
"Sah.''
''Sah.''
''Sah ....''
Gema suara saling bersahutan tersebut memenuhi ruangan tempat kami melaksanakan akad. Tuan Hendrick sudah selesai mengucapkan kata akad nya atas diriku. Aku binggung harus bersikap bagaimana, apakah aku harus menangis karena terharu atau harus marah mengingat pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak yang akan berlangsung selama setahun lamanya. Iya, aku akan menjadi istri dari seorang Hendrick hanya setahun saja lamanya sesuai dengan perjanjian di atas kertas yang sudah kami tangani dan di buat langsung oleh Tuan Hendrick sendiri. Setahun bukanlah waktu yang lama, aku akan selalu sabar untuk itu dan aku akan berusaha menjadi istri yang baik selama menjadi istri Tuan Hendrick, aku akan berusaha untuk melayaninya dengan semampu dan sebisaku.
Akhirnya aku memilih bersikap biasa saja seperti kebanyakan pengantin baru lainnya, aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan, dan Tuan Hendrick pun melakukan hal yang sama. Setelah itu aku di minta untuk menyalami dan menciumi tangan suami, aku pun melakukan itu dengan cepat. Tapi saat Tuan Hendrick di beri titah untuk menciumi kening ku, ia malah melongos dan bersikap abai, ia tak memperdulikan apa yang di perintahkan oleh penghulu.
__ADS_1
''Sudah, tidak usah banyak basa-basi, sekarang tolong ambil foto kami,'' ucap Tuan Hendrick dengan ekpresi wajah nya yang datar. Seorang pria yang memegang kamera lalu berdiri dari duduknya dan aku dan Tuan Hendrick pun bersiap untuk di ambil kan foto. Aku merasa heran, lagian untuk apa Tuan Hendrick memakai jasa fotografer, ini hanya pernikahan siri dan menurut ku lagi-lagi Tuan Hendrick bersikap berlebihan. Setelah diambil foto dalam posisi duduk, kini aku dan Tuan Hendrick di minta untuk berdiri, kami berdiri dengan posisi begitu dekat, dan bahkan tanpa aku duga, Tuan Hendrick malah merangkul pinggang langsing ku dengan tangan nya yang kekar, hal itu membuat aku kaget dan membuat aku merasa ada desiran aneh yg aku rasa di dada, karena ini pertama kalinya pinggang ku di rangkul oleh seorang pria yang tak ada ikatan darah sama sekali denganku.
''Tuan,'' bisik ku lirih tepat di telinga pria tampan yang ada di dekat ku.
''Sudah diamlah.'' Sahut nya dengan wajah datar nya. Ia malah semakin erat merangkul pinggang ku. Setelah itu beberapa foto berhasil di ambil oleh sang fotografer, bahkan Tuan Hendrick juga meminta para pelayan nya untuk ikut berfoto dengan kami. Kami berfoto dengan bermacam gaya.
''Sudah, naiklah. Tunggu saya di kamar atas,'' Tuan Hendrick memberi perintah saat kami sudah selesai dengan sesi foto-foto. Aku pun mengangguk kecil.
''Em Jasmine, emangnya orangtua suami saya di mana?'' tanyaku akhirnya ketika kami berjalan menaiki satu persatu anak tangga.
__ADS_1
''Nyonya dan Tuan besar sedang berada di luar negeri, mereka mengurus dan menangani perusahaan mereka yang ada di sana, Non Raisa.'' Jelas Jasmine.
''Oh ... Ternyata keluarga Tuan Hendrick benar-benar kaya raya ya Jasmine.''
''Iya Non. Tapi saya melihat selama ini Tuan Hendrick begitu kesepian,'' jelas Jasmine lagi, yang membuat ku merasa penasaran dan akhirnya aku melempar tanya lagi.
''Emang Tuan Hendrick tidak punya kekasih selama ini?'' tanyaku.
''Em ....'' Jasmine terlihat ragu ingin melanjutkan ucapannya. Dan aku pun menyipitkan mata tidak sabaran mendengar jawaban apa yang akan Jasmine katakan.
__ADS_1
Bersambung.