pria didikan papa Hardy itu seakan berubah menjadi serigala tanpa maaf bila sudah dihadapkan dengan hal berbau hukuman.
"Bagiku itu terlalu baik, kau ingat saat kau memperlakukan cucuku seperti binatang? Kau memukuli istriku, jadi kau harus membayar setiap bekas lebam yang ada di tubuhnya dengan nyawamu!" Tegas Papa Hardy.
"Aku minta maaf Hardy, aku minta maaf tolong lepaskan aku" Handoko memohon ia benar-benar tidak tahan lagi.
"Tidak ada kata ampun dalam kamusku. Oh ya kau juga orang yang mencelakai orang tua Yasmin kan, mengusir anak yatim itu ke jalanan. Dan kini kau juga masih ingin mencelakai anak Yasmin hanya demi uang, sepertinya perbuatanmu sangat kejam dan kau lihat harimau lapar di kandang itu?" Papa Hardy menunjukkan seekor harimau yang ia pinta pada pengawalnya.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
...Jangan lupa like dan vote...
__ADS_1