ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 44


__ADS_3

Keesokan paginya, Hendrick bangun dari tidurnya dengan tubuh terasa lebih fit, karena tadi malam ia tidur dengan begitu nyenyak.


Ia mengangkat kedua tangannya seraya menguap lebar, lalu ia bangkit dari kasur, ia bersiap ke kamar mandi. Saat langkahnya mulai bergerak menuju kamar mandi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, karena ia teringat sesuatu. Hendrick teringat dengan sang istri, dia teringat kalau dirinya belum menghubungi sang istri semenjak kepulangan nya ke Jakarta.


''Ya ampun, aku harap Raisa tidak marah sama aku, duh, tadi malam mata ku terasa sangat berat hingga aku tidak sempat menghubungi istri ku tersayang,'' Hendrick bergumam kecil dengan jari-jari tangannya bergerak lincah di atas layar ponsel yang telah menyala. Dirinya duduk di pinggir kasur.


Hendrick lalu menggeser gambar gagang handphone bewarna hijau, ia menghubungi Raisa dengan sebuah senyuman terlukis indah di wajah tampan rupawan nya.


Hanya dengan sekali panggilan saja, sudah terdengar suara seseorang menjawab dari seberang sana, suara yang begitu lembut dan terdengar begitu menenangkan bagi Hendrick.


''Mas, kamu ke mana aja sih? Kenapa tadi malam kamu tidak menghubungi aku, aku khawatir tauk, aku terus kepikiran dengan dirimu tadi malam, hingga tadi malam tidur ku tidak nyenyak gara-gara terus teringat dengan dirimu,'' racau Raisa, dan Hendrick masih setia mendengarkan nya. Ia senang mendengar istri kecilnya itu mengomel karena mengkhawatirkan diri nya.


''Sayang, maaf, tadi malam Mas ketiduran hingga Mas tidak sempat menghubungi mu, maaf ya Sayang. Kamu dan bayi kita apa kabar? Apakah kalian baik-baik saja di sana?'' balas Hendrick.


''Iih bisa-bisanya kamu tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan aku dan bayi kita,'' Raisa ngambek, ia memajukan bibirnya beberapa senti. Kalau Hendrick ada di dekatnya, mungkin Hendrick sudah ******* bibir ranumnya itu dengan rakus.


''Hehehe maaf, Sayang. Kamu jangan marah dong,'' Hendrick merasa bersalah.


''Ya sudah, kali ini kamu aku maafkan, Mas,''


''Mas sudah sangat merindukan kamu, rasa nya Mas ingin sekali memeluk mu dan mengelus purut mu yang sudah mulai membuncit itu,''


''Sama, aku juga sudah sangat merindukan kamu, Mas,''


''Tunggu, Mas, di sana, ya. Beberapa hari lagi Mas akan menemui mu,''


''Baiklah, Mas.''

__ADS_1


''Ya sudah, kalau begitu Mas mandi dulu, ya. Mas harus segera bersiap-siap ke kantor,''


''Baiklah, kamu jangan nakal di sana, ya. Ingat kamu itu punya aku!''


''Iya, Sayang. Mana mungkin Mas berani nakal, sementara seluruh hati dan cinta Mas sudah Mas berikan kepada kamu. Kamu jangan lupa makan dan beristirahat yang cukup agar kamu dan bayi kita sehat-sehat hingga lahiran nanti,''


''Kamu bisa saja, Mas. Iya, Mas. Aku akan menuruti semua yang kamu katakan itu,''


''Pasti wajah kamu sekarang lagi memerah karena tersipu,'' goda Hendrick, karena biasa saat Hendrick berucap mesra kepada Raisa, maka pipi Raisa yang putih mulus akan bersemu merah.


''Apaan sih!'' sahut Raisa singkat.


''Ya sudah, kalau begitu Mas mandi dulu, ya, Sayang,''


''Iya, kamu mandi yang bersih, ya,''


''I Love You to suami ku Sayang,'' balas Raisa. Setelah itu panggilan terputus.


Hendrick meletakkan ponselnya di atas nakas, setelah itu ia berjalan ke kamar mandi dengan sudut bibir tertarik ke dalam. Setelah berbicara dengan sang istri, ia merasa sangat bahagia mendengar istri nya itu sedang merindukan nya.


