
Dokter bucin atau bisa juga CEO bucin, itulah gelar yang pantas di sematkan pada Alfi saat ini. Itu karena semenjak ia jatuh cinta pada Azura, sejak itu juga sikap nya berubah 270° walau pun itu hanya di hadapan Azura. Segala keinginan Azura meskipun kadang memusingkan kepala, tetap ia usahakan untuk wujud kan. Sungguh aneh memang, bila dulu Alfi tak henti-henti nya berusaha membuat Azura jengah dengan sikap ketus dan marah-marah nya, maka kini melihat sang istri merujak saja eh maksud othor merajuk, dia sudah kelimpungan setengah hidup. Seperti tadi, saat Azura tiba-tiba merajuk karena keinginan nya membeli sate padang naik motor sport kesayangan nya tidak di indahkan Alfi, cukup membuat Alfi kewalahan. Akhir nya, dengan berat hati Alfi mewujud kan keinginan nya. Tapi untuk berjaga-jaga, ia meminta sopir nya mengawal dari belakang.
Sebelum naik ke motor nya, Alfi terlebih dahulu mengecek kesiapan sang istri mulai dari jaket hingga helm. Karena perut nya yang sudah membuncit, Alfi pun memakaikan jaket milik nya di tubuh Azura untuk menghalau dingin nya angin malam masuk ke pori-pori sang istri. Tak mungkin Azura memakai jaket milik nya sendiri karena pasti nya tidak akan muat dengan perut buncit nya.
Setelah memastikan semua nya aman, dengan senyum lebar nya Azura naik ke atas motor yang tentu nya di bagian pengemudi, sedangkan Alfi duduk di belakang. Alfi sampai membatin, lain kali ia harus belajar naik motor agar tidak terjadi kejadian seperti ini lagi.
"Masa' laki dibonceng bumil sih! Yang benar aja. Apa kata dunia?" dengusnya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah istri nya yang tetap saja bar-bar meskipun sedang hamil besar.
Istri pak dokter emang bikin speechless.
Tak lama kemudian, motor Azura pun membelah pekat nya jalanan malam di ikuti sang sopir di belakang.
__ADS_1
Alfi hanya bisa meringis sambil memeluk perut buncit sang istri.
'Masih kecepatan normal? 35km/jam. Astaga, istri ku, kau memang bar-bar sekali" gumam nya yang pasti tak ia suara kan demi menciptakan kedamaian dunia per rumah tanggaan.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di kedai sate Padang yang tak jauh dari club malam Miracle, tempat Azura dulu mencari nafkah. Alfi pun segera memesan sate padang sesuai keinginan sang istri. Dulu, hampir setiap pulang dari Miracle, Azura sering mampir ke sini. Tentu nya ia di temani sang sohib terbaik, Leon.
Bumil yang merepotkan. Untung cinta, kalau enggak mungkin udah di lemparkan ke sungai Amazon.
"Tenang aja mas Alfi sayang, ini masih kecepatan normal kok" bantah nya halus seraya tersenyum manis.
*******
__ADS_1
Selesai makan, Alfi langsung mengajak sang istri pulang. Hari sudah menunjuk kan hampir pukul 3 dini hari. Masih dengan mengendarai motor, Azura menjalankan motor itu namun dengan kecepatan yang lebih rendah dari sebelum nya.
Namun, tiba-tiba Azura menepikan motor nya ke salah satu sisi jalan tanpa berkata apapun. Alfi sampai bingung dan hendak bertanya. Seturun nya dari motor, Alfi hendak bertanya kenapa Azura berhenti tiba-tiba? Apakah ada sesuatu yang ia inginkan lagi?
Tapi pertanyaan itu seketika tertelan bulat-bulat saat melihat wajah pucat sang istri dengan bulir bening yang mengalir deras di dahi nya. Tangan Azura terulur memegang perut nya sambil mendesis.
...🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak...