ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
389


__ADS_3

"Mau dong" kata Edo kemudian ia duduk di sofa dan Gita meletakan baby Gibran di pangkuan Edo.


"Oeeee Oeeeee Oeeee" baby Gibran langsung menangis saat di letakan di atas paha Edo.


"Sayang kok nangis?" tanya Edo dengan panik.


"Sini sama Bunda Yasmin" Yasmin mengambil alih baby Gibran dari Edo dan menenangkannya dan dalam sekejap baby Gibran berhenti menangis.


"Lihat baby Gibran sama bini gue nggak nangis lagi, itu karena dia tau sekarang dia lagi sama malaikat" kata Damar tersenyum pada Edo.


"Terus gue apaan?" tanya Edo merasa kesal.


"Lu jin, makanya baby Gibran takut sama lu. Wajah lu serem sih" kata Damar.


"Damar Wijaya, Edo Rianda, kalian bisa diam tidak!" kata mama Sinta yang kesal pada anak-anak nya yang terus terlibat perang tak jelas.


"Oma santuy, entar tekanan darah tinggi mau?" kata Edo menatap mama Sinta.


"Iya, nanti Mama keriput sebelum waktunya" timpal Damar.

__ADS_1


"Mbak jangan marah-marah, kalau Mbak keriput sebelum waktunya nanti cucu kita manggil Mbak Oma keriput" kata mami Ratih dengan terkekeh.


"Ratih!!" kesal mama Sinta mengeratkan giginya.


"Waa ha ha ha haaa" keluarga yang lain nya tertawa, sebab mami Ratih kembali ke mode aneh nya.


"Tapi ngomong-ngomong anak lu mirip siapa ya?" tanya Damar pada Adam sambil terus memperhatikan wajah Gibran.


"Mirip gue lah, orang gue bapaknya" kesal Adam karena pertanyaan aneh Damar sangat membuatnya emosi.


"Tapi gue ngerasa anak lu mirip Fahri deh, ini pasti karena lu benci sama dia kan?" seloroh Damar.


"Heh, kalo ngomong jangan sembarangan" kata Adam dengan penuh kebencian, apa lagi ia tau Sela pernah menaruh hati pada Fahri.


"Kurang ajar lu ya, pake jitak gue lagi." kesal Damar yang juga membalas Adam.


"Adam, Damar! Diam!" kata mami Ratih dan mama Sinta secara bersamaan.


Keduanya langsung diam menatap mami Ratih dan mama Sinta yang menatap mereka dengan tajam. Dengan mendeguk saliva kedua nya perlahan diam dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Hahahahaa" Aran dan Edo malah tertawa.


"Diam!" kata Adam menatap Aran.


Terdengar suara baby Gibran menangis dengan kencang.


"Sayang, jangan nangis ya" dengan segera Sela memberikan asi pada bayinya.


"Lihat kan, Gibran nangis gara-gara ke gilaan kalian" omel mama Sinta ke pada empat putra nya yang selalu terlibat adu mulut.


Selesai dengan pertengkaran kecil antara keluarga itu, kini semua nya kembali rukun dan damai. Semua bahagia dengan jalan hidup yang telah mereka pilih, Yasmin yang awal nya anak manja serta terlahir dari keluarga berada mendadak menjadi miskin. Bahkan ia bertanggung jawab atas kedua adik kembar nya, berbagai rintangan hidup sudah ia lalui hingga kini ia bisa menjadi sesuatu yang membanggakan.


Menjadi Kakak, sekaligus orang tua bagi kedua adik nya tidak lah mudah. Rintangan yang ia lalui membuat nya banyak belajar arti dari sebuah pengorbanan dan perjuangan, tak ada yang menyangka air mata duka kini berubah menjadi air mata bahagia.


dan kini Yasmin yang di kata masih berusia belia, mampu mengimbangi sifat damar yang terkadang menyebalkan bagi nya dan bisa mengimbangi pula ke dua adik nya yang menginjak remaja.


...🌷🌷🌷...


...Happy Reading...

__ADS_1


...Jangan lupa like dan vote...


__ADS_2