Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Persiapan pelatihan terahir.


__ADS_3

Hutan Kegelapan...


Saat mereka sedang asik membicarakan tentang Shen Linlin yang menjadi murid Lang Zai, Bai An tiba-tiba mendengar Shen Bai berbicara melalui telepati.


"Nak, jika kau lama disini untuk melatih mereka, aku ingin kembali ke gua saja untuk memulihkan kekuatanku.!"


"Hmmm jika itu yang paman inginkan baiklah!" jawab Bai An melalui telepati.


"Baiklah, kabari aku jika kita akan keluar hutan atau berangkat ketujuan yang akan kau tuju!" ucap Shen Bai lalu menghilang diatas kepala Bai An tanpa menunggu jawaban dari Bai An.


Tak ada yang menyadari Shen Bai yang tiba-tiba pergi, kecuali Long Yuan tapi ia tak bertanya kepada Bai An, karena ia berpikir itu masalah pribadi mereka berdua.


Tak lama tiba-tiba Cen Tian, kakak angkat Bai An mendekat ke arah Bai An.


Cen Tian terlihat ragu-ragu saat berjalan ke arah Bai An, namun ia memberanikan diri. Setelah sampai Cen Tian langsung menarik kerah baju Bai An.


Bai An yang kerah bajunya ditarik kakaknya bingung lalu bertanya, "Ada apa kak Tian?"


"A...Anu I...Itu!" Cen Tian terlihat gugup ingin memberitahu apa yang ia ingin katakan.


Melihat kakaknya gugup, Bai An langsung mengerti lalu memberitahu yang lain jika ia pergi sebentar bersama kakaknya.


"Yue'er, Long Yuan, Lang Zai, Luan'er dan Lin'er. Aku pergi sebentar karena ada hal pribadi yang akan ku bicarakan bersama kakakku!" tanpa menunggu jawaban dari yang lain Bai An langsung melesat bersama Cen Tian.


Yue'er langsung cembrut karena ia terlihat ingin membalas ucapan Bai An.


Sedangkan yang lain hanya mengangguk yang terlihat patuh.


Saat ini Bai An dan Cen Tian berhenti disebuah bukit yang terlihat lumayan luas.


Tanpa basa-basi terlihat Bai An langsung bertanya.

__ADS_1


"Apa yang ingin kakak bicarakan, disini sudah tidak ada orang!" ucap Bai An tersenyum ramah.


Cen Tian terlihat mual-mual, ia kesal karena dibawa tiba-tiba oleh Bai An. Namun, saat mendengar suara adiknya yang bertanya langsung keintinya, ia menjadi tegang dan ragu-ragu dalam menjawab.


Melihat kakaknya kembali ragu, Bai An hanya menghela nafas panjang.


"Jangan ragu kak, aku tahu sebenarnya yang ingin kakak bicarakan. Namun aku ingin mendengarnya langsung dari ucapan kak Tian agar An'er bisa melihat apakah kak Tian serius atau hanya ucapan saja!"


Mendengar kata-kata Bai An, Cen Tian langsung menatap adiknya dengan serius, terlihat kini Cen Tian mendongak ke arah Bai An dengan tatapan penuh tekad.


"Aku juga ingin berlatih, walaupun bakatku tidak ada atau dikatakan bakat cacat dalam berkultivasi. Aku juga ingin berjuang bersamamu An'er, ingin menjadi pelindungmu, ingin menjadi tembok terhadap orang-orang yang ingin mencelakaimu, aku aku!"


Cen Tian tiba-tiba terdiam lalu menggenggam tangannya erat-erat.


Melihat hal tersebut Bai An menjadi sedih karena ia tahu apa yang akan dikatakan Cen Tian disaat kata-kata terahirnya, Bai An juga secara tiba-tiba ikut mengepalkan tanganya erat-erat dan berkata.


"Ya aku juga sama sepertimu kak Tian, tidak ingin berpisah dari orang-orang kita sayangi, tidak ingin kehilangan orang-orang yang kita cintai."


"Ya aku tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali, hanya menjadi kuat kita bisa saling menjaga!" balas Cen Tian.


