ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 13


__ADS_3

''Sayang, kamu dari mana saja?'' begitu aku masuk ke dalam rumah, Mas Hendrick langsung menyambut kedatangan aku dengan pertanyaan yang terdengar seperti nada kekhawatiran dan suatu perhatian. Ia berjalan menghampiri aku lalu kedua telapak tangannya meraup kedua pipiku. Kini ia tengah menatap ku lekat, dan akupun menatap wajah tampan nya dengan senyuman yang aku tunjukkan.


''Maaf Mas. Aku tadi habis dari kontrakan tempat tinggal aku dan adikku buat ambil ini,'' jawab ku seraya menunjukkan tote bag berukuran sedikit besar yang berisi pakaian milik ku.


''Apa itu?'' tanya nya dengan dahi berkerut.


''Pakaian aku Mas soalnya aku enggak punya pakaian ganti di rumah ini. Kamu sudah lama pulang nya?''


''Lumayan. Duhh kamu kok repot-repot banget pakai acara ke kontrakan segala buat ambil itu baju-baju, sini Mas ada sesuatu untukmu,'' Mas Hendrick merangkul pinggang ku lalu kami berjalan menuju ruang keluarga.


''Apaan Mas?'' tanya ku penasaran.


''Ayo,''


''Begitu sudah sampai di ruang keluarga, Mas Hendrick meminta aku untuk duduk di sofa yang empuk, aku pun menurut. Setelah itu ia mengambil beberapa paper bag dari atas lemari, lalu ia menyerahkan nya kepada ku.


''Ini untuk mu Sayang,'' ucapnya dengan senyum mengembang. Ia meletakkan paper bag di atas tubuh ku.


''Apa ini Mas?'' tanyaku seraya menerima tujuh buah paper bag. Hingga aku kesulitan untuk menyambut nya. Dan Mas Hendrick hanya tersenyum melihat aku yang kerepotan. Setelah itu ia membantu ku menyingkirkan paper bag dari atas tubuh ku dengan memindahkan ke atas sofa kosong di sebelah kanan ku. Mas Hendrick duduk di sofa di sebelah kiri ku.


''Buka saja.'' Aku mengangguk kecil setelah itu jari jemari ku mulai bergerak membuka paper bag yang pertama, setelah paper bag terbuka aku mengambil sesuatu dari dalamnya, sesuatu yang berbentuk kotak persegi panjang, ternyata sebuah ponsel keluaran terbaru, aku merasa terkejut melihat benda ajaib itu.

__ADS_1


''Ini untukku Mas?'' tanyaku merasa amat bahagia dengan barang pemberian Mas Hendrick.


''Iya, Mas kasihan lihat kamu karena kamu cuma punya ponsel jadul, Mas merasa kesulitan untuk menghubungi mu saat Mas lagi bekerja. Makanya Mas beli ponsel ini untuk mu Sayang,''


''Ini pasti harganya mahal banget,'' ucapku, karena aku melihat logo di belakang ponsel terdapat gambar apel di gigit.


''Bagi Mas tidak ada barang yang mahal. Yang mahal itu hanya cinta, perhatian dan suatu kepedulian,''


''Kenapa kamu ngomong gitu?''


''Em, tidak apa-apa Sayang. Sudah, lupakan saja,''


''Sama-sama Sayang. Itu, buka lagi paper bag yang lainnya.''


aku lalu membuka satu persatu paper bag yang sepertinya paper bag itu merupakan paper bag dari toko ternama, dan begitu aku mengeluarkan isi dari masing-masing paper bag, ternyata semua isinya sama saja. Mas Hendrick membeli kan aku pakaian yang bagus-bagus dan harganya juga mahal. Selain itu ia juga membeli tiga helai pakaian yang begitu seksi dan kurang bahan, pakaian yang bewarna merah, merah muda dan juga bewarna putih transparan.


"Ini pakaian apaan Mas?'' tanyaku memegang pakaian bewarna putih transparan.


''Itu lingerie Sayang. Pakaian untuk kamu pakai saat dinas malam,'' Mas Hendrick berkata dengan senyum nakal sembari mengedipkan sebelah matanya.


''Dinas malam? Malam-malam kok dinas,'' lontar ku tak mengerti.

__ADS_1


''Iya. Dinas malam untuk melayani Mas. Kamu pasti terlihat sangat cantik dan menggoda kalau pakai pakaian itu,'' Mas Hendrick berkata lirih.


''Kamu ada-ada saja Mas.'' Aku menepuk kecil bahu kekar suamiku.


''Ya udah yuk ke kamar,'' ajaknya.


''Kamu sudah makan?'' tanyaku.


''Tadi sih udah. Nanti kita makan lagi, makan malam bersama,'' setelah itu aku dan Mas Hendrick naik ke lantai atas menuju kamar kami. Mas Hendrick membantu aku membawa baju-baju yang ia beli untukku. Aku tidak menyangka ternyata Mas Hendrick sangat peduli dan begitu perhatian dengan ku. Di sela-sela kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk membeli sesuatu yang tidak aku punya dan sesuatu yang aku butuhkan. Padahal aku sudah memegang black card yang di kasih olehnya, tapi ia tidak meminta diriku untuk membeli sendiri.


Begitu tiba di kamar, Mas Hendrick langsung melepaskan pakaian nya, ia masih memakai pakaian kantorannya. Aku pun membantu nya melepaskan kancing kemeja, saat aku sedang membantu melepaskan pakaian nya, tiba-tiba ponselnya yang ada di saku celana berdering, suami ku melihat layar benda pipih miliknya dan setelah itu aku melihat wajahnya terlihat tak bersahabat dan sedikit pias.


''Panggilan dari siapa Mas?'' tanyaku. Bukannya menjawab pertanyaan dari ku, tapi Mas Hendrick langsung berlalu dari hadapan ku.


''Mas angkat telpon dulu,'' ujarnya menghindar dari aku. Ia berjalan ke balkon kamar, sedangkan aku masih terdiam di tempat semula. Setelah beberapa detik berdiam diri, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menguping pembicaraan Mas Hendrick bersama seorang melalui sambungan telepon, seseorang yang aku tidak tahu siapa. Jujur aku merasa begitu penasaran Mas Hendrick sedang berbicara dengan siapa.


''Iya Honey, I miss to. Kapan kamu pulang ke Indonesia?'' suara Mas Hendrick bisa aku dengar dengan jelas saat aku diam-diam menguping dari jendela. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang nyeri yang aku rasa di sudut terdalam hati ku.


''Mas tunggu baby, muahc. Jaga diri baik-baik,'' dan lagi-lagi Mas Hendrick berkata dengan begitu mesra. Aku tahu mungkin Mas Hendrick sedang berbicara dengan tunangannya. Aku pun tersenyum getir, mengingat diriku, diriku yang merupakan istri simpanan Mas Hendrick.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2