
Saat ini Bai An telah melayang dan melihat lautan luas berada di sekelilingnya.
“Ini ada dimana gadis galak?” tanya Bai An kini telah mengubah nama panggilan Mu Xia'er.
Mata Mu Xia'er langsung melotot ke arah Bai An, “Aku bukan gadis galak, apa mata mu buta karena terpana melihat kecantikan, keanggunan Dewi, dan imut seperti ku.” Bukan nya menjawab malah Mu Xia'er bertanya sambil menaikkan alis lalu menurunkannya.
“Cantik dan imut dari mana, kalau galak seperti harimau betina yang kelaparan sih ya.”
“Pletak,”
“Aduh, aduh, hei apakah kau tidak bisa tidak memukul kepala ku sekali saja? gadis galak.” ujar Bai An dengan nada kesal.
“Apa, kau mau apa haaahhh? panggil aku seperti itu lagi, aku akan menghajar mu sampai meminta ampun,” Mu Xia'er malah semakin ganas.
Nyali Bai An langsung ciut, “Iya iya Nona Cantik dan Imut,” nada suara Bai An seperti terpaksa saat ia mengatakan hal tersebut.
Mata Mu Xia'er langsung cerah, senyum nya langsung membuat Bai An terpana beberapa saat.
“Pletak,”
“Jangan pasang muka mesum mu seperti itu dan hapus darah di hidung mu,” ucap Mu Xia'er terkikik kecil.
Bai An langsung mendengus bercampur malu, ia langsung mengusap darah di hidungnya, setelah itu ia melihat ke atas dengan cukup heran.
“Kenapa petir ini tidak sama seperti yang pertama kali aku hadapi?” gumam Bai An bingung.
“Oh,, petir yang dulu hanya untuk mengetes calon Raja nya saja.” tanpa sadar Mu Xia'er mengatakan hal yang tidak boleh ia katakan untuk saat ini.
“Eeh, apa maksutnya? Raja apa?” rentetan pertanyaan langsung membanjiri telinga Mu Xia'er.
“Pletak,”
Kepala Bai An langsung di pukul, hal itu membuat Bai An diam dan cemberut.
Tak lama petir siap menerjang ke arah Bai An.
Bai An yang melihat petir ini seperti biasa-biasa saja, diam saja saat di sambar.
Jddeerrr,,
Petir pertama,,
Bai An langsung menyerap petir tersebut, karena ia mempunyai elemen petir, namun tidak pernah ia gunakan.
Jddeerr,,
Petir kedua,,
__ADS_1
Bai An masih terlihat biasa saja, dan bajunya pun tidak terlihat sobek atau hangus.
Jdeerr,,
Petir ketiga,,
“Hmm,, ini baru ada rasa seperti di gigit nyamuk,” gumam Bai An.
Mu Xia'er tersenyum misterius saat mendengar Bai An bergumam.
Lalu Mu Xia'er melihat ke arah petir kesengsaraan tersebut, seperti paham maksutnya tiba-tiba petir tersebut berubah menjadi ke emasan.
Bai An yang mendongak ke atas tiba-tiba tubuhnya bergidik, “I,, Ini petir terkuat setelah petir Ashura,” seru Bai An terkejut luar biasa.
Bai An merasa ada yang tidak beres, mengapa petir kesengsaraan tersebut tiba-tiba berubah, ia lalu melirik Mu Xia'er yang kini menutup mulutnya menahan tawa.
“Hei kenapa kau tertawa? ini pasti ulah mu,” geram Bai An langsung menuduh Mu Xia'er.
“Apa maksut mu, aku tidak mengerti?" jawab My Xia'er polos.
Saat Bai An ingin membalas, tiba-tiba petir tersebut membuat sebuah pedang dan langsung menerjang ke arah Bai An.
“Kurang ajar, Benteng Surgawi,” teriak Bai An langsung bertahan dan memunculkan sebuah periasai berbentuk benteng.
Duaarrr,,,
Bai An langsung terjatuh ke lautan yang berada di bawahnya.
Mu Xia'er yang melihat Bai An terjatuh langsung menatap tajam ke arah petir tersebut, petir tersebut langsung melemah, ia seakan sadar tatapan tajam Mu Xia'er.
