
Selesai makan malam, Anggia pamit pulang. Hendrick tersenyum lega karena setelah kepulangan Anggia, ia berharap ia bisa bertemu dengan sang istri.
''Mama sama Papa ke kamar dulu, ya. Kami akan segera beristirahat,'' ucap Sonya pada Hendrick, wajahnya terlihat lelah.
''Iya, Ma, Pa. Selamat beristirahat, semoga tidur kalian nyenyak malam ini,'' sahut Hendrick.
''Kamu juga Hendrick, beristirahatlah.'' Ucap Hendra sambil menepuk kecil bahu kekar sang putra.
''Iya Pa.'' Jawab Hendrick mantap. Setelah itu Sonya dan Hendra masuk ke kamar mereka yang ada di lantai atas di samping kamar Hendrick. Begitu juga Hendrick, ia juga masuk ke dalam kamarnya untuk mengelabuhi kedua orang tuanya. Nanti ia akan keluar lagi dari kamar nya untuk menemui Raisa.
Hendrick duduk di pinggir kasur king size nya, ia melepaskan kemeja dan celana panjangnya lalu setelah itu ia menggantikan dengan piyama tidur.
__ADS_1
''Semoga saja Raisa mau bersabar menunggu aku, menunggu hingga aku bisa menjelaskan tentang siapa dirinya yang sebenarnya kepada Mama dan Papa. Raisa bukan aku anggap sebagai istri kontrak dan istri simpanan aku lagi. Aku benar-benar sudah mencintai nya.'' Gumam Hendrick lirih seraya menghembus nafas kasar. Setelah itu ia berjalan ke luar kamar, ia akan menemui Raisa di kamar belakang.
Saat sudah tiba di belakang, di area kamar pelayan yang berjejer, Hendrick bertemu dengan Jasmine, lalu ia berbicara sama Jasmine.
''Jasmine, apa Raisa ada di kamar?'' tanya Hendrick.
''Ada Tuan, dari tadi Non Raisa tidak pernah keluar kamar.''
''Iya Tuan.''
Hendrick memutar handle pintu kamar Raisa, lalu begitu pintu sudah terbuka, ia masuk ke dalam kamar. Setelah itu ia mengunci pintu kamar dari dalam. Ia berjalan pelan menghampiri tubuh Raisa yang terbungkus selimut, ia duduk di pinggir kasur Raisa, ia menyingkap selimut, saat selimut sudah terbuka hingga sebagian dada Raisa, ia menatap wajah Raisa nanar. Hendrick sangat merasa bersalah kepada sang istri, apalagi saat dirinya melihat sisa-sisa air mata terdapat di sudut mata Raisa, ia tahu, Raisa pasti habis menangis. Raisa sudah terlelap.
__ADS_1
''Sayang,'' ucap Hendrick lirih. Hendrick membelai pipi mulus Raisa. Tubuh Raisa sama sekali tidak beraksi saat Hendrick memanggil dan membelai pipinya. Ia tidur benar-benar lelap hingga Hendrick tak kuasa untuk membangunkan sang istri. Akhirnya Hendrick memutuskan untuk naik ke atas kasur, ia membaringkan tubuhnya di samping tubuh sang istri, ia memeluk tubuh sang istri, dan ia juga menciumi tengkuk sang istri, ia menenggelamkan wajahnya di tengkuk sang istri, setelah itu ia siap untuk tidur. Ia tidak peduli ia tidur di kamar yang sempit dan kasur yang tipis, yang penting baginya sekarang ia bisa berada di dekat sang istri, sang istri yang membuat nya mengerti dan bisa merasakan apa arti cinta yang sesungguhnya.
***
Keesokan paginya, Raisa bangun dari tidurnya, ia merasa sepanjang malam suaminya ada di dekatnya. Dan saat ia membuka mata, betapa kagetnya dirinya saat ia melihat sang suami benar-benar ada di sampingnya.
''Ya ampun, ternyata bukan mimpi. Ternyata Mas Hendrick benar-benar tidur dengan ku.'' Gumam Raisa dengan dada menghangat. Ia duduk di pinggir kasur, setelah itu ia membelai wajah tampan sang suami dengan penuh cinta.
''Kamu itu milikku, tapi aku tidak bisa melarang saat wanita lain memeluk mu. Aku ini wanita lemah, aku hanya bisa merasakan sakit di hatiku tanpa bisa mencegah. Karena aku hanya menumpang di rumah ini dan karena kamu belum memperkenalkan aku kepada kedua orang tua mu.'' Ucap Raisa di dalam hati dengan perasaan teramat pilu. Hendrick adalah cinta pertamanya, dan saat ini ia merasa begitu rumitnya yang namanya cinta.
Bersambung.
__ADS_1