Tanpa Hendrick sadari, ternyata dari tadi sang mama terus menguping pembicaraan nya dan Raisa. Sonya berdiri di depan pintu kamar Hendrick dengan wajah memerah dan kedua telapak tangan mengepal erat, sungguh ia merasa sangat benci saat Hendrick mengatakan cinta kepada Raisa, Raisa si gadis kampung yang sungguh tak pantas untuk mendampingi putra nya. Begitulah pikiran nya.


Setelah itu Sonya berlalu dari depan pintu kamar Hendrick, ia berjalan ke meja makan dengan langkah kaki lebar, ia merasa sangat kesal, pagi ini mood nya sedikit jelek.


Saat sudah sampai di meja makan, Hendra bertanya kepadanya.


''Mana Hendrick, Ma?'' tanya Hendra.

__ADS_1


"Masih mandi dia,'' jawab Sonya dengan ekpresi datar. Ia memasukkan nasi ke dalam piring Hendra dengan cepat, setelah itu ia memasukkan lauk juga dengan cepat.


''Wajah kamu kenapa di tekuk begitu?'' tanya Hendra penasaran melihat wajah sang istri yang pagi-pagi sudah tidak enak di pandang.


''Tidak apa-apa, Pa,'' Sonya tersenyum memaksa senyum. Ia menyembunyikan kemarahan nya terhadap Raisa dan Hendrick dari sang suami. Karena ia tidak mau sang suami tahu kalau Hendrick sudah mempunyai istri simpanan, Sonya takut Hendra memarahi Hendrick habis-habisan, karena Sonya tahu, suami nya itu juga sangat menginginkan Anggia menjadi menantu di dalam keluarga mereka. Sonya tidak ingin terjadi keributan antara anak dan suaminya hanya gara-gara seorang wanita kampung. Makanya ia memilih menggunakan cara halus untuk menyingkirkan Raisa dari kehidupan Hendrick.


Setelah mendengar jawaban dari sang istri, Hendra tak berucap lagi, ia mulai menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Begitu juga Sonya, mereka tidak menunggu kedatangan Hendrick terlebih dahulu, karena mereka tahu Hendrick pasti masih lama bersiap-siap.


Setelah selesai sarapan pagi, Hendra berangkat ke perusahaan anak cabang untuk memeriksa dan memantau kinerja para karyawan di sana, sementara itu, Sonya berangkat ke suatu tempat untuk menjemput Anggia, karena mereka telah berjanji akan pergi menemui Raisa hari ini, mereka tidak pergi hanya berdua saja, tapi mereka membawa beberapa orang anak buah mereka untuk membantu mereka memberi pelajaran kepada Raisa. Mereka akan memberikan pelajaran yang begitu menyakitkan bagi Raisa, mereka akan membuat Raisa dan Hendrick tak bisa bertemu lagi setelah ini.


Hendrick turun melewati satu persatu anak tangga, ia berjalan ke ruang makan, begitu sudah sampai di dekat meja makan, ia bertanya kepada pelayan yang berdiri di dekat meja makan.


''Mama dan Papa ke mana?'' tanya Hendrick dengan wajah datar nya. Ia lalu duduk di kursi meja makan. Hendrick sudah terlihat rapi dan sangat tampan dengan kemeja, jas, dasi serta celana panjang bewarna hitam mengkilap yang ia pakai.


''Tuan besar dan Nyonya besar sudah berangkat, Den,'' jawan Pelayan hati-hati dengan kepala sedikit ia tundukan. Pelayan yang sudah berumur, pelayan yang merupakan kepala koki di rumah itu.


''Ke mana? Apa mereka sudah sarapan?'' tanya Hendrick lagi.


''Tuan besar akan ke kantor, kalau Nyonya Sonya saya tidak tahu dia akan ke mana. Mereka sudah sarapan tadi,'' jelas pelayan lagi.


''Baiklah. Terimakasih kasih, Bik.'' Balas Hendrick.


''Sama-sama Tuan,'' lagi-lagi pelayan itu menunduk kecil.


Sedangkan Hendrick mulai menyantap makanannya dengan cepat, karena ia tahu ia sudah sedikit terlambat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2