ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 27


__ADS_3

''Kenapa? Suami mu ini tampan ya?'' Hendrick bersuara seraya membuka mata. Ia tersenyum nakal.


''Mas, kamu sudah bangun? Kamu hanya pura-pura tidur ya,'' sahut Raisa. Ia merasa kaget dan sedikit malu karena dirinya ketahuan sedang menatap dan membelai pipi sang suami.


''Iya Sayang, Mas sudah bangun, kenapa berhenti? Ayo lakukan lagi,'' Hendrick berkata seraya memegang tangan sang istri lalu meminta agar Raisa membelai pipinya lagi.


''Ihh dasar kamu nyebelin,'' Raisa menarik hidung mancung sang suami, hingga sang pemilik hidup mengaduh kecil. Pipi Raisa bersemu merah dengan senyum simpul terbit di wajah cantiknya. Melihat itu, Hendrick merasa senang. Lalu ia duduk di samping sang istri.


''Mas senang lihat kamu tersenyum. Maaf ya kalau Mas telah membuat kamu menangis dan terluka,''


''Siapa yang terluka dan menangis?!''


''Kamu tidak bisa mengelak Sayang. Mas tahu kamu begitu mencintai Mas, 'kan? Dan kamu tidak rela melihat Mas bersama wanita lain,''


''Em, iya sih,'' jawab Raisa jujur.


''Kamu harus bersabar ya, Mas pastikan, Mas akan mengurus semuanya dengan cepat,'' Hendrick merangkul pundak sang istri, kini tubuh Raisa sudah berada di dalam dekapan Hendrick.

__ADS_1


''Huum.'' Jawab Raisa singkat mengangguk kepala. Ia mendongak menatap wajah sang suami, lalu setelah itu tanpa aba-aba, Hendrick langsung mengecup bibir seksi sang istri, bibir yang bewarna merah muda meski tanpa lipstik. Raisa tak mampu menolak, ia membiarkan sang suami *****4* bibirnya. Setelah beberapa detik berlalu, Raisa mendorong dada bidang sang suami, agar sang suami melepaskan p4gutan yang semakin lama semakin membuat dirinya menuntut lebih.


''Mas bukan kamu mau kerja?'' tanya Raisa begitu ciuman mereka sudah terlepas.


''Mas ingin bermain-main dulu sama kamu Sayang,'' ujar Hendrick lirih. Ciuman yang ia lakukan sudah berhasil membangkitkan jagoannya. Jagoannya meronta-ronta minta di keluarkan.


''Nanti Mama sama Papa kamu curiga,'' ucap Raisa. Ia melihat jarum jam yang menempel di dinding, jarum jam sudah menunjukkan angka enam lewat.


''Duh!'' Hendrick berkata kesal seraya meremas rambut nya. Apa yang dikatakan Raisa ada benarnya, tapi rasanya ia tidak bisa menahan hasratnya yang minta di salurkan.


''Nanti saja ya,'' bujuk Raisa lembut.


''Iya Mas, aku nurut aja,''


''Mas akan mencari cara agar kita bisa berduaan terus,'' ucap Hendrick lagi. Raisa mengangguk kecil menanggapi perkataan sang suami.


''Ya sudah, kalau begitu Mas keluar dulu, kamu mandi ya setelah ini.''

__ADS_1


''Kamu mau kerja hari ini?'' tanya Raisa.


''Iya Sayang.'' Jawab Hendrick berbohong. Padahal ia sudah punya janji sama Anggia. Hendrick terpaksa berbohong karena ia tidak ingin menyakiti hati sang istri.


''Ya sudah, sana buruan keluar, nanti ketahuan sama Mama dan Papa kamu kalau kamu tidur di sini,''


''Oke Sayang.'' Setelah itu Hendrick keluar dari dalam kamar Raisa. Ia berjalan menyelinap melewati kamar-kamar pelayan lainnya. Saat melewati dapur, ia melihat pelayan sedang berkumpul di sana. Pelayan yang melihat Hendrick keluar dari kamar Raisa hanya mampu tersenyum simpul seraya memberi tanggapan dengan berbicara lirih sesama teman nya.


''Kasihan ya Tuan Hendrick dan Non Raisa. Untuk bertemu saja mereka harus bersembunyi-sembunyi dari Tuan dan Nyonya besar,'' ucap pelayan yang bertubuh sedikit gemuk.


''Kenapa Tuan Hendrick tidak jujur saja ya kalau dirinya sudah menikah dengan Non Raisa,'' timpal temannya yang satu lagi.


''Bicara sih emang mudah. Kadang kehidupan orang berduit itu memang rumit. Tidak seperti kita ini, kini mah dapat makan saja udah senang dan udah bersyukur banget.''


''Kamu itu ngomong kok tidak nyambung banget sih!''


''Sudah, sudah. Ayo lanjutkan lagi kerjanya.'' Timpal Jasmine. Setelah itu para pelayan melanjutkan pekerjaan mereka lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2