ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
22


__ADS_3

Raisa duduk di depan gundukan tanah yang di atasnya telah bertaburan berbagai macam jenis kembang. Kepalanya menunduk, tangannya memegang tanah liat berwarna kekuningan, lalu ia berkata, ''Kakak pamit pulang dulu ya Dek. Kakak akan selalu mengirimkan doa untuk kamu dan untuk kedua orang tua kita.'' Ucap Raisa dengan air mata terus mengucur membasahi pipi. Hendrick berdiri di sampingnya, begitu juga Imam dan Mama nya Imam. Mereka bertiga masih setia mendampingi Raisa, sedangkan warga yang lain sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.


''Sudah Nak Raisa, sekarang ayo kita pulang, sebentar lagi malam akan datang,'' ujar Mama Imam. Ia membelai punggung Raisa dengan pelan.


''Iya Raisa. Sekarang Yumna sudah berada di tempat yang sesungguhnya dan sebaik-baik nya, selanjutnya tinggal menunggu giliran kita lagi yang akan menyusul diri nya. Kamu jangan pernah merasa sendiri di dunia ini, karena aku dan Mama akan selalu ada untukmu.'' Kini Imam yang bersuara dengan nada yang begitu lembut. Mendengar apa yang di katakan oleh Imam di akhir kalimat, membuat Hendrick merasa cemburu. Dari tadi Hendrick memang sudah bisa melihat gelagat aneh pada diri Imam, sebagai sesama lelaki, ia tahu kalau Imam menyukai istrinya, ia bisa menebak dari cara Imam dalam menatap Raisa. Raisa hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan Ibu dan anak yang berada di dekatnya. Sedangkan dari tadi Hendrick hanya diam, Hendrick sibuk dengan pikirannya masing-masing. Setelah itu Raisa berdiri dari hadapan makan, lalu mereka berjalan dengan saling beriringan menuju rumah.


Raisa berjalan berdampingan dengan Ustadzah, dan di belakang mereka Hendrick berjalan berdampingan dengan Imam.


''Terimakasih ya Hendrick, karena kamu sudah berkenan untuk ikut membantu proses pemakaman Yumna di tempat yang sempit ini,'' ucap Imam mengajak Hendrick mengobrol.


''Iya. Sama-sama. Sempit apanya, masih lapang gini kok di bilang sempit,'' balas Hendrick disertai kekehan kecil.

__ADS_1


''Ya pastinya berbeda lah dengan area tempat tinggal orang kaya dan berduit, dan tempat pemakaman nya pasti juga berbeda, pemakaman orang berduit pasti bersih dan terurus, tidak seperti di sini, kamu pasti,'' balas Imam lagi.


''Menurut aku tidak ada yang berbeda. Bukankah semua manusia yang hidup di dunia ini punya kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakan hanya amal ibadah saja, sedangkan yang miskin dan kaya di pandangannya sama,'' balas Hendrick terdengar bijak. Mendengar apa yang di katakan oleh sang suami, Raisa tersenyum simpul, ia tidak menyangka kalau Hendrick cukup tahu tentang agama.


Imam tak membalas perkataan Hendrick lagi, ia hanya menepuk-nepuk kecil punggung Hendrick di sertai kepalanya yang terus mengangguk, ia setuju dengan apa yang di katakan oleh Hendrick.


Tidak lama setelah itu, mereka berpisah di pertigaan jalan, Imam dan Mamanya berjalan menuju rumah mereka, sedangkan Hendrick dan Raisa berjalan ke kontrakan.


Tadi Hendrick sudah memberikan uang sebanyak dua puluh juta kepada Imam, katanya uang itu ia sumbangkan untuk biaya tahlilan Yumna selama beberapa hari, tahlilan yang akan di adakan di masjid saja dan untuk di bagikan kepada orang-orang tidak mampu juga anak yatim-piatu di gang tempat tinggal mereka. Imam menerima uang sumbangan dari Hendrick dengan senang hati. Dan Raisa juga sudah mengetahui perihal itu.


''Di makan dulu Mas. Kalau kamu tidak suka tidak usah di makan,'' ucap Raisa seraya meletakkan piring yang berisi nasi dan telor dadar di hadapan Hendrick yang telah duduk lesehan di atas lantai yang berlapiskan tikar tipis. Raisa juga meletakkan segelas air putih di hadapan sang suami.

__ADS_1


''Siapa bilang Mas tidak suka Sayang. Apapun yang kamu masak Mas akan melahapnya,'' balas Hendrick tersenyum simpul. Rasanya ia ingin selalu membuat sang istri merasa bahagia, Hendrick benar-benar sudah mencintai Raisa.


''Baguslah kalau begitu, aku senang dengarnya.''


''Setelah ini kita pulang ke rumah, ya.''


''Em Iya.''


''Kamu tenang saja, Mas akan menemani kamu setiap harinya untuk mengunjungi makam Yumna.''


''Terimakasih banyak Mas karena kamu telah banyak membantu aku.''

__ADS_1


''Mas senang bisa membantu istri Mas dan adik ipar Mas sendiri.'' Ucap Hendrick lagi. Raisa begitu senang mendengar apa yang di katakan oleh sang suami. Raisa tidak menyangka kalau ia bisa menikah dengan pria yang tampan, baik dan juga selalu perhatian dengan nya. Ternyata dugaannya mengenai sosok Hendrick selama ini salah besar, Hendrick tidak seburuk tentang apa yang orang-orang katakan. Tentang orang-orang yang selalu mengatakan kalau Hendrick adalah CEO sombong, angkuh dan dingin.


Bersambung.


__ADS_2