Bai An mengangguk, "Kak Tian aku bisa melihat bakat terpendam dari dalam diri kakak, bakat itu adalah sebuah tekad, ketegasan, keberanian tanpa kenal takut mati, dan sebuah perjuangan, itulah bakat kakak yang tersembunyi dan itu juga yang selama ini menjadi motivasi ku, An'er bisa begini karena melihat bakat kakak tersebut."


Kata-kata dari Bai An membuat Cen Tian tersenyum, ada rasa bangga saat ia mendengar kata-kata dari adiknya.


"An'er aku ingin berlatih tapi aku rasa kamu tidak cocok melatihku, aku ingin dilatih oleh senior Long Yuan, karena ia terlihat tegas, itu cocok untukku. Apakah kau bisa memberitahu ini kepada senior Long Yuan!" ucap Cen Tian malu-malu.


Bain An hanya terkekeh kecil saat mendengar hal tersebut, ia tahu pasti kakaknya akan memilih Long Yuan, kalau ditanya siapa yang akan dipilih diantara semua saudaranya ia pasti tetap pada pendirian akan memilih Long Yuan, walaupun Cen Tian diancam sekalipun.


"Saudara Yuan pasti akan bahagia saat mendengar kalau kakak Tian akan menjadi muridnya, An'er bisa pastikan itu!" jawab Bai An yang terlihat memberi jawaban atas permintaan Cen Tian.


"Terimakasih An'er!" ucap Cen Tian bersemangat hingga melompat-lompat kesana-kemari seperti anak kecil mendapat hadiah permen dari orang tuanya.

__ADS_1


"Jangan berterimakasih kak Tian!"


"Sudah-sudah itu kata-kataku jadi jangan suruh aku mengambil kata-kataku lagi!" balas Cen Tian bersikerah.


Bai An hanya menghela nafas karena ia tahu Cen Tian kalau sudah tetap pada pendirian itu akan tetap kokoh, tidak bisa diruntuhkan walaupun nyawa bayarannya, itu juga yang ia suka dari kakaknya tersebut jadi Bai An hanya mengalah saja.


"Baiklah saatnya kita kembali, mereka pasti akan lama menunggu!"


"Tunggu-tunggu, jangan terlalu cepat, aku hampir pingsan tadi!"


Bai An mengangguk mendengar keluhan Cen Tian, ia teringat kakaknya masih pada ranah kelahiran *9 jadi ia hanya terkekeh saat mengingat kesalahannya tadi.


Beberapa saat kemudian, Bai An dan Cen Tian kini sudah berkumpul bersama, terlihat Yue'er terus cembrut melihat ke arah Bai An yang kini berada dihadapannya.


Melihat hal tersebut Bai An langsung berkata...


"Yue'er ini masalah masa laluku bersama kak Tian. Jadi An Gege harus membicarakannya secara pribadi, mengertilah!"


Yue'er langsung menunduk saat mendengar kata-kata Bai An lalu ia mengangguk.


"Yue'er mengerti An Gege, maaf jika sifat Yue'er tadi begitu!" balas Yue'er yang terlihat malu-malu karena kelakuannya seperti anak kecil.


"Tidak apa-apa, An Gege mengerti Yue'er begitu karena khawatir juga!" ucap Bai An lalu mengelus-elus kepala Yue'er, membuatnya Yue'er terlihat senang.


Shen Linlin melihat apa yang dilakukan Bai An cemburu, lalu ia melirik kearah Bai Luan yang teelihat sibuk berlatih jurus-jurus pedang dan tombak, itu membuatnya semakin kesal.


Bai Luan yang sedang mencoba berlatih jurus pedang dan tombak tiba-tiba merinding, ia merasa ada hewan buas yang menatapnya seolah-olah ia adalah mangsa.


Lalu Bai Luan melihat sekeliling, dan tepat pada pandangan terahir ia melihat Shen Linlin sedang menatapnya dengan tatapan lapar, itu membuat Bai Luan tanpa sadar melompat mundur.


Shen Linlin yang melihat Bai Luan melompat mundur salah mengartikan, ia semakin kesal lalu ingin mengejar Bai Luan namun tidak jadi karena mendengar sebuah suara tegas yang diberikan kepada mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2