
“Saatnya kau mengerahkan semua bawahanmu, karena besok saat pelelangan yang kau buat akan ada pembantaian masal.”
Mendengar suara tersebut, Ling Qie memberanikan diri mengangkat kepalanya.
Saat Ling Qie melihat seorang pemuda dengan wajah tampan di depannya, ia tertegun, tak terasa air liurnya langsung jatuh karena tak bisa menahan nafsunya.
Pemuda tampan yang bernama Wen Dongyun langsung maju lalu mengusap air liur Ling Qie menggunakan mulutnya.
Seketika terjadi pertempuran antar lidah, Wen Dongyub yang bejat tentu langsung menerkam Ling Qie.
3 jam telah berlalu, saat ini tengah malam.
Wen Dongyun dan Ling Qie mengekan pakaian mereka masing-masing di sertai senyum.
Wen Dongyun baru kali ini merasakan tubuh wanita lagi, ia sudah jutaan tahun tidak pernah merasakan hal tersebut karena lebih mementingkan memulihkan lukanya.
Sementara Ling Qie tersenyum karena puas, bahkan saat ini ia ingin mengulanginya lagi, tapi ia tak berani.
Rasa takutnya melebihi hasratnya.
Saat ini Wen Dongyun menatap ke arah Ling Qie.
Ling Qie yang menyadari hal itu langsung tersenyum mesum, lalu pergi menjalani tugasnya.
Setelah kepergian Ling Qie, Wen Dongyun langsung menghilang dari sana, ia pergi ke Kekaisaran Ling untuk memuaskan nafsunya lagi.
***
Sementara di kediaman cukup besar namun sederhana, Bai An, Duan Du dan Tu Long kini berkumpul di meja makan.
Setiap waktunya makan, mereka bertiga di perbolehkan keluar hanya untuk makan bersama keluarga.
Para saudara Bai An dan bawahannya pun ikut berkumpul makan.
“An'er, setelah makan ibu ingin bicara denganmu bersama Xing'er,” tiba-tiba saat sedang makan Ling Mei membuka suara.
Bai An yang mendengar itu mau tak mau mengangguk patuh, ia juga ingin membahagiakan ibunya yang selama ini selalu menderita.
Entah kenapa Bai An tak tega menimpali ibunya bilang tidak, walau ibunya marah, tapi Bai An tahu jauh di lubuk hati ibunya yang paling dalam ia sedang sedih.
__ADS_1
Itulah yang Bai An tak ingin lihat, ia ingin melihat senyum ibunya setiap hari tanpa adanya kesedihan.
Sementara Xi Xing, kini ia terlihat malu-malu, Xi Xing terus menunduk tanpa berani melihat ke arah Bai An.
Hal tersebut membuat yang lain merasa gemas kepada Xi Xing, termasuk Ling Mei yang semakin bertekad untuk menikahkan Xi Xing dengan putranya Bai An.
Mereka semua makan dengan lahap sambil mengobrol masalah yang tidak jelas.
Setelah setelah selesai makan, semua kembali ke lokasi masing-masing dengan alasan istairahat, padahal mereka semua berencana untuk mengintip pembicaraan Bai An, Ling Mei dan Xi Xing.
Saat ini Bai An dan Xi Xing duduk bersebelahan, sementara Ling Mei berada di depan mereka berdua.
“Baiklah, tentukan dengan pasti waktu pernikahan kalian,” kata Ling Mei tanpa basa basi.
Bai An yang mendengar itu langsung melirik ke arah Xi Xing.
“Kalau aku terserah Xing'er, ia juga pasti belum mengabari keluarganya masalah ini,” kata Bai An sambil tersenyum tulus ke arah Xi Xing.
Wajah Xi Xing seketika memerah, walau ia tidak melihat ke arah Bai An, tapi ia tahu dengan pasti jika Bai An sedang tersenyum.
Ling Mei yang mendengar itu mengangguk lalu melihat Xi Xing malu-malu, tak lama ia menjadi sedih.
“Kalian berdua akan menikah satu bulan lagi, dan selama satu bulan kalian tidak boleh bertemu maupun saling melihat. Untuk masalah keluarga Xi Xing, jangan bertanya lagi tentang itu, karena keluarganya adalah kita.”
