
''Su, suami?'' ucap Lita kaget dan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raisa. Ia pikir Raisa hanya mengada-ngada. Karena menurut nya Hendrick tidak pantas untuk Raisa, Hendrick lebih pantas untuk anaknya, Mira.
''Iya. Emang kenapa? Tidak percaya?'' Raisa berkata seraya tersenyum simpul melihat Lita, Mira dan Deri yang hanya bengong setelah mendengar pengakuan nya tadi. Raisa semakin erat memeluk tubuh tegap Hendrick, Hendrick pun sama, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Raisa dengan begitu mesra.
''Iya, kami tidak percaya.'' Kali ini Mira yang bersuara. Ia merasa iri melihat keberuntungan Raisa. Karena dari dulu, Raisa memang selalu lebih unggul dan beruntung dari dirinya.
''Benar. Raisa adalah istri saya, dan saya sangat mencintainya. Saya akan melindungi Raisa dari orang-orang yang berniat jahat sama istri saya. Dan bahkan saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawa orang-orang yang berani menyakiti istri saya. Kalian lihat, mereka itu anak buah saya, bahkan saya punya seratus orang lebih anak buah yang bertubuh besar seperti mereka, mereka akan siap kapan saja bila saya memberikan perintah kepada mereka, termasuk menghabisi kalian. Makanya kalian jangan main-main sama Raisa.'' Hendrick berkata lantang dengan gayanya yang angkuh. Tatapan matanya yang tajam seakan mampu menghujam lawan bicaranya, membuat lawan bicaranya menunduk takut.
Lita, Mira dan Deri tak berani bersuara lagi, wajah mereka tiba-tiba memucat setelah mendengar perkataan Hendrick. Apalagi anak buah Hendrick yang mengacungkan buku tangan ke hadapan mereka, maka semakin menciut lah nyali mereka.
''Oh, ya. Lebih baik setelah ini Mira saja yang kalian jodohkan sama juragan tanah yang waktu itu. Mira lebih pantas untuk nya, hitung-hitung untuk membantu perekonomian keluarga kalian yang tengah sekarat. Kalian lihat, pria yang pantas bersanding dengan aku adalah pria seperti ini, bukan pria yang pendek, berperut buncit dan tua seperti juragan tanah itu. Dia mah cocoknya untuk Mira.'' Raisa berkata seraya terkekeh kecil, ia tersenyum mengejek.
''Dasar kurang ajar!'' Deri mengepalkan buku tangannya, ia merasa geram mendengar perkataan Raisa.
''Apa? Kalau berani ayo sini?'' tantang Raisa masih dengan senyum mengejek. Karena Deri tak bisa bergerak menghampiri nya, karena tubuh Deri di pegang oleh anak buah Hendrick.
''Kamu pasti telah menggadaikan adik mu untuk mendapatkan pria ini!'' tuduh Lita, karena Lita merasa penasaran di mana keberadaan Yumna. Karena selama ini ia tahu, Yumna dan Raisa tidak bisa di pisahkan.
''Diamlah wanita rakus! Aku tidak serendah itu. Yumna sudah meninggal, ia sudah beristirahat dengan tenang, berkumpul dengan Ibu dan Ayah ku. Sekarang kalian puas? Puas kalian karena Yumna sudah meninggal!'' teriak Raisa. Rasanya Raisa ingin mengeluarkan semua unek-uneknya di hadapan Lita. Sang Tante yang seharusnya menjaga dan membimbing, tapi nyatanya setelah kepergian kedua orang tuanya, sang Tante tega menyiksa hingga tak memberi Raisa dan Yumna makan seharian penuh kalau Raisa dan Yumna tidak selesai membersihkan rumah dan menyelesaikan tugas yang ia berikan. Setega itu Lita selama ini kepada Raisa dan Yumna.
Lita, Deri dan Mira merasa kaget mendengar berita kematian Yumna. Lalu mereka tersenyum puas mendengar itu.
__ADS_1
''Haha syukuri. Kasihan, sekarang kamu hanya hidup sebatang kara.'' Ejek Mira.
''Jangan salah, Raisa tidak hidup sebatang kara, karena saya yang akan selalu setia menemani nya, dan calon anak kami juga.'' Timpal Hendrick seraya mengelus pelan perut datar Raisa.
''Kamu hamil?'' tanya Lita.
