
Setelah itu She Dap berteriak keras. “Pemenang Batu ini adalah tamu dari VVIP no 10.”
Setelah itu seperti biasa She Dap menyuruh pelayan membawakan batu tersebut kepada Bai An yang ada di ruangan VVIP no 10.
Orang-orang yang cukup benci dengan Bai An kini menatap ke arah Bai An dengan tatapan benci, dan serakah.
Bai An yang kini bersama para saudaranya tersenyum sinis.
“Hehe,, aku sudah tidak sabar menjarah seluruh yang menempel di tubuh calon mayat-mayat ini,” kekeh Cen Tian.
Fang Liu mengangguk. “Kalau aku tidak sabar ingin memperkuat diriku, karena dengan bertarung, aku merasa semakin kuat,” kata Fang Liu.
“Baiklah,, aku serahkan mereka semua kepadamu, sedangkan aku akan mengurus bisnis kecil yang tak lama lagi datang,” kata Bai An melirik ke arah Long Yuan.
“Yah,, aku hanya jadi pengamat yang baik saja,” kata Long Yuan sambil mengangkat bahunya.
She Dap terdengar kembali bersuara.
“Baiklah, untuk barang 4 dari 5 barang utama kali ini adalah senjata.”
She Dap menatap semua orang yang terlihat tidak sabar menunggu barang apa itu, tapi tak sedikit menunggu lelang ini berahir karena sudah menargetkan seseorang.
“Barang ke empat utama ini adalah sebuah pedang yang di temukan oleh kultivator bebas yang tak ingin di sebutkan namanya,” kata She Dap langsung mengeluarkan pedang dari peti yang sudah ada di depannya.
Wuss..!!
Sebuah cahaya putih langsung keluar dari pedang tersebut menyinari seluruh ruangan di pelelangan.
Bai An yang melihat itu langsung merasa familiar dengan pedang tersebut.
Sementara Long Yuan kini tertegun sesaat, sebelum kembali normal dan langsung melirik ke arah Bai An.
“Itu pedang yang mirip di pakai oleh kakekmu dulu saat ia menjadi penguasa alam dewa,” kata Long Yuan sedikit ragu. “Tapi pedang itu sangat kuat dan pedang yang ada di lelang ini sangat lemah, mungkin di jika di bandingkan maka, pedang di lelang ini hanya mengambil 5% kekuatan pedang yang di pakai kakekmu.”
__ADS_1
Bai An yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
“Apa pedang ini tiruan?” Gumam Bai An, lalu menambahkan. “Tapi kenapa aku merasa familiar dengan pedang ini, seperti jiwaku dengan pedang ini terhubung.”
Long Yuan yang mendengar gumaman Bai An langsung mengerutkan keningnya hingga ke alisnya.
“Apakah pedang ini di segel oleh kakekmu Tuan muda?” Kata Long Yuan menebak-nebak.
“Bisa jadi, lebih baik kita pastikan saja saat mendapatkannya,” kata Bai An tersenyum melirik ke arah semua ruangan yang terlihat menginginkan pedang tersebut juga.
“Hmm...!! Pedang yang di pakai kakek mu bernama pedang Ashura Suci, yang melambangkan membasmi kejahatan,” kata Long Yuan menjelaskan.
Bai An mengangguk santai.
Kemudian melirik ke arah pedang berganggang putih dan bagian sisinya bewarna hitam pekat, untuk bagian bilasannya berbentuk pedang biasanya. Terlihat ada ukiran kecil terlihat tidak terlalu jelas karena karatan dan berdebu.
Tidak jauh dari ruangan Bai An. Ruangan VVIP no 8 kini menatap pedang tersebut dengan semangat. “Aku harus mendapatkan pedang ini,” gumam Bhe Lut dengan penuh tekad.
Sementara Bho Lot kini menatap pedang tersebut dengan senyum cerah, ia kemudian melirik ke arah ruangan Bai An.
Bahkan suara terdengar oleh Bai An dan para saudaranya yang terlihat hanya mengeluarkan senyum sinis, namun tidak ada yang dapat melihat Bai An dan para saudaranya tersenyum.
Sementara ruangan VVIP no 1 yang tak pernah membuka suara kini terlihat jika ada dua orang yang ada di ruangan tersebut.
