
''Raisa, kau sangat cantik serta begitu menggoda Sayang, dan sepertinya aku telah mencintaimu dan terpikat dengan pesona mu yang begitu memabukkan.'' Ucap Tuan Hendrick lirih, kini tubuh kami sudah saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Aku menyembunyikan dada ku yang terbuka dengan kedua tangan aku silang di depan dada. Ia menyentuh dagu ku lalu setelah itu ia mendaratkan bibirnya pada bibirku. Kenyal bibirnya bisa aku rasa. Awalnya aku memberontak kecil dengan mendorong dada bidang nya agar ia melepaskan ciuman nya dari bibir ku, awal nya aku hanya diam tak merespon ciumannya, tapi semakin lama, aku malah mengikuti apa yang dilakukan oleh Tuan Hendrick. Kami bertukar saliva dengan lidah yang saling melilit. Bahkan sesekali Tuan Hendrick menggigit kecil bibir ku, akupun membalas nya dengan hal yang sama.
''Ternyata kamu cepat juga belajar nya Sayang,'' ucap Tuan Hendrick begitu pagutan kami terlepas. Tarikan nafas kami sedikit ngos-ngosan. Tuan Hendrick tersenyum nakal kepadaku. Ia terlihat sangat manis. Dan aku rasa wajah ku telah bersemu merah begitu mendengar apa yang terlontar dari bibir suamiku.
''Aku cuma mencoba mengimbangi Tuan,'' balas ku dengan wajah menunduk malu.
__ADS_1
''Kamu sangat pintar Sayang. Dan Mas begitu menyukai wanita seperti mu. Tidak naif. Setelah ini jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi, panggil aku dengan sebutan Mas atau Sayang saja. Karena saat ini kita sudah menjadi suami istri. Em ... kecuali, kau harus memanggil aku dengan sebutan Tuan saat kita sedang berada di luar atau di perusahaan. Tapi, sepertinya kau tidak akan pernah menginjak perusahaan lagi, karena kau akan menjadi ratu di kediaman Mas dan kau juga akan menjadi wanita yang akan memuaskan hasrat ke-lelakian Mas.'' Ucapnya lagi. Aku hanya mengangguk kecil mendengarkan nya.
Setelah itu permainan sebenarnya di mulai. Tuan Hendrick mengunci tubuh ku di bawah tubuhnya yang kekar dan tegap, aku pasrah, menunggu apalagi yang akan ia lakukan. Tuan Hendrick mulai menciumi bibirku lagi, setelah itu berangsur kebawah, ia meremas gundukan kenyal milik ku dengan suara lenguhan nya serta ia juga mengecup pucuk gundukan milikku yang bewarna merah muda dengan begitu dalam.
''Ranum sekali Sayang, apakah Mas orang pertama yang menyentuh gundukan indah ini?'' ucap Tuan Hendrick di sela-sela hisapannya.
__ADS_1
''Sekarang mari kita bongkar benda paling berharga yang ada di tubuh mu Sayang. Apakah kau sudah siap Sayang?'' Mas Hendrick berkata seraya melepaskan celana ku. Celana yang berbentuk segitiga.
''Apakah rasa sakit?'' tanyaku.
''Mas akan pelan-pelan Sayang, supaya kamu tidak kesakitan.'' Ucap Mas Hendrick lagi yang berhasil meyakinkan aku kalau dirinya benar-benar tidak akan menyakiti aku. Aku tidak protes, tidak menolak dan tak menghindar saat dirinya menyentuh aku karena aku tahu tugas seorang istri adalah melayani suami. Kami melakukan ini karena kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Apa yang kami lakukan sudah sah dan sudah halal, beserta bernilai ibadah. Berbeda kalau kita melakukan sama pasangan yang belum terikat pernikahan dengan kita, maka hukum nya adalah haram dan di sebut sedang bermaksiat atau berzina. Walaupun ini pertama kali seorang pria asing menyentuh dan menatap tubuh polos ku, tapi aku mencoba menikmati nya. Karena rasanya memang begitu nikmat. Tidak dapat si pungkiri. Mungkin inilah yang di katakan orang-orang sebagai surga dunia.
__ADS_1
Bersambung.