
Setibanya di rumah sakit, aku berjalan sedikit berlari, aku sudah tak sabar lagi untuk melihat Yumna. Beberapa kali aku tidak sengaja menabrak tubuh orang yang yang aku lewati.
''Sayang, hati-hati ...,'' Mas Hendrick menyapa ku, ia seperti kesulitan mensejajarkan langkah nya dengan langkah ku. Kami berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, beberapa orang menatap kami seperti keheranan, tapi sempat juga segerombolan wanita muda yang menatap Mas Hendrick dengan penuh kekaguman. Aku juga bisa mendengar saat mereka berkata, ''Waw, tampan sekali pria itu. Duh, mimpi apa aku semalam hingga bisa melihat pria yang ketampanan sudah melebihi ketampanan aktor-aktor di Indonesia,''
''Iya, ia sungguh tampan. Mirip sama aktor-aktor luar negeri yang pernah aku lihat di tv tv,'' timpal temannya lagi. Sedangkan Mas Hendrick tak peduli dengan pujian-pujian yang orang-orang lontarkan kepada dirinya. Mungkin ia sudah merasa bosan mendengar pujian yang orang tunjukkan padanya.
Begitu sampai di ruangan tempat Yumna berada, aku langsung saja menghambur memeluk tubuh nya yang terbujur kaku tak bergerak lagi. Bibir nya yang dulu bewarna merah muda kini telah berubah pucat, begitu pun kulitnya, kulit nya terasa dingin.
__ADS_1
''Dek, kenapa kamu pergi tidak menunggu Kakak dulu. Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa pamit kepada Kakak.'' Racau ku dengan suara serak. Mas Hendrick selalu sabar mendampingi aku. Aku membelai pipi Yumna, pipi mulus yang terasa dingin. Aku teringat sama mimpi ku tadi, mungkin mimpi tadi adalah sebuah pertanda kalau Yumna akan pergi dan tadi itu juga merupakan caranya untuk berpamitan kepadaku dengan di dampingi oleh kedua orang tua kami. Setidaknya aku merasa lega, karena sekarang Yumna sudah berkumpul bersama orang tua kami.
Setelah cukup lama aku berada di dekat tubuh Yumna, tiba saatnya di mana pihak rumah sakit akan melakukan tindakan selanjutnya untuk proses pemulangan jenazah Yumna. Saat di tanya jenazah Yumna akan di bawa ke mana, akupun mengatakan kalau jenazah Yumna akan di bawa ke rumah duka, yaitu rumah kontrakan, aku pun memutuskan untuk di kebumikan di daerah sana. Mas Imam pasti mau membantu aku mengurus semuanya. Karena selama ini hubungan Yumna dan Mas Imam juga dekat, mereka biasa becanda gurau dan di area kontrakan kami rata-rata masyarakat di sana sudah mengenal Yumna dan diri ku. Mereka pasti juga merasa ikut kehilangan sosok Yumna, apalagi teman-teman sekolah dan guru sekolah Yumna.
Ambulance berjalan di belakang mobil Mas Hendrick, mobil saling beriringan menuju kontrakan. Aku menunjuk jalan kepada Mas Hendrick.
Kendaraan roda empat yang membawa kami sudah meluncur cukup jauh, hingga tidak terasa kami sudah tiba di tempat tujuan. Mobil berhenti, aku keluar dari dalam mobil, aku meminta agar Mas Hendrick dan orang yang membawa ambulans menunggu ku sebentar, aku akan memberi tahu tentang kematian Yumna kepada Mas Imam, agar Mas Imam mengumumkan di toa mesjid.
__ADS_1
Aku berlari menyusuri jalan setapak memasuki gang tempat tinggal aku dan Yumna, saat sudah sampai di dalam gang, beberapa orang yang mengenali aku bertanya kenapa aku berlari, tapi aku tak sempat menjawab pertanyaan mereka, yang menjadi tujuan aku adalah Mas Imam. Aku akan pergi menemui Mas Imam di rumahnya. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku tiba di depan pagar dengan tinggi sedang, rumah Mas Imam merupakan rumah yang paling besar dan bagus di area kontrakan tempat tinggal kami. Aku mengucapkan salam dengan tak sabaran, setelah menunggu beberapa saat, Mas Imam keluar dari dalam rumah dengan di ikuti oleh Mama dan Papanya. Mereka meminta aku untuk masuk dan aku pun mengikuti permintaan mereka.
''Ada apa Nak Raisa? Kenapa wajah mu terlihat begitu panik dan mata mu juga bengkak,'' tanya Ustadzah yang merupakan Mama Mas Imam. Mas Imam pun terlihat menatap ku lekat dengan kecemasan yang kentara di wajah tampannya.
''Yumna, Yumna sudah meninggal dunia Ustadzah,'' jawabku, setelah itu tangis ku pecah lagi. Mas Imam dan kedua orangtuanya serentak mengucapkan kalimat duka, mereka juga bertanya lagi kepada ku untuk memastikan kalau aku tidak salah bicara.
''Beneran. Sekarang ambulans sedang berada di jalan raya di depan gang, aku butuh bantuan masyarakat sini untuk membantu mengangkat jenazah Yumna menuju kontrakan yang aku huni,'' jelas ku. Lalu setelah itu Mas Imam dan Papa nya bergerak cepat, mereka keluar dari rumah untuk membantu mengurus jenazah Yumna. Sedangkan aku masih berada di rumah Mas Imam, Mama Mas Imam berulangkali mengucapkan kata penyemangat untuk diriku, ia juga meminta agar aku sabar menghadapi cobaan yang menimpa diri ku. Bahkan wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu juga mengambilkan aku air minum. Mama Mas Imam sangat baik dan lembut, selama ini keluar Mas Imam sudah banyak membantu aku dan Yumna.
__ADS_1
Bersambung.