
"Ma, Sela berdosa banget ya Sela udah jadi penyebab kematian janin Sela sendiri" tutur Sela di selingi tangisan yang terasa menyesakan dada.
"Sayang" Adam menghapus air mata Sela, ia juga sedih dengan apa yang terjadi pada mereka namun semua sudah terjadi dan sekarang hanya perlu ikhlas semua kesalahan akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk kedepannya agar menata hidup menjadi lebih baik lagi.
"Kakak juga pasti sebenarnya marah kan sama Sela? Karena Sela nggak bisa jaga kandungan Sela?" tanya Sela dengan perasaan bersalah.
"Sela, kamu jangan berpikir begitu nanti pasti di berikan lagi sama Allah dan yang penting terus berusaha dan berdoa" kata mama Sinta yang juga memeluk Sela dari samping.
"Nah dengerin kata Mama yang, usaha dan doa jadi kamu nggak boleh nolak kalau kakak jengukin gitu karena itu sebenarnya usaha yang Kakak lakukan demi kita juga" ucap Adam dengan bangga pada Sela yang duduk diantara mama Sinta dan dirinya.
Sela yang awalnya menangis kini malah di buat kesal, Adam kini rasanya sudah mulai menunjukan jati dirinya di hadapan Sela. Adam yang berbicara tanpa di saring dan di tambah lagi banyak keluarga yang mendengarnya, lengkap sudah rasa malu yang di berikan Adam padanya.
"Kakak apasih nggak jelas banget deh" kesal Sela menyenggol Adam yang menyandarkan kepala pada pundaknya.
"Iya kakak kan cuman menjelaskan apa yang Mama bilang supaya kamu paham" jelas Adam lagi lalu ia berbisik di telinga Sela agar tak ada yang mendengar.
__ADS_1
"Biar usaha kita cepet dapat hasil kita seminggu nggak usah keluar kamar" kata Adam dengan suara sangat pelan bahkan mama Sinta pun yang duduk di samping Sela di buat bingung sebab ia tak mendengar.
"Ish, apa sih" Sela benar-benar di buat kesal hingga ia menatap tajam Adam, tapi Adam malah mencolek dagunya.
"Ahahaha" Adam tertawa dan tangan Adam di tepis oleh Sela.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya mama Sinta penasaran.
"Mama merasa jadi kambing congek tau nggak" mama Sinta sebenarnya ingin tau apa yang menjadi topik pembahasan Adam dan Sela tapi ia juga takut kalau pembahasan kedua anak itu adalah mengenai ranjang, itu sangat memalukan.
"Ahahahaaa" keduanya tertawa yang justru membuat mama Sinta makin bingung.
"Mama nggak usah di tanya, kayak nggak pernah muda aja" Damar juga ikut menimpali pembicaraan ketiga orang itu.
"Damar gue pinjem satu ya bayi lu, ini namanya siapa?" Adam menanyakan nama bayi yang di gendong Sela.
__ADS_1
"Namanya Al, dan apa tadi lu bilang pinjem?" Damar rasanya ingin membenturkan kepala Adam ke tembok.
"Iya pinjem sehari kali bro, kasihan tau bini gue" kata Adam dengan wajah di buat semelas mungkin.
"Apaan pinjem, buat dong!" ketus Damar.
"Damar, kamu ya mulut asal ngomong aja nggak ada di pikir dulu" mama Sinta malah kesal mendengar Damar yang berbicara sembarangan, bagaimana pun Sela masih bersedih dengan kehilangan bayinya tapi Damar malah asal bicara.
"Siang malam gue usaha terus, gue tidur cuman beberapa jam aja demi banting tulang peras keringat buat dapat bayi, sekarang gue tinggal tunggu hasilnya aja" Jawab Adam yang tak mau kalah.
"Kak Adam nggak usah ngomong gitu juga" Sela geram dan mencubit lengan Adam dengan kecang meluapkan segala ke kekesalannya.
...🌷🌷🌷...
...Happy Reading...
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote...