ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Jalan-jalan di Kebun Teh


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah sarapan pagi, Raisa dan Hendrick jalan-jalan memutari kebun teh milik Raisa yang luas. Raisa berlarian di antara kebun-kebun teh yang tumbuh subur dengan dedaunan yang menghijau, ia menikmati udara pagi yang begitu menyegarkan, matanya jauh memandang, menatap kebun teh yang tak nampak ujungnya.


Hendrick tersenyum senang melihat sang istri yang begitu ceria. Hendrick mengejar Raisa, lalu memeluk tubuh Raisa dari belakang.


''Suasana seperti ini lah yang begitu aku rindukan, Mas.'' Raisa berucap lembut.


''Iya, Sayang. Kalau begitu kamu tinggalah di sini.''


''Lalu kamu?'' kini, Raisa dan Hendrick sudah berdiri dengan saling berhadapan.


''Nanti sore Mas akan kembali ke Jakarta, karena Mama dan Papa sudah menghubungi Mas berulangkali, Mas takut mereka curiga. Tapi kamu tenang saja, Mas akan mengirimkan beberapa orang Bodyguard ke sini untuk menjaga mu, agar Tante mu itu tidak bisa berbuat yang tidak-tidak lagi kepada mu. Agar kamu selalu aman,'' jelas Hendrick.


''Baiklah,'' ucap Raisa tak bersemangat.


''Hey kamu kenapa?'' tanya Hendrick, Hendrick meraup wajah cantik sang istri dengan kedua tangannya.


''Kamu pasti akan bersenang-senang sama Anggia di Jakarta,'' ucap Raisa lesu. Dia merasa cemburu.


''Mas akan mulai jujur kepada Mama dan Papa, Mas akan mengatakan kalau Mas tidak mencintai Anggia, dan Mas berharap Mama dan Papa setuju kalau Mas membatalkan pernikahan antara Mas dan Anggia. Mas berharap Anggia juga bisa menerima keputusan, Mas.'' Ucap Hendrick yakin. Ia menciumi tengkuk Raisa, hingga membuat Raisa menjadi geli.


''Iih, nanti ada yang lihat,'' Raisa mendorong kecil dada bidang sang suami.

__ADS_1


''Biarkan saja, kita 'kan sudah menikah,''


''Tapi warga dan pekerja di kebun teh ini belum mengenali kamu,''


''Kalau begitu ayo kita bertemu sama mereka, lalu jelaskan kepada mereka kalau Mas adalah suami mu,''


''Apakah kamu tidak malu punya istri seperti aku?'' tanya Raisa.


''Kenapa harus malu? Kamu itu cantik, sangat-sangat cantik, selain itu kamu juga punya hati yang baik,'' jawab Hendrick.


''Baiklah. Kalau begitu ayo kita menghampiri mereka,'' ucap Raisa, karena Raisa dan Hendrick sekarang berada di antara kebun teh yang sepi.


Setelah itu Hendrick dan Raisa naik ke atas motor, Hendrick mulai melajukan laju motor dengan Raisa yang duduk di belakang. Raisa berpegangan pada pinggang sang suami, kepalanya ia rebahkan pada punggung tegap sang suami. Ia harap saat-saat seperti ini tidak akan cepat berlalu, karena semenjak hamil, rasa-rasanya dirinya ingin selalu berada di dekat sang suami, mencium aroma tubuh sang suami yang sudah menjadi candu tersendiri bagi dirinya.


''Non Raisa, kapan pulangnya, Non?'' tanya seseorang yang merupakan mandor di kebun teh. ''Dan ini siapa?'' dirinya menunjuk ke arah Hendrick.


''Aku pulang kemarin sore, Pak Tarman. Bagaimana, Pak? Apakah semuanya masih sama seperti dulu? Oh ya, perkenalkan ini suami aku,''


''Wah kapan Non Raisa menikah? Suami Non Raisa sangat tampan,'' ucap Pak Tarman, Hendrick dan Pak Tarman saling menjabat tangan sebagai bentuk perkenalan diri mereka.


''Aku sudah menikah dari beberapa bulan yang lalu. Alhamdulillah kalau tampan mah,'' Raisa senang mendengar kalau ada orang yang memuji ketampanan sang suami. Berbeda dengan Hendrick yang bersikap biasa saja saat orang memuji paras nya yang sempurna, karena hal itu sudah biasa Hendrick dengar.

__ADS_1


''Kalau begitu selamat ya, Non. Semoga pernikahan kalian samawa,''


''Amin. Makasih, Pak. Oh ya Pak, Bapak belum menjawab pertanyaan aku yang tadi.''


''Maksudnya, Non?'' tanya Pak Tarman.


''Iya, apakah penghasilan dari kebun teh ini masih sama seperti dulu, seperti Papa dan Mama aku masih hidup?''


''Masih, Non. Bahkan penghasilan nya semakin meningkat setiap bulan nya,''


''Alhamdulillah kalau begitu. Kalau upah para pekerjanya gi mana, Pak? Aku lihat kok pekerja nya makin sedikit,''


''Kalau itu, em, upah para pekerja semakin di turunkan, Non. Sesuai sama kebijakan yang Bu Lita buat. Hingga banyak para pekerja yang tidak betah dan tidak tahan bekerja di kebun teh ini,''


''Ya ampuh Tante Lita ada-ada saja. Kasihan para pekerja. Kalau begitu nanti sampai kan kepada para pekerja, katakan kalau upah mereka akan dinaikan dua kali lipat.''


''Apa tidak takut rugi, Non?''


''Tidak. Aku rasa tidak akan rugi, dengan membuat orang lain bahagia, insya Allah kebun teh ini akan semakin membawa keberkahan hasilnya,''


''Amin. Non Raisa sama baik seperti orang tua Non.'' Puji Pak Tarman.

__ADS_1


Setelah itu Raisa dan Hendrick berjalan memutari kebun teh, mereka menyapa para pekerja pere yang memetik pucuk teh. Banyak para pekerja yang memuji ketampanan Hendrick, bahkan ada juga yang terkagum-kagum sama ketampanan Hendrick.


Bersambung.


__ADS_2