ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Zie 20


__ADS_3

Selama ini Gio selalu menjaga Zie dengan setulus hati, ia juga tidak pernah menyentuh Zie meski penampilan Zie yang suka sekali dengan pakaian yang melekat pas di tubuh nya. Tak sekali pun Gio berpikiran untuk melecehkan Zie karena ia terlalu mencintai wanita itu.


Saat mereka jalan, mereka hanya sebatas berpegang tangan dan tak lebih dari itu. la juga belum pernah mencium Zie, Gio selalu menghargai apa yang kekasih hatinya itu inginkan.


Gio tidak marah pada Zie saat mengetahui Zie menggantikan posisi Clara, ia hanya menyesalkan kenapa Zie tidak meminta pendapatnya terlebih dulu dan membicarakan masalah itu dengan nya.


Padahal selama ini mereka selalu bertukar pikiran karena profesi mereka yang sama, namun Gio sudah menjadi seorang dokter umum di rumah sakit Mahardika.


"Emmm, Sebenarnya ada yang aku omongin. Aku ...." Zie tidak bisa melanjutkan ucapannya karena langsung di potong oleh Gio.


"Kita makan dulu baru bahas apa yang mau kamu omongin!" potong Gio dengan cepat.


Dia tahu apa yang mau di omongin sama Zie, tapi dia hanya ingin makan bersama untuk yang terakhir kalinya dengan Zie karena tidak mungkin hubungan mereka bisa di perbaiki lagi.

__ADS_1


Kemudian mereka makan malam dengan sesekali mengobrol tentang masa-masa indah mereka. Ada rasa sakit di hati Zie saat membahas tentang itu, begitu sakit namun tidak berdarah.


"Gio" Zie mulai mengutarakan apa yang mau ia sampaikan.


"Bicaralah, aku siap mendengarkan keputusanmu" Gio berusaha tersenyum meski hatinya juga merasa sakit.


Zie meremas ujung baju yang ia pakai, genangan air di pelupuk matanya pun sudah mendesak ingin mengalir bebas. Sekuat tenaga ia menahannya namun apa yang di pertahankan lolos juga.


"A-aku..." Zie menangis sejadi-jadinya sebelum menyelesaikan kalimatnya.


Hatinya tidak sanggup melihat Zie seperti ini. Ini pertama kalinya mereka berpelukan dan mungkin juga menjadi yang terakhir untuk mereka lakukan.


Gio mengusap punggung Zie dengan penuh cinta, memberi kenyamanan agar Zie bisa lebih tenang. Setelah di rasa tenang, Gio melepas dekapannya pada Zie.

__ADS_1


Sementara Langit yang melihat itu mengepalkan tangan dan menggertakan rahangnya. Ia merasa marah dan ingin memukul Gio karena sudah berani menyentuh istrinya. Namun, itu semua ia urungkan agar permasalahan Zie dengan kekasihnya cepat terselesaikan.


"Udah jangan nangis, aku tau apa yang mau kamu sampaikan" tangan Gio mengusap air mata yang membasahi wajah wanita cantik itu.


"Maaf" hanya itu yang mampu Zie ucapkan.


"Kita tidak tau apa yang di rencanakan oleh sang Pencipta, manusia hanya bisa berencana namun Tuhan lah sebaik-baiknya perencana itu. Kita jalani saja apa yang sudah di gariskan meskipun hati kita sakit tapi kita harus menjalaninya dengan ikhlas. Jadilah seorang istri yang patuh pada suami, turuti semua perintahnya. Karena surgamu ada di ridho suamimu Zi. Meski berat bagiku untuk melupakan semua kenangan tentang kita, mungkin ini skenario yang paling baik untukku," Gio mengusap kembali air mata yang terus mengalir di pipi Zie.


"Maaf" ucap Zie di sela tangisannya, hanya itu yang mampu di ucapkan olehnya.


"Berbahagialah dengannya dan jangan lupakan aku sebagai temanmu. Jika dia menyakitimu segera hubungi aku, aku akan membawamu pergi darinya"


...🌷🌷🌷...

__ADS_1


...Happy Reading...


...Jangan lupa like dan vote...


__ADS_2