''Iya. Kenapa?''
''Pasti itu anak haram.'' Ucap Deri tersenyum sinis.
Plak!
Raisa menampar keras pipi Deri. Meskipun Deri seorang pria, tapi kali ini dirinya tidak merasa takut sama Deri. Tidak hanya Raisa saja yang menampar Deri, setelah itu, Hendrick menghajar Deri habis-habisan, ia sungguh tidak terima anak mereka di sebut dengan anak haram, karena dirinya dan Raisa tidak pernah berbuat zinah, mereka melakukan hubungan badan saat mereka sudah menikah siri.
Raisa benar-benar tidak peduli lagi sama tiga orang itu. Baginya keluarga Tante nya itu pantas mendapatkan semua itu, agar mereka tidak bersikap semena-mena lagi setelah ini, dan agar mereka sadar diri.
Setelah itu anak buah Hendrick menyeret tubuh Lita, Mira dan Deri keluar dari pagar.
''Izinkan aku masuk ke rumah sebentar, aku ingin mengambil barang-barang ku.'' Ucap Lita memohon dengan air mata membasahi pipinya.
''Kamu datang ke rumah ini waktu itu tidak membawa apa-apa. Jadi pergilah dalam keadaan seperti semula.'' Ucap Raisa.
__ADS_1
''Tunggu pembalasan kami Raisa.'' Teriak Mira saat mereka sudah berada di luar pagar. Pintu pagar sudah di gembok dari dalam oleh anak buah Hendrick. Setelah itu Hendrick dan Raisa masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan tiga orang yang masih terus berteriak mengumpat nya.
Raisa bernafas lega, karena ia sudah bisa tinggal di rumah peninggalan orang tuanya lagi tanpa kehadiran para benalu itu.
Ia berjalan ke kamar miliknya dulu, kamar yang kini telah di kuasai oleh Mira. Setibanya di dalam kamar, Raisa menyingkirkan barang-barang milik Mira dari kamar itu dengan di bantu oleh Hendrick. Hendrick begitu tulus dalam menemani dan membantu wanita yang tengah mengandung janinnya. Ia melakukan semua hal untuk Raisa dengan senang hati.
''Terimakasih, ya, Mas. Karena kamu sudah memuluskan jalan ku untuk mendapatkan rumah ini kembali.'' Ucap Raisa begitu kamar miliknya sudah bebas dari barang milik Mira. Ia dan sang suami duduk di pinggir kasur.
''Iya, Sayang. Apapun akan Mas lakukan karena Mas sangat mencintai mu.'' Balas Hendrick. Raisa merasa begitu senang mendengar perkataan sang suami, tapi masih ada banyak hal yang mengganjal hatinya, yaitu tentang sang suami yang masih punya hubungan dengan wanita yang bernama Anggia dan tentang orang tua sang suami yang tidak menyukainya.
***
Malam harinya, Hendrick dan Raisa memutuskan untuk menginap di rumah Raisa. Sedangkan anak buah Hendrick tetap berjaga di luar, dengan minuman dan berbagai cemilan yang Raisa hidangkan untuk mereka. Suasana perkampungan terasa sangat nyaman dan adem, hingga membuat Hendrick dan anak buahnya betah tinggal di rumah itu.
''Sayang, Mas kangen,'' ucap Hendrick manja. Kini mereka tengah duduk di ruang keluarga seraya menonton televisi yang sedang menayangkan sinetron ikan terbang.
''Kangen apaan sih!'' sahut Raisa berpura-pura tidak tahu apa yang di inginkan sang suami.
''Mas lagi kepengen.'' Ucap Hendrick lagi. Ia merebahkan kepalanya pada paha sang istri. Dan Raisa mengelus rambutnya dengan lembut, ia juga memijit kecil kepala sang suami. Hendrick nampak begitu nyaman di perlakukan seperti itu, ia memejamkan matanya. Sesekali Hendrick mengecup perut sang istri yang masih rata. Rasanya mereka ingin tinggal berdua saja, tanpa ada gangguan siapapun.
''Ya udah, ayo. Tapi hati-hati, ya. Takutnya anak kita ke ganggu.'' Sahut Raisa.
__ADS_1
Mendengar itu, Hendrick langsung bangun, lalu ia menggendong tubuh Raisa ke dalam kamar.
Bersambung.