“Hmm..!! Apa kau yakin jika dia ada di kota ini?” Tanya salah satu pria muda berparas tampan, namun jika di lihat dari usia tulangnya, maka orang-orang pasti akan terkejut, karena usianya sangatlah tua.
“Jika belum di coba maka kita tidak akan tahu, tapi aku yakin jika orang yang kita cari ada di sini,” kata pemuda sedikit lebih tua.
“Hmm..!! dengan memancingnya menggunakan pedang Tuan ini, sepertinya tak akan berhasil karena ia pasti tak akan tahu bentuk pedang yang di pakai oleh tuan,” kata pemuda itu dengan sedikit ragu.
“Kau tenang saja, aku yakin ia akan tahu karena ada sesikit jiwa Tuan di pedang tersebut, walau pedang ini sudah di segel oleh tuan, tapi aku yakin orang yang kita cari dapat merasa terikat dengan pedang ini,” kata pemuda sedikit lebih tua, ia terlihat meyakinkan saudaranya.
“Hmm..!! Baiklah, kali ini aku akan percaya denganmu, jangan seperti dulu, jika bukan karena ulahmu, maka kita tidak akan berpisah dengan dua teman kita,” kata pemuda tampan sedikit mendengus.
__ADS_1
“Hehe,, bukankah 3, kenapa kau menyebut 2,” kata pemuda sedikit lebih tua dengan nada sedikit bercanda.
“Heng,, aku benci pengkhianat, walau ia sudah mati dan tidak di ketahui siapa yang membunuhnya di dunia setengah dewa, aku tetap kurang puas jika aku sendiri tidak membunuh Zin Ho itu,” kata pemuda tampan itu terlihat matanya mengeluarkan kilatan niat membunuh yang cukup besar.
“Sudah,, lupakan saja, aku yakin teman kita Zin Ho melakukan ini semua akibat terpaksa keluarganya di tahan.”Kata pemuda lebih tua mencoba membela Zin Ho.
“Heng,, apapun itu, pengkhianatan tidak boleh ia lakukan, walau mengorbankan keluar sekalipun, terlebih keluarganya itu aku yakin memang sengaja bekerjasama agar memanfaatkan Zin Ho.” Kata pemuda tampan sedikit meredakan amarahnya.
Mereka berdua kini menatap ke arah She Dap yang selalu mengeluarkan senyum karena kini sedang terjadi tawar menawar dan adu mulut.
“Klan Feng, menginginkannya 10 juta kristal berlian,” teriak dari balik VVIP no 6.
“Hehe,, kalian semua sangat miskin, aku menawar 30 juta kristal berlian,” ejek Bai An secara terang-terangan.
“Heng,, aku menawar 50 juta kristal berlian,” teriak Bhe Lut.
“60 juta,” teriak dari balik VVIP no 6 lagi, suaranya terdengar sedikit berat, karena sedang menggertakkan giginya menahan amarah.
“100 juta kristal berlian,” kata Bai An santai.
“Kau..!!”
Terdengar suara ruangan dari VVIP no 6 dan VVIP no 8 bersamaan menunjuk ke arah ruangan Bai An.
“Aku pasti akan mencincangmu setelah acara lelang ini berahir,” teriak Bhe Lut dengan lantang.
“Hoho,, karena tidak mempunyai uang, jadi kau mengancamku agar aku mengurungkan niat untuk membeli pedang ini,” kekeh Bai An.
“Sungguh naif sekali calon mayat seperti dirimu yang tidak lama lagi menjadi sesongok sampah,” ejek Bai An.
“Hehe,, anak ingusan seperti dirimu bisa apa?” Kekeh Bho Lot ikut memanasi.
“Benar Tuan Bho,, aku yakin jika ayah dan ibunya kesinipun, mereka juga tak lebih dari sampah di mataku,” kekeh Bhe Lut.
__ADS_1
“Apakah yang kau ucapkan itu benar?” Kata Bai An lalu menambahkan. “Cukup dengan satu jariku saja kau sudah menjadi debu, apalagi ayah dan ibuku, hanya dengan helaan nafasnya saja mungkin kau sudah tidak bisa merasakan apakah kau hidup atau sudah mati karena tidak sadar.
“Buktikan ucapanmu saat lelang berahir nanti,” dengus Bho Lot dengan kata-kata menantang.