ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 38


__ADS_3

Lita, Deri dan Mira tersenyum miring melihat kedatangan Raisa, mereka berdiri dari duduk, lalu Lita berucap kepada sang keponakan.


''Bagus, kamu datang kembali ke rumah ini, Raisa. Hahaha, kamu mana sanggup hidup di luaran sana. Makanya jangan sok-sokan kabur dari kampung ini. Akhirnya malah pulang sendiri,'' Lita berkata seraya terkekeh kecil, ia tersenyum meremehkan Raisa.


''Heh bodoh! Mana Adik mu itu? Kenapa kamu cuma sendirian pulang ke sini? Apa kamu sudah menjual Adik mu itu kepada Om-om berperut buncit untuk ongkos kamu pulang ke sini. Ckckck! Sungguh menyedihkan.'' Mira pun berkata dengan senyuman mengejek.


Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Mira, tanpa di duga-duga, Raisa berjalan dengan langkah kaki lebar menghampiri Mira, begitu sudah sampai tepat di hadapan Mira, ia melayangkan satu tamparan keras ke pipi kanan sepupu nya itu. Wajahnya memerah, ia sungguh tidak suka mendengar Mira menyebut-nyebut nama sang adik yang telah tiada, darahnya terasa mendidih.


Tubuh Mira hampir terjatuh saat pipinya terkena tamparan dari Raisa, ia tidak menyangka Raisa berani menamparnya, selama ini Raisa selalu bersikap lembut dan penurut, tapi kali ini Raisa terlihat berbeda.


''Heh, dasar kurang ajar! Berani sekali kau menampar Mira,'' Deri, Papanya Mira protes. Ia menghampiri Raisa, ia ingin membalas dengan menampar pipi Raisa menggunakan tangan nya, tangannya sudah terangkat, setelah itu ia mengayun tangannya cepat, tapi belum sampai tangan itu mendarat pada pipi mulus Raisa, tiba-tiba tubuhnya tersungkur ke lantai. Anak buah Hendrick rupanya dari tadi telah berdiri di dekat pintu, begitu mereka melihat sang nyonya tidak dalam keadaan baik-baik saja, mereka langsung saja bergerak masuk dan menghadiahkan satu bogeman keras ke pipi Deri.

__ADS_1


Melihat sang suami di pukul dengan kuat, Lita menjerit seraya membantu sang suami berdiri, sedangkan Mira masih diam di tempat semula. Ia memegang pipinya yang terasa perih, nyeri, panas dan nyut-nyutan.


''Hey, siapa kalian? Ngapain kalian berada di rumah saya? Sana keluar!'' teriak Lita seraya menunjuk ke arah empat orang pria bertubuh tinggi kekar. Empat orang yang merupakan anak buah Hendrick. Sedangkan Hendrick sendiri masih menunggu di luar.


''Hah, apa kamu tidak malu dengan mengaku-ngaku kalau rumah ini adalah rumah kamu? Ini rumah aku, rumah peninggalan orang tuaku!'' Raisa berkata dengan nada keras dan penuh penekanan di setiap ucapannya. Kini ia menyebut Lita dengan sebutan kamu. Entahlah, rasanya ia sungguh sudah tidak sudi lagi memanggil Lita dengan sebutan Tante. Karena Lita bukan lah Tante yang baik.


''Sudah berani kamu sekarang, Raisa? Sudah merasa hebat kamu?'' balas Lita berang dengan wajahnya yang memerah. Kini ia dan Raisa sudah berdiri dengan saling berhadapan.


''Coba saja kalau bisa!''


''Kalian, usir paksa mereka dari rumah ini sekarang juga!'' Raisa memberi perintah kepada orang-orang suruhan nya, dengan cepat orang suruhannya bergerak, mereka memegang tangan Lita, Deri dan Mira, mereka menarik paksa agar mereka bertiga segera keluar dari rumah.

__ADS_1


''Heh di bayar berapa kalian oleh anak ingusan ini? Coba sebutkan nominal nya, biar aku bayar kalian lebih mahal lagi dari pada dia.'' Racau Lita. Kini tubuh nya sudah berada di teras rumah. Begitu juga dengan anak dan suaminya,


''Anda tidak akan sanggup membayar kami! Rumah saja kalian numpang di rumah orang. Ckckck!'' balas anak buah Hendrick, mereka tertawa mengejek.


''Lepas! Aku tidak mau pergi dari sini! Ma, lakukan sesuatu, Ma.'' Teriak Mira, sungguh ia tidak mau lagi tinggal di rumah reot berdinding papan. Lita tak bersuara lagi, begitu juga Deri. Mereka tidak bisa melakukan perlawanan lagi, karena mereka merasa tidak sanggup melawan anak buah Raisa.


Mira terdiam tersipu melihat Hendrick yang berdiri di dekat teras rumah, ia merasa seperti melihat seorang pangeran yang turun dari khayangan, di matanya, Hendrick sangat lah tampan dengan bentuk tubuh yang begitu sempurna.


''Siapa kamu?'' tanya Lita lirih seraya menatap Hendrick. Di dalam hati, Lita pun memuji ketampanan Hendrick.


''Dia suami aku.'' Jawab Raisa tersenyum simpul seraya menggandeng tangan Hendrick. Hendrick membalas dengan mencium pucuk kepala Raisa. Melihat itu, Mira dan Lita menggeleng kepala.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2