Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Terbawa Nafsu


__ADS_3

Tubuh Hu Qia langsung bergetar keras, tak lama ia mengeluarkan air mata.


Bai An yang melihat itu langsung menyeringai licik lalu berkata. “Ooh,, apakah kau menyesal?”


Bai An kembali menambahkan. “Jangan pernah menyesal karena ini pilihanmu,” kata Bai An dengan nada dingin.


Hu Qia yang mendengar itu hanya diam, ia kini menunduk dan berpikir apakah pilihannya tetap bersama atau berpisah.


Tapi saat Hu Qia merenung, ia merasakan lehernya di jilati.


Bai An kini entah mengapa ia menjadi bergairah, nafsunya sudah tidak bisa ia tahan saat mencium bau wangi tubuh Hu Qia.


Emm..!!


Erangan Hu Qia langsung terdengar beserta air mata terus mengalir.


Bai An yang tidak peduli langsung merebahkan tubuh Hu Qia, lalu tangan Bai An membuat formasi agar tidak ada orang yang melihat dirinya.


Dengan tergesa-gesa Bai An merobek gaun indah Hu Qia.


Srek..!!


Nafsu Bai An seketika semakin menjadi-jadi saat ia melihat dua gunung kembar yang sangat mulus, putih dan ada tombol bewarna merah muda di pucuk gunungnya.


Hu Qia mencoba melawan, namun seolah tenaganya terserap habis, ia hanya bisa memukul-mukul pundak Bai An.


Bai An kini mulai ******* leher Hu Qia kembali, lalu menghisap gunung kembar Hu Qia.


Emm..!!


******* kembali terdengar, namun ******* tersebut semakin membuat Bai An tidak tahan.


Bai An melirik ke arah wajah Hu Qia, lebih tepatnya ke arah bibir merah muda yang terlihat mungil.


Tanpa menunggu lebih lama, Bai An langsung ******* bibir Hu Qia dengan nafsu yang tinggi.


Emm..!!


Em..!!


Setelah puas, Bai An melirik ke arah bawah, Bai An kembali merobek bagian bawah Hu Qia lalu kembali **********.


******* dan erangan terus terdengar semakin besar.


Hingga saat puncaknya, Bai An sudah tidak tahan lagi langsung memasukkan pisangnya kedalam lubang mungil Hu Qia.


Ahh..!!


Teriakan lebih besar terdengar, dan itu bersahutan dengan teriakan Bai An yang keenakan.

__ADS_1


3 jam telah berlalu.


Saat ini Bai An melirik ke arah Hu Qia yang terlihat terlelap.


“Huuff..!! Rencananya aku ingin mengerjainya, tapi kenapa aku bernafsu hingga kejadian yang tak ku inginkan terjadi,” gumam Bai An merutuki dirinya sendiri.


Setelah memakai baju dan jubahnya, Bai An kembali melirik ke arah Hu Qia, Bai An berniat meninggalkan Hu Qia dengan sebuah surat.


Tapi saat pandangan matanya tak sengaja ke arah gua kecil Hu Qia.


Naruli pisang Bai An kembali menyuruhnya menyerang ke arah sana.


Dengan cepat Bai An membuka jubah dan bajunya.


Terdengar kembali erangan sepanjang malam karena Bai An tak berhenti memuaskan nafsunya.


Hingga pagi tiba, saat ini Bai An benar-benar telah berdiri dan bersiap meninggalkan Hu Qia.


Hu Qia membuka matanya secara perlahan, terlihat matanya bengkak karena sepanjang malam terus menangis.


Pandangan Hu Qia awalnya kesamping untuk melihat apakah Bai An ada di sampingnya, namun saat ia tidak melihat Bai An ada di sana, Hu Qia langsung beralih kesana kemari seperti takut kehingan.


Setelah mencari ke segela arah pandangannya, kini Hu Qia melihat ke arah pohon tempat Bai An berdiri.


Tanpa menunggu waktu lama Hu Qia langsung muncul di depan Bai An dengan mata memerah, ia sudah tidak peduli apakah ia kini tidak memakai sehelai benang baju.


Bai An yang mengarah ke arah berbeda dan bersiap pergi langsung terkejut.


