
“Hehe,, hanya membantu membunuh 3 tetua luar dan memberikan beberapa kalimat saja sudah bisa mendapat masukan yang lumayan banyak.”
Setelah bergumam Bai An kemudian menghilang lalu muncul di tempat ia pertama kali datang, itu tak lain pilar aula.
“Hmm..!! Kenapa mereka semua sangat bodoh,” gumam Bai An melihat mereka hanya saling menatap dengan penuh kemarahan tanpa adanya pertarungan.
Tak lama Bai An menyeringai saat merasakan kedatangan Duan Du.
Bai An langsung memberikan Duan Du beberapa rencana.
Sementara Duan Du tiba-tiba berhenti.
“Hehe,, rencana berubah, saat ini kau masuk dan berteriak penuh kemarahan bilang jika yang membunuh kakakmu adalah pengikut tetua pertama,” kekeh Duan Du melirik ke arah Dhe Peng.
Dhe Peng mengangguk patuh dan ia tiba-tiba tersenyum penuh dendam.
“Klan Dhe,, ini saatnya kehancuran kalian karena telah membunuh ibu dan adikku,” gumam Dhe Peng di penuhi oleh dendam.
Setelah itu Dhe Peng langsung melesat tanpa menunggu perintah dari Duan Du yang kini menjadi Tuannya, karena saat ini Dhe Peng adalah budaknya.
Wuss..!!
Duar..!!
Pintu gerbang aula langsung hancur.
Tap tap..!!
Tatapan mata Dhe Peng langsung mengarah ke ketiga mayat tetua luar lalu mengarah ke arah tetua inti pertama.
“Kau,” tunjuk Dhe Peng. “Ayah, dialah yang membuat rencana dengan menyuruh ketiga tetua luar ini membunuh kakak pertama lalu mempitnah aku sebagai pengkhianat, beruntung aku dapat melarikan diri berkat bantuan dari seorang senior,” teriak Dhe Peng menunjuk ke arah tetua inti pertama.
Patriark Dhe langsung menatap ke arah Dhe Thu dengan tatapan membunuh.
“Benar ucapan orang itu jika kau adalah dalang kematian putraku,” kata patriark Dhe dengan dingin.
Tapi Patriark Dhe masih tetap berdiri menunggu intruksi dari Bai An.
Bai An yang melihat itu langsung menepuk keningnya.
“Aku lupa jika telah menyuruhnya menunggu intruksiku jika ingin bertarung, tapi aku tak menduga jika ia benar-benar sepenuhnya patuh dan mendengar ucapanku,” kekeh Bai An memikirkan sesuatu.
Sementara Dhe Peng kini diam sambil melirik ke arah Duan Du di kejauhan.
__ADS_1
Duan Du kini melirik ke arah kakaknya Bai An menunggu apakah langsung bertarung atau tidak.
Bai An kini tersenyum kecil.
“Patriark Dhe, bawa mereka keluar, jangan bertarung di sini karena akan merusak aula yang susah-susah di bangun,” kata Bai An sambil memberi isyarat kepada Duan Du.
Duan Du langsung mengangguk.
Dengan cepat Duan Du melesat ke arah salah satu tetua inti sambil mengayunkan pedangnya.
Crash..!!
Tetua inti tersebut walau tingkatannya sedikit lebih tinggi dari Duan Du, tapi karena tidak siap menerima serangan tersebut, ia mati dengan mata melotot.
“Hehe,, lemah, hanya mengandalkan tingkat kultivasi saja tidak menjamin kau bisa menang,” kekeh Duan Du.
Semua orang langsung tertegun melirik ke arah Duan Du, karena mereka sebelumnya tidak menyadari keberadaan Duan Du.
Sementara patriark Dhe langsung memanfaatkan kesempatan tersebut mengikuti intruksi Bai An.
Dengan cepat patriark Dhe melesat ke arah tetua pertama sambil mengayunkan tombaknya.
“Mati,” teriark patriark Dhe.
Trank..!!
Tetua pertama langsung terpental menuju luar aula.
Para pengikut patriark Dhe yang melihat itu langsung bergerak cepat menyerang pengikut tetua pertama.
Sementara para tetua inti yang mengikuti tetua pertama langsung mengejar Duan Du keluar.
Dhe Peng yang memiliki kekuatan tidak terlalu tinggi kini melesat keluar membantai para prajurit klan Dhe, hanya saja ia tidak membunuh anak-anak dan wanita karena ini adalah perjanjiannya dengan Duan Du.
