
“Sudah biarkan saja. Ayo kita pergi ke tempat lahirmu.” ajak Mu Xia'er.
Tentu saja Bai An mengangguk dengan cepat sambil tersenyum senang. “Ayo,” ajak Bai An.
“Tunggu dulu, apakah kau yakin akan meninggalkan Duan Du di sana bersama Tang De?”
“Iya, itu adalah kemauan Tang De, tapi aku tak yakin Duan Du mau,” jawab Bai An berpikir beberapa saat. Tak lama ia langsung keluar dari dunia jiwanya lalu kembali bersama Duan De dan Xio Dan.
“Hmm,, kalian berdua bisa berlatih di sini. Tapi ingat jangan nakal Du'er,” kata Bai An sambil melirik adik angkatnya.
“Hmm hmm,,” jawab Duan Du mengangguk patuh.
“Jika kalian ingin latih tanding atau kurang mengerti sesuatu kalian berdua bisa bertanya kepada Tu We atau beberapa monster di sini.” Kata Bai An kemudian menghilang entah kemana.
Mata Duan Du langsung cerah saat melihat beberapa monster, Xio Dan hanya bisa menggelengkan kepala. Karena ia pernah mendengar kenakalan Duan Du ini dari belum kenal dengan Bai An.
Wuuss ..!
Bai An muncul, ia kini bersama Mu Xia'er.
“Apakah kau telah siap Gege?”
“Tentu saja Xia'er, jika bisa. Aku lebih baik langsung muncul di kamar ibuku. Tapi aku masih ragu,” kata Bai An menimbang-nimbang.
“Itu tidak bisa. Kekuatanku masih belum bisa membawamu langsung ke ke kamar Ibumu,” jawab Mu Xia'er sambil melakukan hal yang sama saat membuka gerbang dimensi.
Tepat setelah cahaya menghilang, Bai An melihat pintu kecil, Bai An langsung melesat, tapi ia tak sendiri. Melainkan bersama Mu Xia'er sambil bergandengan tangan.
Wuss..!!
Bersamaan Bai An dan Mu Xia'er masuk. Pintu tersebut langsung lenyap.
***
Di Heavenly Tian.
Tepatnya Benua Naga ( Menengah )
Ling Mei kini terasa gelisah, ia mondar mandir di kamarnya seorang diri.
Tok tok..!!
“Ibuu..!! Apakah aku boleh masuk,” kata Bai Yin sedikit lebih keras.
__ADS_1
Cklek..!!
Tanpa menunggu jawaban dari Ling Mei. Bai Yin membuka pintu kemudian melihat ibunya pura-pura tidur.
Hal tersebut membuat Bai Yin cekikikan sambil memperlihatkan giginya.
Tap tap..!!
“Ibuu..!! Ayolah, jangan pura-pura tertidur, aku tahu kau tidak tidur dan juga kenapa aku merasa detak jantung ibu bedetak lebih kencang? Apakah ibu sedang khawatir? Gelisah?”
Ling Mei tetap diam, melihat ibunya tak menjawab dan terus pura-pura tidur. Bai Yin langsung cemberut.
“Ibu, apakah kau tidak ingin pergi ke tempat itu?” Tanya Bai Yin, kemudian menambahkan. “Jika tidak, aku akan pergi sendiri, siapa tahu An'er tiba-tiba ada disana.”
Bai Yin langsung berkhayal jika ia bertemu dengan adiknya.
Ling Mei yang mendengar itu teringat jika sekarang adalah hari kelahiran dan tepat ia kehilangan Bai An juga.
Tak terasa detak jantungnya berdetak semakin kencang. Sehingga ia dengan cepat membuka matanya lalu tersenyum ke arah Bai Yin yang kini sedang berkhayal.
“Yin'er, kau jangan terlalu berkhayal, itu tidak baik.” Kata Ling Mei langsung membuat Bai Yin terkejut.
Wajah Bai Yin langsung cemberut. “Bukankah ibu yang lebih sering berkhayal dari pada aku,” kata Bai Yin membela diri.
“Iya ya, ayo kita kesana,” ajak Ling Mei.
Sementara di tempat Bai An menghilang. Tempat itu sekarang menjadi area terlarang untuk semua orang kecuali Ling Mei, Bai Chen dan beberapa keluarga Bai yang boleh kesana.
Tempat tersebut sangat indah. Bunga-bunga di sana bermekamaran membuat ke indahan tempat tersebut semakin membuat orang yang berkunjung ingin tetap di sana. Disana juga ada sebuah kolam jernih. Ikan-ikan pun sampai terlihat. Mereka berenang kesana kemari seperti sedang bermain bersama ikan lainnya.
