ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Zie 51


__ADS_3

"Bukan begitu maksudku sayang!" Langit terlihat frustasi menghadapi istrinya.


"Terus?" Zie menundukkan kepalanya menatap curiga terhadap lelaki yang telah memilikinya seutuhnya itu.


"Kamu tidak cemburu gitu?" Langit masih setia menggendong tubuh Zie, bahkan sesekali saat di rasa sepi ia menelusup kan wajahnya di dua aset milik Zie.


"Cemburu?" ulang Zie.


"Karena apa mas? Dan dengan siapa?" Zie balik bertanya sembari mengalungkan kedua lengannya di leher Langit.


"Dengan wanita tadi!" kesal Langit.


"Aku tau, kamu tidak akan bisa berpaling sedikit pun dari ku mas" Zie tersenyum miring saat mengatakan itu.


"Yakin?" Langit menaikkan alisnya sebelah, seolah tidak membenarkan perkataan yang Zie lontarkan padanya.


"Emang mas mau selingkuh?" Zie memicingkan matanya, menatap tajam mata Langit.


Langit terkekeh geli melihat ekspresi yang di perlihatkan Zie. Langit menurunkan Zie, namun kaki Zie belum benar-benar menyentuh lantai. la sempatkan untuk menempelkan bibirnya ke bibir Zie lalu dengan secepat kilat menghisap kulit leher jenjang milik istrinya tersebut.

__ADS_1


"Sudah, ah! Jangan main-main terus. Aku mau kerja dulu, mas bisa kan ke ruangan Edwin sendiri? Karena jadwal operasi ku sebentar lagi" ucap Zie setelah turun dari gendongan Langit kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebelah kiri.


Langit mencekal Zie sesaat sebelum istrinya itu ingin melangkah meninggalkan dirinya. Sontak Zie menoleh ke belakang seraya bertanya.


"Ada apa lagi Mas?" Zie merasa jengah dengan sikap Langit yang sangat posesif.


"Begitukah cara kamu pamit pada suamimu, Zie Natakusuma?" geram Langit karena tidak dapat kecupan perpisahan sebelum dirinya di tinggal kerja oleh Zie.


Zie memutar bola matanya, bukannya sedari tadi suaminya itu terus menerus mencuri kecupan di bibirnya? Kenapa sekarang malah bersikap seperti ini? Tidak mau menambah masalah yang akan merugikan dirinya nanti, Zie meraih tangan Langit lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut.


"Aku kerja dulu ya Hubby, Assalamu'alaikum" bisik Zie dengan nada yang di buat se-sensual mungkin, membuat tubuh Langit menegang seketika.


Zie tersenyum puas bisa menggoda suaminya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan magangnya, ia letakkan tas jinjingnya di atas meja lalu memakai jas putih kebanggan semua orang yang berprofesi sebagai dokter.


Setelah mendudukkan pinggulnya di kursi empuknya, tangan Zie mulai membuka berkas yang ada di atas mejanya. Membacanya dengan teliti kertas putih tersebut yang berisi tentang semua info pasiennya yang akan ia operasi setelah ini.


Zie mempelajari sebentar, lalu memanggil Shinta untuk masuk ke dalam ruangannya melalui sambungan telepon yang terletak di atas mejanya.


"Shin, bisa kamu masuk sebentar ke ruangan ku?" tanya Zie kemudian menutup sambungan telepon itu setelah mendapat jawaban dari Shinta.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Shinta mengetuk pintu ruangan Zie lalu masuk setelah di sahuti oleh Zie.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya Shinta dengan sopan.


"Apa kamu masih menyimpan berkas-berkas tentang pasien yang bernama Edwin?" tanya Zie langsung, ia ingin mengetahui sejauh mana kesehatan Edwin berkembang.


"Tidak mbak, karena semuanya sudah saya serahkan pada mas Lucas yang bertanggung jawab atas pasien tersebut" jawab Shinta.


"Oh, ya sudah kalau begitu, nanti aku akan tanya sendiri pada Lucas. Pukul berapa jadwal operasi pasien yang aku tangani setelah ini?" tanya Zie.


"Kurang dari tiga puluh menit lagi mbak, semua perlengkapan yang Dokter butuhkan sudah saya siapkan" kinerja Shinta memang tidak bisa di ragukan lagi, ia cepat tanggap apa yang di butuhkan oleh para dokter.


"Ya sudah Shin, terima kasih kamu boleh keluar dulu"


Setelah Shinta menutup pintu ruangan Zie, terdengar nada dering dari ponsel Zie. Zie tersenyum saat tau siapa yang tengah menghubunginya sekarang.


......🍃🍃🍃🍃🍃🍃......


......Jangan Lupa Like and Komennya yaa......

__ADS_1


__ADS_2