Dalam sekejap suara pertempuran dan ledakan menggema yang langsung mengundang orang-orang yang kebetulan melewati kediaman klan Dhe.
Tak berapa lama sebuah berita menyebarnya pertempuran sesama klan Dhe membuat beberapa klan menengah yang kebetulan mengincar klan Dhe berdatangan.
Mereka terlihat menunggu pertarungan berahir dan memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuh sisa-sisa klan Dhe.
Total ada 3 klan menengah yang datang, mereka bertiga saling melirik dengan beringas karena mereka bertiga juga bermusuhan.
Bai An yang berada di sekitar mereka kini tersenyum licik, karena perkiraannya benar jika mendengar sebuah pertarungan, pasti musuh klan Dhe akan memanfaatkan kesempatan ini.
__ADS_1
Maka dari itu tadi Bai An sengaja menyuruh patriark klan Dhe bertarung di luar agar suara pertarungan mereka dapat dengan jelas terdengar.
“Hehe,, ternyata memancing harta ku yang telah lama tidak terlihat akhirnya dapat terlihat,” gumam Bai An dengan mata berbinar-binar.
Sementara Duan Du yang merasakan beberapa orang dengan niat membunuh mengintai langsung menyeringai licik.
“Hehe,, hartaku oh hartaku,, datanglah lebih banyak lagi,” kata Duan Du sedikit berteriak bahagia.
Musuh-musuh yang mendengar Duan Du langsung mengira jika Duan Du ini adalah orang gila.
Sementara Dhe Peng yang mendengarnya di kejauhan langsung berkeringat dingin karena kejadian ini persis dengan dirinya dan kakaknya yang sengaja membuat keributan kepada Duan Du di restaurant.
“Aku yakin jika mereka semua yang ingin membuat masalah kepada Tuan muda Du akan berahir tragis,” gumam Dhe Peng bergidik ngeri, walau ia tahu kekuatan Duan Du tidak tinggi, tapi ia yakin jika ada orang di belakang Duan Du yang jauh lebih gila dari Duan Du.
Dugaan Dhe Peng benar, orang gila tersebut kini berada di sekitaran penonton, ia tak lain adalah Bai An.
Bai An yang menyatu tidak menyadari jika dua pelindungnya juga ada di sekitarnya dengan tubuh bergidik ngeri.
“Saudara San, aku yakin jika dunia ini tak lama lagi akan kacau dengan seiringnya kekuatan Tuan muda meningkat,” kata Mu Wen melalui telepati.
“Hmm..!! Kau benar, suami nona ini sungguh mengerikan, bahkan aku tak menduga jika ia sangat gila harta dan sangat cerdik walau tingkat kultivasinya tidak terlalu tinggi, tapi dengan otaknya yang encer ia bisa mempermainkan sekaligus 4 klan menengah,” kata Mu San.
“Sungguh mengerikan bisa membuat 4 klan menengah mengikuti permainan Tuan muda.” Kekeh Mu Wen sambil melirik ke arah Bai An.
Saat ini Patriark klan Dhe bertarung melawan tetua pertama dan tetua kedua, walau terlihat seimbang, tapi terlihat jelas jika tetua pertama dan tetua kedua kewalahan melawan patriark klan Dhe yang memiliki pengalaman bertarung.
Terlebih tingkat kekuatan patriark klan Dhe kini berada di Ranah Master ⭐ 5 Puncak dan tetua pertama berada di ranah Master ⭐ 5 Awal dan tetua kedua ranah Master ⭐ 4 Puncak.
Untuk klan menengah kekuatan tertinggi patriarknya adalah ranah Master, berbeda dengan klan Besar.
Saat ini patriark klan Dhe menyeringai saat pedangnya terayun ke arah tubuh tetua pertama.
“Mati,” teriak patriark Dhe.
Tetua pertama langsung menarik tetua kedua yang kebetulan berada di sampingnya dengan tubuh terluka.
Crash..!!
Akhh..!!
Mata tetua kedua melotot ke arah tetua pertama sebelum ia menutup mata untuk selamanya.
Patriark Dhe langsung mendengus melihat tindakan pengecut tetua pertama.
__ADS_1
“Kali ini tidak ada tempat kau berlindung lagi,” kata patriark Dhe dengan nada dingin.