ISTRI SIMPANAN CEO

ISTRI SIMPANAN CEO
Part 12


__ADS_3

Mas Imam berjalan menghampiri aku yang berada di dekat pintu, wajahnya yang teduh terlihat cerah dan ceria. Mas Imam adalah seorang pria yang memiliki wajah tampan, ia begitu aktif dalam kegiatan keagamaan di area tempat tinggal kami, ia adalah pria yang baik, ramah dan selalu bersikap sopan sama siapapun.


''Assalamualaikum Raisa,'' sapa nya saat dirinya sudah berada di hadapan ku.


''Walaikum'sallam Mas,'' balasku ramah dengan senyuman yang tersungging di sudut bibir ku.


''Apa kabar kamu dan Yumna? Tadi malam Mas lewat kontrakan kamu, kontrakan kamu terlihat gelap dan seperti tak berpenghuni. Kalau boleh Mas tahu emang kalian menginap di mana?'' tanya nya dengan tatapan matanya yang begitu lekat menatap wajah ku. Pria yang memakai peci bewarna putih yang ada di hadapanku merupakan pria lajang. Usianya kira-kira sudah dua puluh lima tahun, sosoknya begitu di kagumi oleh banyak kaum hawa di area kontrakan yang aku tempati. Wajar saja banyak wanita muda yang mengagumi nya, karena selain tampan, Mas Imam juga merupakan guru ngaji, penceramah dan juga terkadang menjadi imam shalat di masjid tempat kami tinggal. Ilmu agama nya sudah sangat mumpuni dan tidak perlu di ragukan lagi, karena setahu aku ia merupakan lulusan terbaik dari suatu pesantren dan orangtuanya juga merupakan seorang ustadz dan ustadzah. Selain itu ia juga berasal dari keluarga terpandang, orangtuanya memiliki pabrik percetakan yang sudah memperkerjakan banyak orang yang ada di area tempat kami tinggal, dan mereka juga punya beberapa unit kontrakan yang semuanya sudah di huni. Sayangnya aku tidak kebagian lagi untuk mengontrak rumah kontrakan keluarga Mas Imam.


''Em, aku menginap di tempat aku bekerja tadi malam Mas,'' jawabku berbohong. Bukan apa-apa, aku tidak mau saja orang-orang tahu tentang diri ku yang sudah memiliki suami dan aku juga tidak mau orang-orang tahu kalau Yumna sedang di rawat di rumah sakit dan membutuhkan uang banyak untuk biayanya. Takutnya orang-orang malah semakin kepo dengan kehidupan kami. Sebisa mungkin aku akan tetap menjaga privasi tentang kehidupan aku dan Yumna.

__ADS_1


''Kalau Yumna?'' tanyanya lagi.


''Yumna menginap di rumah teman sekolah nya Mas. Karena tidak mungkin ia menginap di kontrakan sendiri, aku tidak mau membiarkan ia menginap sendiri, mengingat adik aku baru beranjak remaja takutnya ada orang iseng yang menjahili nya.'' Aku menjawab lagi apa yang di tanyakan oleh Mas Imam. Mas Imam manggut-manggut mendengar apa yang aku katakan.


''Kamu kalau merasa begitu kerepotan bekerja sebagai office girl di perusahaan besar itu lebih baik berhenti saja Raisa. Mas bisa membantu kamu, Mas akan membiayai kehidupan kamu dan Yumna secara cuma-cuma. Maaf bukan apa-apa, Mas tulus ingin membantu kamu, Mas tidak tega saja melihat kamu harus capek-capek bekerja,'' Mas Imam berkata kepadaku lagi dengan sorot matanya yang nampak serius. Aku menanggapi ucapannya dengan senyum simpul. Selama ini Mas Imam memang sudah begitu baik terhadap aku, tapi aku merasa tidak enakan sama dirinya.


''Terimakasih banyak Mas atas kebaikan Mas selama ini. Maaf, aku tidak mau merepotkan Mas terlalu banyak,''


''Em, sekali lagi terimakasih banyak ya Mas. Kalau begitu aku masuk dulu ya Mas,''

__ADS_1


''Ya sudah, Mas juga mau ke masjid. Kamu baik-baik ya,''


''Iya.''


Mas Imam berlalu dari hadapan ku dengan langkah kakinya yang gontai. Entah kenapa aku merasa ada yang masih ingin ia bicarakan lagi sama aku. Setelah tubuh Mas Imam benar-benar telah hilang dari penglihatan ku, aku lalu masuk ke dalam kontrakan sederhana yang aku sewa. Maghrib akan segera datang, dan aku harus mengambil beberapa pakaian aku dengan cepat, karena saat berada di rumah Mas Hendrick aku tidak punya pakaian ganti. Pak sopir yang menemani aku sedang menunggu di mobil di depan gang. Karena kontrakan yang aku sewa berada di belakang gang yang tidak muat untuk di masuki mobil, hanya jalan setapak yang menjadi jalan alternatif untuk masuk.


***


''Non, Tuan Hendrick sudah berulangkali menelpon Bapak, katanya dirinya sudah menunggu Non di rumah,'' Pak sopir berkata padaku saat aku sudah duduk di kursi di dalam mobil.

__ADS_1


''Ya udah, kalau gitu kita pulang ya Pak.'' Sahutku. Lalu Pak sopir melajukan kendaraan roda empat yang ia kemudi dengan kecepatan sedang. Terang sudah berubah menjadi gelap, malam sudah datang dan adzan magrib juga sudah selesai di kumandangkan. Wajar saja Mas Hendrick sudah menanyakan keberadaan aku, karena aku yang terlambat pulang. Aku yang tidak menyambut kepulangan nya dari bekerja di depan pintu. Ah ... Maafkan aku Mas, setelah ini aku akan menjadi istri yang baik. Aku harap Mas Hendrick tidak marah sama diriku karena aku yang terlambat pulang.


Bersambung.


__ADS_2