Sementara Xi Xing langsung mengangkat wajahnya, ia berlari lalu memeluk Ling Mei sambil menangis.
“Terimakasih bu, telah menerima Xing'er, terimakasih juga buat An'Gege yang mau menerima Xing'er apa adanya,” kata Xi Xing menangis haru.
“Xing'er janji akan menjadi istri yang baik dan patuh, Xing'er tidak akan mengecewakan kalian semua,” kata Xi Xing sambil menggenggam erat tangannya.
Ling Mei langsung mengusap rambut Xi Xing dengan lembut, tatapan Ling Mei mengarah ke putranya, mengisyaratkan agar ia segera pergi.
Bai An langsung pamit pergi.
Semua keluarga Bai An, ayah, kakek, bibi, paman, kakak, para saudara angkat maupun bawahan hanya bisa tersenyum kecut melihat adegan tersebut.
Mereka mengira akan ada adegan spesial yang seru untuk di tonton, namun mereka harus kecewa bahwa itu hanya angan-angan saja.
Setelah tidak ada yang perlu di lihat, semua keluarga Bai An langsung pergi ke tempat mereka masing-masing.
__ADS_1
***
Kembali ke Bai An.
Bai An kini telah berada di luar kediaman keluarganya, tepatnya ia kini berkumpul bersama para saudaranya.
Mereka semua terlihat menunggu beberapa saudaranya yang belum datang.
Setelah semua datang, Bai An yang duduk perlahan berdiri sambil melirik ke arah mereka semua satu persatu.
“Mulai besok, akan ada kejadian berdarah, ingat..! Bunuh semua musuh yang pantas di bunuh, jangan sampai ragu, jika ada keraguan maka kalian lah yang mati di tangan musuh.” Kata Bai An.
Semua orang mengangguk paham.
“Setelah semua perang berahir, kalian bebas memilih pergi, aku juga sudah memberitahu kalian apakah ingin menjadi seorang penguasa di setiap dunia, itu adalah pilihan kalian, aku tak akan memaksa, aku hanya ingin Alam Semesta tempat kita ini menjadi agak tenang dan sedikit damai.”
Bai An menjeda ucapannya, ia langsung meminum araknya dengan perlahan-lahan.
“Mungkin setelah perang berahir, aku bersama keluargaku akan kembali ke dunia terpencil tempatku di besarkan dulu, atau mungkin ke dunia yang lain,” kara Bai An.
Padahal sebenarnya ia akan pergi ke Alam Semesta Inti bersama beberapa orang, Bai An sengaja berbohong karena ada alasan tertentu.
Bai An kembali berkata. “Ingat, jangan sampai mati dalam perang ini, walau kita berbeda ras, kita harus saling membantu, kita semua adalah keluarga.”
Setelah mengatakan hal tersebut Bai An langsung menghilang.
Sementara para saudara Bai An mengangguk paham.
Tentu mereka pasti akan saling membantu, walau mereka semua berbeda ras, mereka sudah menganggap diri mereka berkeluarga.
Mereka juga yang tak punya tujuan akan melakukan tugas terahir atau permintaan terahir Bai An, yaitu menjaga salah satu dunia agar tetap damai.
Mereka semua juga sudah menganggap Bai An adalah raja mereka, mereka semua menjadi dewa akibat bantuan Bai An.
Bantuan berupa sumberdaya, di selamatkan, walau di perbudak juga mereka merasa senang karena mereka kini tahu apa arti persaudaraan dan kekeluargaan.
Di dalam benak mereka masing-masing, Bai An adalah Rajanya Para Dewa. Mereka akan terus mengingat hal itu sampai memberitahu keturunan mereka teus berlanjut tiada henti agar tidak terputus tentang sejarah Bai An.
Setelah Bai An pergi, mereka semua saling memandang, semua orang yang telah Bai An temui dalam perjalanannya ada di sini, mau iblis, setengah iblis, Elf, manusia, binatang surgawi, monster.
__ADS_1
Mereka semua berkumpul untuk perang besok.
Terpancar di wajah mereka semua bersemangat dan tidak sabar menantikan hari esok, walau saat ini tengah malam.