ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Zie 36


__ADS_3

"Boleh aku masuk?" tanya Langit menatap lekat wajah Zie.


Zie sedikit takjub dengan sikap Langit yang masih meminta persetujuan dari dirinya, terlihat sekali bahwa ia masih menghormati perasaan Zie. Zie memantapkan hatinya lalu mengangguk setuju, lagian bila dia menolaknya lagi Langit akan tetap meminta hak nya di kemudian hari.


Mendapat anggukan dari Zie, Langit tersenyum lalu menghujani ribuan kecupan di wajah Zie sebelum ia memposisikan dirinya. Zie tersenyum geli saat melihat Langit begitu senang mendapat persetujuan darinya untuk membelah duren.


Saat Langit mulai menempelkan benda tumpulnya, terdengar nada dering yang berbeda dari ponsel keduanya. Langit mencoba membiarkannya dan tetap melanjutkan aksinya, namun suara dering ponsel mereka tidak mau berhenti. Zie yang menyadari mungkin ada suatu hal yang begitu penting menyuruh Langit mengambil ponsel miliknya dan milik Langit yang tergelatak di atas nakas samping ranjang Zie.


"Mas kita angkat dulu, mungkin ada hal yang penting hingga dering ponsel kita tidak berhenti" bujuk Zie.


"Tidak ada yang lebih penting dari ini!" dengus Langit kesal.


"Mass, tapi ponselku juga berdering terus dari tadi. Mungkin itu panggilan dari ruang IGD. Kamu tidak lupa profesi ku kan?" rayu Zie.


"Aku akan membunuh mereka jika telpon dari mereka tidak penting!"


Dengan wajah yang memerah karena menahan emosi yang sudah di ujung ubun-ubun. Mereka benar-benar akan dalam bahaya karena sudah mengganggu ritual sucinya. Langit bangkit dari atas tubuh Zie lalu melangkah menuju nakas di samping ranjang dan mengambil ponsel miliknya dan juga milik Zie.

__ADS_1


Setelah Langit bangkit dari tubuhnya,dengan cepat Zie menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Zie merasa lega karena malam ini selamat dari kewajibannya, ia akan berterimakasih nanti pada orang yang menelponnya sekarang.


Langit memberikan ponsel milik Zie, lalu menjawab panggilan yang ada di ponsel miliknya sendiri. Masih terlihat semburat kemarahan di wajah Langit saat menjawab telpon barusan.


"Ya!" ucap Langit sesaat setelah menjawab telpon.


"..... "


"Bagaimana bisa?" wajah Langit berubah nampak gusar.


"..... "


Zie sedikit kaget dengan suara bentakan Langit, pasalnya baru kali ini ia melihat Langit se marah itu. Namun ia tidak berani bertanya pada Langit dan lebih memilih untuk menjawab ponselnya yang terus berdering.


"Hallo Assalamu'alaikum" ucap Zie dengan suara lembut.


"Zie tolong kamu ke rumah sakit sekarang juga! Karena ada dua pasien yang baru datang dengan luka tembak di bagian dadanya. Dokter Lucas tidak bisa menanganinya sendiri, sementara dokter Andrew sedang dinas di luar kota" ucap seorang perempuan di seberang telpon dengan suara yang gusar.

__ADS_1


"Sindy....!" geram Zie yang mengetahui Sindy lah yang menelponnya.


"Udah ya, Wa'alaikumsalam hehe"


Sindy adalah seorang mahasiswa jurusan keperawatan yang sama-sama magang di rumah sakit Mahardika dan bertugas menjadi partner Zie. la selalu lupa menjawab salam terlebih dahulu jika ada keadaan yang sangat urgent.


Walaupun Sindy sebenarnya hubungan Sindy dan Zie tidak dekat saat berada di kampus, namun kini mereka bersama dan hampir setiap waktu bertemu membuat hubungan mereka terjalin dengan baik.


"Ya, aku akan segera ke sana"


Zie menutup sambungan telponnya dan kini menatap Langit yang juga tengah menatap pada dirinya, bahkan Langit sekarang sudah duduk di sampingnya.


"Maaf Mas bukannya aku nggak mau melayanimu, tapi aku juga nggak bisa meninggalkan kewajibanku pada pasienku. Kamu tahu itu kan Mas? Ini menyangkut nyawa seseorang" Zie merangkai kata-kata yang pas untuk ia ucapkan agar Langit tidak marah dan murka kepadanya karena acara ritual suci mereka terganggu.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


...Jangan lupa Like dan Vote...

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2