Tubuh Bai An langsung kaku, ia merasa bersalah jika telah merebut kesucian Hu Qia karena terbawa nafsu.


Bai An ingin menjawab, namun sebuah tamparan datang begitu cepat.


Plak..!!


Pipi kanan Bai An langsung bengkak.


Saat Bai An mengelus pipi kanan.


Plak..!!


Sebuah suara tamparan kembali terdengar, kini Bai An mengelus pipi kirinya.


Bai An kembali melihat tangan Hu Qia ingin menamparnya langsung menangkap tangan Hu Qia lalu meariknya ke pelukannya.


Brukk..!!


“Aku tahu kau sedih, marah, kecewa,” kata Bai An mencoba menenangkan Hu Qia.


“Maafkan aku,” bisik Bai An dengan nada tulus.

__ADS_1


Hu Qia yang mendengar itu langsung melepaskan pelukan Bai An lalu menatap tajam ke arah Bai An.


“Maaf..!! Apakah dengan kata maaf kau pikir itu selesai begitu saja,” dengus Hu Qia lalu menambahkan. “Sungguh lidahmu sangat gampang sekali berkata kata maaf.”


Bai An yang mendengar Hu Qia marah-marah hanya diam, namun dalam hatinya ia bergumam. “Tentu saja, karena lidah tidak mempunyai tulang, jadi gampang menguarkan apa yang di inginkan pemiliknya, bodoh,” kekeh Bai An dalam hati.


Bai An melihat Hu Qia ingin mengeluarkan amarahnya langsung menjulurkan tangannya ke arah mulut Hu Qia.


Ssttt..!!


“Baiklah aku akan membawamu ikut bersamaku, apakah kau sudah puas?” Tanya Bai An dengan nada santai.


Bai An mengira dengan kata-katanya akan cepat selesai, namun sebuah pedang dengan niat membunuh yang besar datang ke arahnya. Pedang dan niat membunuh itu tak lain datang dari Hu Qia.


Dengan segera Bai An mundur menjauh sambil berusaha memikirkan apa yang salah dengan ucapannya.


Setelah berusaha mencari apa yang salah, Bai An langsung menepuk dahinya. “Bodohnya aku, aku lupa jika wanita sangat sensitif dengan kata laki-laki,” gumam Bai An lalu melirik ke arah Hu Qia yang mengejar dirinya.


“Tunggu dulu, baiklah kita akan bicara serius kali ini dan aku akan menjadi serius,” kata Bai An berhenti.


Hu Qia langsung berhenti lalu menatap tajam ke arah Bai An, apakah ia berbohong atau tidak.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Hu Qia dengan nada dingin.


“Sebelum bertanya, pakai dulu pakaianmu,” kata Bai An.


Hu Qia melirik ke arah bawah, seketika wajahnya sedikit memerah, tapi tak lama ia kembali seperti biasa, karena menurutnya di sini hanya ada Bai An dan Bai An sudah puas menikmati tubuhnya. Jadi kenapa harus malu di depan Bai An yang sudah menikmatinya. Itulah pikir Hu Qia.


Dengan segera Hu Qia mengenakan gaunnya di depan Bai An.


Bai An mengerutkan keningnya melihat itu, ia mengira Hu Qia akan malu lalu menjauh untuk mengenakan pakaiannya, tapi ia salah duga.


Tap tap..!!


Melihat Hu Qia maju, Bai An langsung berkata. “Ikuti aku.”


Wuss..!!


Melihat Bai An melesat, dengan cepat Hu Qia melesat dengan lebih cepat lalu menggenggam erat lengan kiri Bai An karena Hu Qia takut Bai An akan melarikan diri..


Bai An hanya bisa menghela nafas saja.


Tap tap..!!


Bai An masuk kedalam rumah pohon yang sudah di renovasi oleh Dhe Peng beberapa hari yang lalu, maka dari itu Dhe Peng tidak pernah terdengar namanya.


Bai An kini menatap ke arah Hu Qia yang terus menerus menatap ke arah Bai An, kemanapun Bai An melangkah maka tatapan Hu Qia terus mengikuti.


“Baiklah, lebih baik kita saling mengenal lebih dulu, namaku adalah Bai An.” Kata Bai An dengan nada santai.

__ADS_1


__ADS_2