Tak lama, sebuah angin berhembus cukup kencang. Bahkan bunga-bunga yang ada di sana sampai bergoyang kesana kemari lalu berguguran.
Wuss..!!
Tak lama sebuah cahaya muncul. Tepat setelah cahaya tersebut menghilang, terlihat dua muda-mudi melayang di sana lalu perlahan turun.
Mereka adalah Bai An dan Mu Xia'er.
“Aku merasa familiar dengan tempat ini,” gumam Bai An sambil melirik ke segala arah.
Mu Xia'er langsung tersenyum.
“Tempat ini adalah tempat kau menghilang yang mana membuat Ibu Ling Mei sangat terpukul,” kata Mu Xia'er memberikan jawaban atas rasa familiarnya.
__ADS_1
Di wajah Bai An tiba-tiba dari matanya keluar air mata. Ia membayangkan betapa sedihnya sang ibu.
10 menit kemudian Bai An agak merasa aneh, ia melirik ke arah Mu Xia'er.
“Apa cuma aku yang merasa tempat seindah ini sangat sepi?” Gumam Bai An dalam hati.
Mu Xia'er yang tahu apa kata isi hati Bai An langsung menjawab. “Tempat ini telah menjadi area terlarang yang tidak boleh di kunjungi oleh orang lain kecuali keluargamu sendiri.”
Hmm..!!
Tak lama Bai An merasakan ada dua orang sedang menuju kemari. Satunya Bai An dapat merasakan kekuatannya, tapi yang satunya membuat Bai An merinding. Karena ia tidak dapat merasakan atau melihat berapa banyak energi yang tersimpan di tubuhnya.
“Ayo sembunyi, ia datang kemari. Aku takut di anatar mereka tidak ada ibu.” Kata Bai An menarik Mu Xia'er ke arah semak-semak.
Mu Xia'er hanya cekikikan saja melihat tingkah Bai An. Itu karena tubuh Bai An ia rasakan sedang bergetar saking gugupnya.
Wuss..!!
Tak lama dua wanita tak kalah cantik dengan Mu Xia'er datang dengan wajah penuh tanda tanya.
Bai An yang melihat salah satu wanita itu tiba-tiba mengeluarkan air mata dan detak jantungnya bedetak kencang luar biasa.
“Kenapa aku menangis? Ini lagi, kenapa aku gugup, dan juga aku merasa familiar dengan wanita yang lebih tua itu,” gumam Bai An merasa bertanya-tanya.
Mu Xia'er hanya diam, ini pertemuan Bai An dengan ibunya. Jadi ia tak ingin ikut campur.
Ling Mei dan Bai Yin yang baru datang langsung melihat ke sekelilingnya.
“Tadi aku merasakan jika ada seseorang di sini? Tapi dimana?” Kata Bai Yin melirik kekiri dan kanan.
Berbeda dengan Ling Mei, awalnya ia juga sama. Tapi saat merasa ada yang aneh karena energi biru atau energi Semestanya tiba-tiba bergejolak ia langsung menangis.
“An'er ada di sini. Tapi kenapa ia bersembunyi? Apakah ia membenciku karena aku tidak bisa menjaganya.” Karena terbawa emosi kesedihan. Ling Mei langsung berpikir yang tidak-tidak.
Saat Ling Mei menatap ke salah satu arah. “Mu Xia'er, atau yang sekarang punya gelar Dewi Cahaya.”
Ling Mei langsung melirik ke arah Bai Yin. “Yin'er bisakah kau pulang lebih dulu? Ibu ingin menyendiri.”
“Tapi,” kata Bai Yin seperti enggan. Saat ia melihat wajah sedih ibunya. Bai Yin mengangguk pasrah, ia langsung pergi meninggalkan Ling Mei seorang diri.
Setelah merasa sepi. Ling Mei langsung berkata. “Di sini sudah tidak ada orang, atau apakah kau membenci ibu nak?” Tangis Ling Mei langsung pecah setelah ia mengatakan yang terahir.
“Bu.. Bukan begitu,” jawab Bai An dengan tubuh bergetar hebat. Bai An langsung berdiri saat ia menjawab tadi.
__ADS_1
Melihat wajah putranya. Ling Mei bukannya merasa senang. Tangis Ling Mei semakin jadi, ia menangis karena saat melihat wajah Bai An, ia merasakan rasa bersalah yang sangat besar, anaknya berjuang dari Bayi sampai sekarang tanpa kasih sayang seorang ibu. Betapa sakitnya hati Ling Mei.
Melihat putranya berjalan dengan tubuh bergetar. Ling Mei juga merasakan hal yang sama seperti putranya saat ia pertama kali melangkahkan kakinya.