Bluusss,,
“Hah,, hah,,” Bai An langsung muncul di permukaan dan mengambil nafas, setelah itu ia perlahan melayang dengan pakaian yang hangus.
Bai An sempat melirik Mu Xia'er sambil mendengus, ia yakin ini ada kaitannya dengan Mu Xia'er.
Mu Xia'er langsung cemberut saat di tatap seperti itu, awalnya ia ingin bercanda. Tapi ia tidak tahu kejadiannya akan begini.
Setelah petir ke 4 yaitu petir Emas, kini petir tersebut berganti menjadi petir putih kembali.
Jddeerr,,
Petir ke 5,,
Kini Bai An merasakan seperti di gigit nyamuk.
Jddeerr,,
__ADS_1
Petir ke 6,,
“Ukkhh,, ini berkali-kali lebih kuat dari yang sebelumnya, aku tidak boleh meremehkan nya lagi." gumam Bai An yang meringis kesakitan karena ia tidak siap dan ia mengira petir ke 6 seperti sambaran sebelumnya.
Jdeeerr,,
“Pukulan Api Surgawi,” teriak Bai An kini melawan petir ke 7,,
Duar,,
Petir tersebut langsung menyebar ke segala arah.
Petir kedelapan kini belum muncul, hal itu membuat Bai An mengerutkan keningnya, ia kemudian melirik ke arah Mu Xia'er. Namun yang di lirik sudah tidak berada disana.
“Eeh dimana gadis galak itu?” ucap Bai An sambil mencari ke segala arah, “Apa gara-gara aku menuduhnya ya?” gumam Bai An lagi.
Bai An kini terbang kesana kemari, namun tidak menemukan Mu Xia'er kini berada dimana.
Bai An juga mencoba mencari sebuah pulau atau benua, namun ia terbang beberapa puluh menit pun ia hanya melihat lautan luas saja.
Kini Bai An pasrah dan merasa menyesal karena sempat menuduh Mu Xia'er dan sempat marah kepadapanya.
“Gadis cantik, gadis imut, dimana kamu? aku minta maaf telah menunduh mu dan sempat marah,” ucap Bai An.
Namun tidak ada tespon sedikitpun, Bai An juga mencoba mencari di dunia jiwanya. Namun ia tidak bisa masuk kedalam dunia Jiwa nya. Karena ia harus mencapai tingkat setengah dewa dulu baru bisa masuk ke dalam dunia jiwa nya.
Jika ia ingin masuk, ia harus di bantu oleh Mu Xia'er terlebih dulu.
Bai An juga mencari di dalam kesadaran spiritualnya dan hanya Energi berwarna biru saja yang berada disana.
Hal itu membuat Bai An lemas, ia merasa frustasi, ia akui tanpa Bai An saudara dan teman-temannya ia tidak akan bisa menjadi siapa-siapa. Tapi karena bantuan mereka di sekelilingnya ia bisa menjadi seperti ini, terutama bantuan Api Emas atau Mu Xia'er, seandainya ia tidak bertemu Mu Xia'er, ia tidak akan bisa sekuat ini dan tidak akan bertemu Ayah, Shen Bai, Long Yaun yang kini menjadi keluarganya.
“Mu Xia'er cantik, imut, kamu ada dimana? jika kamu muncul, aku berjanji tidak akan memarahi atau menuduh mu yang tidak-tidak lagi dan aku akan menuruti apapun permintaan yang kamu inginkan.”
Bai An langsung berteriak dengan sedikit putus asa.
Wusshh,,
Mu Xia'er langsung muncul di depannya dengan mata bersinar cerah, sambil tersenyum lebar.
“Apa yang kau ucap kan itu benar, apapun yang aku inginkan?” Mu Xia'er bertanya sambil tersenyum se indah mungkin.
Bai An yang melihat Mu Xia'er tiba-tiba muncul entah dari mana dan langsung bertanya tentang apa yang ia janjikan itu, kini Bai An merasa ada yang tidak beres, hati nya tiba-tiba berdegub kencang.
Namun karena ia merasa sudah berjanji, Bai An langsung mengangguk, tangan Bai An menunjuk 2 jari, “Dua permintaan saja,”
Mu Xia'er langsung cemberut, “Aku pergi dulu,” tanpa menunggu balasan Bai An, Mu Xia'er langsung menghilang.
__ADS_1